BERITAKALTIM.CO – Kunjungan Paus Fransiskus baru-baru ini ke Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, masih menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia. Sebab kehdiran pemimpin umat Katholik di seluruh dunia itu dinilai sebagai simbol toleransi antarumat beragama.
Paus Fransiskus tiba di Masjid Istiqlal pada Kamis (6/9/2024) pukul 09.15 WIB. Menggunakan kursi roda yang didorong oleh salah satu pengawalnya, Paus Fransiskus disambut hangat oleh
Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar saat berada di Samarinda menghadiri seminar internasional MTQ Nasional ke 30 di kota itu, kedatangan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal merupakan simbol kehidupan bertoleransi antar umat beragama.
“Kehidupan damai ini adalah dambaan banyak orang di dunia,” ujar Nasaruddin kepada Beritakaltim.co usai menjadi narasumber di Seminar Internasional MTQ Nasional ke-30 di UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda, tepatnya di Auditorium 22 Dzulhijjah, Senin (9/9/2024).
Menariknya, dalam pertemuan tersebut, Nasaruddin mengungkapkan bahwa percakapan dengan Paus Fransiskus dilakukan dalam bahasa Arab, bukan Inggris.
“Ketika bertemu, saya sempat menggunakan bahasa Inggris namun tidak direspon. Begitu saya menggunakan bahasa Arab, Paus langsung merespon, Ternyata beliau pandai berbahasa Arab karena sempat tinggal di Arab Saudi selama enam tahun. Sehingga kami berbicara menggunakan bahasa Arab tanpa penerjemah.” jelasnya.
Kejadian ini menunjukkan betapa Paus Fransiskus memiliki kedekatan dengan budaya dan bahasa Arab, yang tidak hanya memperkuat hubungan antaragama tetapi juga menunjukkan rasa hormatnya terhadap tradisi Islam.
Kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal juga diwarnai dengan momen kehangatan yang mengundang perbincangan publik. Dalam sebuah gestur yang tidak terduga, Nasaruddin mencium kepala Paus Fransiskus.
“Ketika melihatnya, saya seperti melihat orang tua saya,” ungkap Nasaruddin.
Di sisi lain, Paus Fransiskus beberapa kali mencium tangan Nasaruddin, meskipun Nasaruddin sempat berusaha menarik tangannya.
Momen ini memunculkan berbagai reaksi, Nasaruddin menjelaskan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari ajaran Islam untuk memuliakan tamu, sesuai dengan hadist yang menyatakan,
“Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” katanya.
Gestur ini dinilai sebagai contoh bagaimana nilai-nilai Islam yang luhur dapat diaplikasikan dalam konteks dialog antarumat beragama.
“Ini adalah bentuk penghormatan kita kepada orang tua kita. Jika saya mencium tangannya, nanti bisa menimbulkan kontroversi,” tambahnya.
Lebih jauh, Nasaruddin menegaskan bahwa terpilihnya Indonesia sebagai negara yang dikunjungi oleh Paus Fransiskus adalah pertanda baik.
“Kita bukan mayoritas Katolik, bahkan mayoritas umat Islam terbesar di dunia, tetapi Paus tidak pilih-pilih. Paus menjadikan negara kita istimewa,” tuturnya.
Kunjungan ini memberikan pesan penting bagi dunia internasional bahwa Indonesia mampu menjadi contoh perdamaian sejati, di mana semua agama dapat hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati. Kunjungan ini pun diharapkan dapat memperkuat hubungan antarumat beragama di Indonesia dan dunia. #
Reporter: Yani | Editor: Wong
Comments are closed.