BERITAKALTIM.CO-Bontang adalah sebuah kota di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 120km dari Kota Samarinda, berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Timur di utara dan barat, Kabupaten Kutai Kartanegara di selatan dan Selat Makassar di timur.
Letak geografisnya 0.137° LU dan 117.5° BT. Kota Bontang terdiri dari 3 kecamatan dan 15 kelurahan dengan luas wilayah 406,70 km² dan sebaran penduduk 428 jiwa/km². Total penduduk Bontang berjumlah 178.920 jiwa.
Semboyan Kota Bontang adalah kota TAMAN singkatan dari Tertib, Agamis, Mandiri, Aman, dan Nyaman.
Adapun penduduk asli Kota Bontang adalah Suku Kutai Guntung dan Suku Bajau yang hidup bersama dalam sebuah kampung kecil.
Namun setelah perkembangan Kota Bontang memiliki keberagaman suku bangsa seperti Bugis Jawa, Batak dan sebagainya. Mayoritas penduduk Kota Bontang memeluk agama Islam. Selain Islam, terdapat beberapa agama lain, yaitu Kristen, Hindu, Buddha, Katolik dan Konghucu.
Menurut Ketua Masata (Masyarakat Sadar Wisata) kota Bontang, Eko Satrya, secara umum Bontang terbagi 5 zona, yaitu : Kawasan Industri, Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung, Pesisir dan Pemukiman.
“Masing-masing kawasan tersebut memiliki potensi yang khas sesuai karateristik wilayah. Di wilayah industri terdapat pabrik/kilang gas alam cair yang beroperasi 24 jam,” kata Eko Satrya, pada BERITAKALTIM.CO, melalui surel (Surat elektronik), Kamis (4/1/2024).
Sedangkan Taman Nasional Kutai, lanjut Eko Satrya merupakan kawasan hutan lindung yang menjaga kelestarian beranekaragam hayati dan hewani, sebuah kawasan yang berkaitan erat dengan fungsinya sebagai paru-paru dunia dan pelestarian alam.
Pesisir merupakan kawasan sepanjang tepi laut dari ujung perbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara sampai Kabupaten Kutai Timur.
“Pemukiman adalah kawasan yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh mayoritas masyarakat Bontang yang terlokalisir di wilayah Bontang Baru dan sekitarnya,” ungkap Eko Satrya.
Dengan zona-zona dimaksud, maka potensi wilayahnya berbeda, seperti : zona Bontang Baru dan sekitarnya menjadi pusat perekonomian, kemudian zona pesisir yang mempunyai karateristik bahari memiliki potensi di sektor perikanan, jasa transportasi laut, bongkar muat dan wisata (hutan mangrove).
Sedangkan zona industri memberikan dampak Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), sehingga masyarakat sekitarnya mendapatkan prioritas untuk pelayanan sosial dan pembangunan lingkungan.
Bagaimana dengan potensi kemaritiman Bontang??? Dibutuhkan kebijakan Pemprov Kaltim untuk memberikan kewenangan kepada Pemkot Bontang dalam hal pembangunan, penataan dan pengelolaan kawasan maritim (laut) Bontang yang potensi pariwisatanya sangat besar.
“Dengan karakteristik wilayah tersebut tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk di eksplor (gali), di ekspos (publikasi) dan di eksibisikan (atraksi), namun itu menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengembangan kawasan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya,” papar Eko Satrya.
Hal itu disebabkan dengan disparitas penduduk yang tidak merata, sehingga dalam perencanaan dilakukan dengan pendekatan proporsional dan skala prioritas.
Berkaitan dengan itu Masata Bontang mengusung program Gerakan Pembangunan Berdaya Industri dan Pariwisata (Gerbang Berinta) 2024.
“Secara spesifik, program ini memberikan ruang yang luas kepada seluruh pemangku kepentingan baik di sektor industri maupun pariwisata yang di dalamnya ada UMKM dan Investasi sesuai visi misi Walikota/Wakil Walikota Bontang, Basri Rase – Hj Najirah, skala prioritas pembangunan yaitu Pariwisata, UMKM dan Investasi,” jelas Eko Satrya.
Program Gerbang Berinta ini, tambah Eko Satrya mendorong semua komponen untuk berperan aktif dalam proses pembangunan daerah, dengan mengarah pada tiga sasaran strategis yakni pertumbuhan, pemerataan dan berkelanjutan.
Untuk itulah guna mencapai sasaran tersebut perlu dilakukan integrasi pembangunan sektoral dan kewilayahan, salah satu fokus kewilayahan dengan memperkuat peran kecamatan dalam mengakomodasi pembangunan sektoral secara komprehensif, sinergi dan kolaborasi dalam kerangka penyelesaian permasalahan pembangunan dalam skala kecamatan melalui pendekatan kearifan lokal yakni semangat Bessai Berinta (Mendayung Bersama).
Hal itu merupakan salah satu dedikasi Gerbang Berinta dengan maksud memperkuat nilai nilai kebersamaan, gotong royong, musyawarah mufakat dan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar atau kampung sendiri untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam penyelenggaraan pembangunan.
“Selain itu inovasi terus dilakukan di berbagai sektor untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat,” tekan Eko Satrya.
Di Tahun 2024 ini, Masata Bontang mengusulkan tema pembangunan Bontang “Sinergi dalam Aksi, Kolaborasi dalam Akselerasi”, yang dimaknai bahwa pembangunan membutuhkan aksi dan partisipasi semua pihak yang sinergi, dengan mengoptimalkan segala sumber daya secara kolaborasi sehingga terwujud akselerasi.
“Melalui proses sinergi dan kolaborasi akan menjadi penguatan pada sektor pariwisata, UMKM dan investasi sebagai penopang perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat yang lebih lestari,” ujar Eko Satrya.#
Editor: Hoesin KH