BeritaKaltim.Co

Misi Operasi Obou Satu dan Dua, Tarakan dan Balikpapan

Merupakan Awal Kekalahan Jepang dan Belanda di Nusantara

BERITAKALTIM.CO-Balikpapan selayaknya patut menyandang kota sejarah, hal itu dibuktikan dengan sejumlah peninggalannya. Baik dari masa kolonial maupun peninggalan Perang Dunia II (PD II). Benda-benda bersejarah tersebut, tersebar di beberapa kecamatan dalam wilayah Balikpapan.

Peninggalan Sejarah tersebut sudah ditetapkan sebagai, Benda Cagar Budaya, yang harus dilindungi sesuai dengan Undang-Undang N0 11 Tahun 2010.

Kenapa Balikpapan layak disebut dengan kota Sejarah, hal itu dibuktikan dengan pristiwa “Sejarah” yang hampir terlupakan. Mungkin, banyak yang tidak mengetahui sejarahnya. Nah…? Sehingga penulis mengupas sedikit peristiwa sejarah tersebut, agar para generasi sekarang dapat memahaminya. Kalau daerah yang mereka tinggali saat ini (Balikpapan) menyimpan masa kelam bagi rakyatnya di masa itu.

Sebelum mengurai lebih jauh, sebaiknya kita dapat mengetahui siapa saja penjajah Bangsa Indonesia. Mungkin menurut pembaca atau kalangan pelajar menjawab, hanya Belanda dan Jepang. Sebenarnya yang menjajah Bangsa Indonesia, adalah enam bangsa, Pertama Portugis, Kedua Spanyol, Ketiga Belanda, Keempat Prancis, Kelima Inggris dan terakhir Jepang, keenam bangsa inilah yang pernah menjajah di Nusantara.

Masa Portugis (1509-1595) : Pada masa kekuasaa Portugis, di nusantara melalui Malaka dan kemudian melanjutkan ke Maluku. Ketika itu di pimpin oleh Alfonso Querque (Alfonso Alba Querque), mereka mencari rempah-rempah yang terdapat di Nusantara.
Kemudian Raja Portugal mengutus lagi “Diego Lopes Suquera” dalam misi persahabatan. Dengan maksud penguasaan daerah-daerah (1509), sehingga Portugis merupakan bangsa Eropa pertama tiba di Nusantara.

Masa Spanyol (1521-1692) : Nah.. ? setelah Portugis disusul Spanyol. Merupakan dua negara yang datang ke Nusantara pada abad ke 16, mencari dunia baru serbagai penghasil rempah-rempah terbesar. Spanyol pertama kali mendarat di Nusantara, di daratan ”Mesara” yaitu tepatnya di “Tidore” (Maluku) pada tahun 1521. Dengan misi penyebaran agama serta mencari rempah-rempah, sepereti halnya, apa yang dilakukan oleh Portugis.

Masa Belanda (1602-1942) : Pada awalnya Belanda masuk ke Nusantara mengatas namakan VOC (Verenigde Oostindesche Compagnier), dimulai pada abad ke 17, tidak berkuasa secara langsung. Melalui perusahaan dagang inilah Belanda mulai “monopoli” perdagangan dan aktivitas Kolonialnya, oleh pemerintah Belanda. Dengan pusat pemerintahannya berada di Batavia, tergabung dalam kongsi dagang, Belanda, China dan Inggris. (1602).

Dengan Misi VOC, Tiga G : yaitu Gold-mencari kekayaan, Gospel-mencari kekuasaan, Glory-mencari kejayaan VOC, bergerak hingga tahun 1609. Setelah itu VOC membuka cabang di Gowa. Dan Maluku di jadikan markas perdagangan VOC. Hingga pada akhirnya, dalam perjalanannya, Belanda telah menguasai sepenuh perdagangan dan kekuasaan VOC mulai melemah, menyusul 30 kapal perang Belanda (tahun 1660), menghancurkan armada-armada milik Portugis.
Kemudian Belanda/VOC, pada tanggal 18 November 1667, memaksa Sultan Hasanudin untuk menandatangi sebuah pengakuan yang terkenal dengan perjanjian “Bongaya atau Bongaja”.

Isi perjanjian itu terdiri 30 item, salah satu bunyinya adalah “ Makasar harus mengakui monopoli VOC, itulah kelicikan dan taktik Belanda masa itu.

Dengan berbagai cara menguasai, melancarkan politik adu dombanya memecah belah. Secara tidak langsung Belanda mengambil alih perdagangan VOC(1721), orang-orang Tionghoa (Chines) dilarang berniaga. Pada Tahun 1722, orang-orang Tionghoa yang tinggal di Nusantara berkisar 10-12 tahun, tidak memiliki “Izin Tinggal” di kembalikan ke Tiongkok. Dan melakukan sweeping pada malam hati, secara resmi VOC di bubarkan, semua aset-asetnya di kuasai Belanda, sejak 1 Januari 1800, dan dewan untuk urusan Asia sepenuhnya di pegang Belanda.

Masa Prancis (1806-1811) : Selum Prancis tiba di Nusantara, mereka terlebih dahulu mendaratkan Vasco de Gama, seorang pembesarnya di daratan New Delhi, sebuah pantai daratan Kalkuta (India), pada tahun 1497. Barulah Prancis tiba di Batavia pada 5 Januari 1808.
Untuk menggantikan mantan Gubernur Jenderal “Albertus Wiesie”, yang terlebih dahulu berada di Batavia, dengan tugas membangun jalan, perusahaan, administrasi, juga berhasrat menguasai rempar-rempah.

Maka sejak saat itulah Bangsa Indonesia sudah ditekan kaum kolonial, Pada itu Belanda dalam kekuasaan Prancis. Sehingga secara tidak langsung Indonesia juga di jajah Prancis. Misi Prancis sendiri merupakan bagian dari cita-cita “imperialisme” Napoleon Bonoparte, untuk menyebarluaskan hasil cita-cita “Revolusi Prancis” (1789-1799), dengan tujuan untuk Kebersamaan, Kesetaraan dan agar menghapus negara Monarki (Kerajaan).

Masa Inggris : (1811-1816), Tak mengherankan Inggris juga terpincut dengan Nusantara sehingga mengutus Raflles. Dalam misinya yang terkenal dengan menghapus perdagangan secara “Monopoli” dan “Tanam paksa” seperti yang telah di lakukan Belanda.

Kemudian Inggris mengubahnya dengan sistem lebih adil. Selain itu Indonesia juga tidak termasuk dalam negara persemakmuran, karena tidak termasuk kedalam kolonialnya.

Kekuasaan Inggris tidak berlangsung lama, kemudian Inggris menyerahkan kembali Indonesia ke Belanda berdasarkan “ Konvensi London”. Inggris menguasai Indonesia setelah dia, menang perang terhadap Prancis. Semenjak di bawah kepemimpinan Napoleon Bonaparte, sehingga Belanda secara tidak langsung di bawah kekuasaan Inggris. Walau kekuasaan
Inggris tidak berjalan lama, namun kekuasaan mereka telah terparti di hati Bangsa Indonesia, sebagai penjajah.

Masa Jepang : (1942-1945), Sebelum Jepang menguasai Nusantara, dia terlebih dahulu masuk di Kalimanatan Timur, melualui Utara Kaltim, yaitu Pulau Tarakan kemudian ke Balikpapan. Dalam gejolak perang Asia Pasifik yang dikenal dengan perang Asia Timur Raya, merupakan perang, Samudera Pasifik, dan pulau-pulau lainnya termasuk di Asia,
perang ini terjadi sejak 1937-1945, dan terdasyad, disebut dengan Perang Dunia II (PD II).

Hingga Jepang berada di Nusantara terlebih melalui jalur bagian Utara, Kalimantan Timur. Kemudian menguasai Tarakan, selanjut menguasai Balikpapan. Dalam perang Asia Pasifik (Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, Osenia Samudera, Pasifik dan Samuera Hindia). Terlebih dahulu menyerang Negara bagian Amerika, dengan pristiwa Pearl Harbour, pengeboman, pangkalan militer terbesar milik Amerika Serikat .
Pearl Harbour merupakan pangkalan armada laut Amerika Serikat (AS), yang terletak di Pulau Oahu, Haiti (Hawaii), pada Tanggal 7 Desember 1941. Peristiwa Pearl Harbour, telah menelan korban jiwa sebanyak 3000 orang lebih. Dan 20 kapal angkatan laut, sekitar 200 pesawat terbang rusak, dan 2400 orang dinyatakan tewas, termasuk warga sipil, dan 1000 orang lainnya luka-luka, dari sinilah awal kemurkaan AS terhadap Jepang.

Untuk memenuhi kebutuhan Perang Dunia II, dalam Perang Asia Pasifik, yang utama adalah kebutuhan Bahan Bakar (minyak). Karena ladang minyak di Kaltim, merupakan penghasil minyak terbesar, yaitu Tarakan dan Balikpapan. Dua daerah tersebut terlebih dahulu telah kuasai Belanda. Maka untuk merebutnya dari tangan Belanda, Jepang melakukan ekspansi dengan kekuatan bersenjata.

Pendaratan pasukan negeri Matahari dimulai dari pantai ujung Pulau Tarakan, sekarang dikenal dengan nama Pantai Amal, pada 9 Januari 1942. Bertujuan untuk merebut sumber minyak yang dikelola Kolonial Belanda. Agar Tarakan dapat direbut dan dikuasai, digempur dari berbagai arah, seluruh persenjataan dikerahkan, darat, laut dan udara, membuat Belanda tak berdaya dan sepenuhnya dikuasai pada 11 Januari 1945.

Tidak hanya menguasai Tarakan, juga berhasil menawan petinggi Belanda, serta mengultimatum, akan menguasai Balikpapan. Kemudian mengirim tawanan sebagai utusan, “jangan sekali-kali merusak atau membumi hanguskan Kilang Balikpapan, jika mengabaikan ultimatum, maka tawanan akan di bantai” bunyi ancaman itu. Ancaman tidak digubris olehnya, apapun bunyi ancaman tersebut Kilang minyak tetap dibakar.

Akibat tempat penimbunan minyak Balikpapan hangus terbakar, Jepang semakin murka dan beringas, menangkap ratusan tentara Belanda. Kemudian sebanyak 78 orang dijadikan tawanan digiring dengan kondisi terikat. Tawanan di bawa ke kawasan pantai Kelandasan. Penduduk disuruh menyaksikan ketika tawanan di bantai satu persatu dengan cara ditembak mati. Balikpapan seutuhnya dikuasai Jepang pada tanggal 23 Januari 1942.

Inilah awal dari kekalahan Belanda di, Tarakan dan Balikpapan, mengawali kekalahan Kolonial Belanda di Nusantara. Menyusul kekalahanya di Kali Jati, Subang, Jawa Barat.

Sehingga Batavia jadi kota terbuka dan tidak di pertahankan lagi. Kemudian Belanda mengakui atas kekalahnya pada Jepang, 8 Maret 1942. Sejak itulah Jepang menguasai Hindia Belanda dan berkuasa di Nusantara.

Kekuasaan Jepang di Nusantara tidak berjalan lama, kurang lebih 3,5 tahun. Merupakan akhir dari konflik perang Asia Pasifik (PD II), meletus pada 7 Desember 1941 hingga 1945. Untuk mengakiri konflik PD II tersebut, Amerika Serikat membentuk pasukan gabungan disebut dengan “Sekutu” (Inggris, Australi, Amerika dan di bonceng tentara NICA), untuk membalas peristiwa Pearl Harbor, dalam operasi Oubu I.

Operasi, bersandi Oubu I, merupakan panggung pertama pihak tentara gabungan (Sekutu), di Borneo (1945). Dengan daerah sasaran pertama Pulau Tarakan, didahului dengan menerjunkan pendaratan tempur lapis baja (Amphibi), serta mengerahkan seluruh kapal perang. Juga di dukung dengan sejumlah kapal penyapu ranjau, miliki tentara gabungan
Sekutu, dimulai pada tanggal 1 Mei 1945.

Operasi Obou I, di Tarakan, menghancurkan sejumlah sumur minyak dan terbakar dijatuhi dibom dan korban jiwa. Sebelumnya Jepang, sudah mengantisipasinya, membangun sejumlah benteng pertahanan. Membuat Bunker, Goa, memasang penangkal dari serangan udara, baik di perbukitan, maupun pantai. Salah satunya di Mamburungan.

Kemenangan berada di pihak Sekutu, namun hal itu belum setimpal dari peristiwa Pearl Harbor di USA.
Setelah berhasil menguasai Tarakan, Sekutu melanjutkan Operasi dengan sandi Oubu II, ke Balikpapan. Namun untuk menguasai Balikpapan, tidak semudah apa yang diperkirakan. Misi ini cukup berat (operasi Oubu II), Sekutu tidak akan mengulangi kecerobohan seperti di Tarakan. Karena dalam operasi Oubu I, tentara Sekutu banyak yang gugur dan tewas, karena salah perhitungan.

Maka sebelum melakukan operasi Oubu II (Balikpapan), dengan terlebih dahulu mengutus tim Intelejen sebanyak 7 orang. Tim Intelejen tersebut diberangkatkan melalui pelabuhan Davao (Filipina) menggunakan kapal Selam. Ketujuh orang intelejen tersebut di daratkan di perairan “Sigago” sekarang ini Sanipah. Tim dilengkapi persenjataan, sarana komunikasi untuk penghubung ke Pangkalan.

Selama mencari Informasi, pihak mata-mata berbaur dengan masyarat setempat, guna mengetahui keberadaan dan tempat persembunyian Jepang. Kehadirannya di sana sempat diketahui oleh tentara Jepang. Informasi itu didapat dari laporan salah seorang penduduk setempat, yang sengaja ditempatkan. Atas laporan kaki tangan Jepang, Pasukannya bergerak cepat dan memblokade kawasan hutan untuk segera menangkap penyusu mereka.

Dari tujuh orang tim pengintai itu, dua orang diantara mereka berhasil menyekap satu orang tentara Jepang, bagian Radio komunikasi. Satu orang lainnya memutus kabel penghubung radio. Namun mereka dikejutkan dan di pagar betis oleh tentara Jepang, situasi mereka terjepit. Keduanya dengan perhitungan cermat, mereka memberikan perlawanan
dengan tembakan, serta berlari secepatnya menuju hutan dan menghilang dan lolos.

Karena minimnya informasi yang di dapat, tentang kekuatan, persembunyian Jepang di Balikpapan, sehingga tim intelejen ini memutuskan untuk kembali kepangkalannya. Tim ini membawa beberapa orang, mereka satu orang penduduk, kepala Kampoeng dan manteri polisi. Tidak lama kemudian mereka di jemput dengan pesawat “Catalina” bersama warga
setempat di bawa kembali ke Davao, untuk mengorek informasi yang lebih akurat.

Informasi yang didapat memang sangat minim, untuk menghancurkan Jepang di Balikpapan. Jepang telah siap menghadapi segala sesuatu dari pihak yang ingin berkuasa.

Kemudian Sekutu memberangkatkan beberapa buah pesawat pengebom, melakukan pemotretan melalui udara. Disusul sejumlah kapal-kapal perang, amphibi, penyapu ranjau Landing Chip pengangkut Meriam dan puluhan ribu pasukan untuk menuju Balikpapan.

Sejak itulah Opesri Obu II, di Balikpapan (7-21 Juli 1945), Divisi VII Australia, yang tergabung dari Infantri XVIII, dan XXV, Serta di bantu sejumlah pasukan cadangan telah melakukan pendaratan di pantai Balikpapan. Berkisar 21000 personil terlibat dalam operasi ini. Pesawat pengintai mulai melakukan “Strafing” di kawasan udara Balikpapan, sambil mengamati dan melakukan pemotretan wilayah Balikpapan dari udara.

Armada laut Sekutu dan pasukannya di perairan Selat Makassar, terus bergerak dibarengi muntahan pelururu berkaliber besar menembaki sejumlah kapal perang milik Jepang serta di tenenggelamkan. Seluruh kapal Ampibi dan Landing Chraf Tank terus bergerak mendekati bibir pantai Balikpapan. Aramada dan pasukannya menunggu sinyal atau kode untuk mendarat ke kepantai. Pasukan mendarat di awali dengan sejumlah “Bom” yang di jatuhkan melalui pesawat, dibarengi muntahan peluru meriam dari seluruh kapal perang Sekutu kedaratan.

Akibat ledakan bom-bom tersebut, Balikpapan menjadi lautan api. Asap hitam pekat menjulang ke udara. Pasukan Sekutu yang diterjunkan itu berlindung dari balik kabut asap hitam yang mengudara, sehingga bisa mencapai daratan, membuat Jepang semakin panik.

Selama pendaratan pasukan, tembakan meriam Kapal dan bom terus menghujani ke daratan Balikpapan. Pasukan Sekutu yang tergabung dari Devisi VII dan Infanteri XVIII dan XXV berhasil mencapai bibir pantai, terus menyisir bergerak cepat, juga menembakkan senjata Fire Gun (Meriam Api), mengarahkan kemulut-mulut Goa, sehingga mayat bergelimpangan, diterjang peluru, mati terbakar.

Balikpapan merupakan Neraka bagi Jepang, mereka yang tertangkap hidup-hidup ditelanjangi. Bahkan ada yang tidak mau ditangkap untuk di jadikan tawanan, mereka memilih jalan bunuh diri, dengan “harakiri”. Untuk menguasai Balikpapan kurang lebih, 20 hari (July 1945), akibatnya Balikpapan porak-poranda, termasuk kilang minyak tak luput dari serangan bom, akibatnya hangus terbakar, termasuk sarana ibadah dan lainnya.

Peristiwa itu rakyat Balikpapan, banyak berlindung, bersembunyi di tempat-tempat yang dianggap lebih aman. Baik lari ke dalam hutan, masuk ke lubang-lubang di bawah tanah sebagai tempat yang aman. Inilah akhir kekuasaan Jepang dalam PD II, kemudian bertekut lutut pada tanggal 14 Agustus 1945, juga menandatangani surat penyerahan pada tanggal 2 September 1945, di atas kapal UUS Missouri di teluk Tokyo.

Kekalahan Jepang di Tarakan dan Balikpapan, merupakan awal kekalannya di Nusantara. Pembebasan di Balikpapan (Kaltim) merupakan salah satu pembebasan di Indonesia dari cengkraman “ Fasissme” Jepang di Asia (Sourse) dan berakhir pada bulan Februari 1946, termasuk di Afrika, Timur Tengah lepas dari kekuasan Jepang untuk selama-lamanya.

Bertekuk lututnya Jepang diawali dengan dua buah bom atom, yang di jatuhkan di Hirosima dan Naga Saki. Masing-masing Bom atom itu, di jatuhkan melalui pesawat Enggola Gay Bom, sebuah Pesawat pengebom jenis B-29 Super Foster. Membawa bom atom “Little Boy” dari markasnya Amerika Serikat, yang berpangkalan di Filipina, dan terbang ke Hirosima, dan menjatukan bom tersebut, pada tanggal 6 Agustus 1945.

Bom seberat 55 ton dengan kekuatan hulu ledak 20.000 TNT, mencapa radius 50 Km/persegi. Dalam hitungan detik seluruh bangunan rata. Menewaskan 90.000 Jiwa dan cedera sebanyak 75.000 orang. Bom kedua di jatuhkan di Naga Saki (9 Agustus 1945), bernama Bom Fat Man, seberat 105 ton dengan daya ledak 100 km/ persegi. Menewaskan sebanyak 75.000 orang, dan menyusul 80.000 jiwa tewas, menghirup gas beracun.

Kedua bom atom yang di jatuhkan di Hirosima dan Naga Saki tersebut, merupakan atas perintah Presiden Amerika Serikat (AS), Herry Truman. Hal itu dilakukan untuk mengalahkan Jepang secara total dan menunjukan AS di mata Dunia. Maka setelah Jepang bertekuk lutut, tiga hari kemudian tepat Jum’at Tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Sehari setelah itu, tanggal 18 Agustus 1945, Pangeran Ir Muhammad Noor di angkat sebagai Gubernur Kalimantan dengan Ibu Kota Banjarmasin, berkedudukan di Jogja.

Pengangkatan Pangeran Muhammad Noor tersebut oleh Soekarno, atas saran dari Muhammad Hatta. Karena antara Soekarno dan M. Noor, merupakan sesama teman satu kuliah di Bandung, keduanya beda Jurusan.

(Penulis: M Asran|Pemerhati Sejarah|Editor: Hoesin KH

Comments are closed.