BERITAKALTIM.CO-Perkembangan harga sembako menghadapi Hari raya Idul Fitri yang cenderung naik, membuat masyarakat resah, sehingga pihak pemerintah dalam hal ini Pemprov Kaltim mencarikan jalan untuk mengatasi kenaikan tersebut.
Kurangnya pasokan dari sentra penghasil yang mengutamakan pemenuhan kebutuhan lokal dapat mempengaruhi stabilitas harga di pasar regional.
Berdasarkan informasi yang ada di pasar, terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam analisis perbandingan harga pada minggu kedua dibandingkan dengan minggu kedua Maret dan pertama Maret.
Kenaikan Harga Komoditas pada minggu ketiga Maret, terjadi kenaikan harga yang signifikan untuk Beras Medium sebesar 3,80 persen, Kedelai sebesar 9,44 persen, Daging Ayam sebesar 4,73 persen, dan Cabai Merah Keriting sebesar 6,58 persen.
“Ini merupakan peningkatan yang cukup besar dalam rentang waktu yang singkat,” kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Menengah Kecil (PPKUKM) Heni Purwaningsih di Media Center Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kaltim, Jum’at (22/3/2024).:
Kenaikan harga ini, lanjut Heni Purwaningsih kemungkinan disebabkan oleh tingginya permintaan konsumen terhadap barang-barang kebutuhan pokok, seperti beras medium, kedelai, daging ayam dan cabai merah keriting.
Di sisi lain, kurangnya pasokan dari sentra penghasil juga dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan harga, terutama jika daerah produsen mengutamakan pemenuhan kebutuhan lokal terlebih dahulu.
“Meskipun terdapat kenaikan harga untuk delapan komoditas lainnya dalam rentang 0,56 persen hingga 9,44 persen, kenaikan yang signifikan pada beras medium, kedelai, daging ayam dan cabai merah keriting lebih menonjol,” ungkap Heni Purwaningsih.
Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor lain, seperti permintaan dan pasokan, mungkin memiliki dampak yang lebih besar pada kenaikan harga dua komoditas tersebut.
Ini menunjukkan pentingnya keberlanjutan produksi lokal, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan, serta mencegah lonjakan harga yang tidak terkendali.
“Dengan memperhatikan faktor-faktor di atas, perlu dilakukan analisis lebih lanjut untuk memahami dampak dari kenaikan harga tersebut, dan kemungkinan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengelola dampaknya secara efektif,” lanjut Heni Purwaningsih.
Mendorong petani dan peternak di sentra penghasil untuk meningkatkan produksi beras medium, kedelai, daging ayam dan cabai merah keriting guna memenuhi permintaan pasar lokal.
Ini dapat dilakukan melalui penyediaan bantuan teknis, subsidi input pertanian, atau pelatihan untuk meningkatkan efisiensi produksi.
“Mendorong diversifikasi sumber pasokan dengan mencari alternatif dari daerah lain atau melalui impor untuk mengimbangi kekurangan pasokan dari sentra penghasil utama,” papar Heni Purwaningsih.
Namun, lanjut Heni Purwaningsih, hal ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan keseimbangan, antara memenuhi kebutuhan konsumen lokal dan mendukung petani dan peternak lokal.
Di sisi lain, perlu penerapkan pengawasan harga untuk mencegah penyalahgunaan oleh pedagang, yang mungkin memanfaatkan situasi kenaikan harga untuk memperoleh keuntungan berlebihan.
“Langkah ini dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan otoritas regulasi pasar,” tegas Heni Purwaningsih sambil menguraikan langkah-langkah yang perlu diambil pemerintah diantaranya :
-Penguatan infrastruktur pasar, seperti fasilitas penyimpanan dan distribusi, untuk memastikan pasokan daging ayam dan cabai merah keriting dapat dijaga dengan baik dan dapat didistribusikan secara efisien ke pasar lokal.
-Membangun kemitraan yang kuat antara pemerintah, petani, peternak, pedagang, dan konsumen untuk mencari solusi jangka panjang yang berkelanjutan untuk mengelola harga dan pasokan beras medium, kedelai, daging ayam dan cabai merah keriting.
“Dengan mengambil langkah-langkah ini, diharapkan dapat mengurangi dampak kenaikan harga beras medium, kedelai, daging ayam dan cabai merah keriting bagi konsumen dan menjaga stabilitas pasar dalam jangka panjang,” ungkap Heni Purwaningsih.
Diakui Heni Purwaningsih, Pemprov Kaltim juga telah melakukan kegiatan yang bisa mengurangi kenaikan harga melalui, Kios SIGAP (Siap Jaga Harga dan Pasokan) yang merupakan bentuk kolaborasi dalam menangani persoalan harga dan pasokan.
“Kolaborasi antara tim TPID Kaltim, Pemkot Samarinda, Bank Indonesia, Bulog, Perusda MBS guna memperkuat upaya menjaga stabilitas ekonomi,” tambah Heni Purwaningsih.
Kios Sigap, ungkap Heni Purwaningsih, saat ini berada di Pasar Segiri dan segera akan dibentuk kegiatan serupa di Balikpapan.
Heni Purwaningsing menekankan menghadapi ramadhan stok mencukupi.
“Namun masih banyak masyarakat yang belum mengetahui akan keberadaan kios Sigap ini, disebabkan karena kurangnya promosi di kalangan masyarakat,” papar Heni Purwaningsih.#
Reporter : Yani|Editor: Hoesin KH