KITA bisa bangga dengan armada laut, yang dimiliki Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), yaitu sebuah kapal RI Hang Tuah. Walau hanya meninggalkan sebuah cerita dan kenangan.
Kapal RI Hang Tuah merupakan sebuah kapal perang jenis penyapu ranjau, merupakan dari sekian banyak kapal perang milik Indonesia. Dari 60 kapal sekelasnya, dahulu tampil terdepan dalam berbagai tugas operasi di laut Indonesia.
Dalam sejarahnya Kapal Perang RI Hang Tuah, dahulunya dibuat oleh negara Australia di sebuah galangan kapal “Evans Deakin & Co Ltd”, Brisbane Austalia, pada tahun 1941.
Dalam pengembangannya seiring tuntutan status kapal dinaikkan menjadi “korvet” pada masa perang Asia Pasifik, dengan nama HMAS Ipswich. Nah, setelah menjalankan tugas gugus tempur di jajaran Angkatan Laut Australia, kemudian menjalankan serangkaian perbaikan di negara yang disebut Kolombo, Srilangka.
Tidak lama kemudian Kapal HMAS Ipswich oleh pemerintah Australia diserahkan kepada Angkatan Laut, Kerajaan Belanda, pada tanggal 5 Juli 1946, dalam program bantuan militer. Oleh pihak AL Belanda HMAS Ipswich berganti nama menjadi “Hr Ms Morotai” berjenis korvet dan aktif beroperasi di perairan Indonesia, hingga berlangsungnya perang kemerdekaan Indonesia (1945-1949).
Hingga pada akhirnya dalam pengakuan dan kedaulatan Kemerdekaan Indonesia, Kapal Perang Morotai diserahkan kepada Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) tepatnya pada tanggal 28 Desember 1949.
Sehingga kapal ini berganti nama dan menjadi “RI Hang Tuah”, yang menjadi armada laut terdepan dalam gugus tempur. Pada saat itu komandan pertama RI Hang Tuah, dipegang oleh seorang perwira berpangkat Mayor RE Martadinata.
Dalam tugas pertama kalinya RI Hang Tuah, mendukung dan penumpasan pemberontakan Andi Azis, Darus Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Makassar. Operasi penumpasan pemberontakan (DI/TII), pemberontakan itu dilakukan pertengahan tahun 1950.
Sebelumnya RI Hang Tuah terlebih dahulu melakukan tugas yang dikenal dengan nama Operasi Merdeka, dilaksanakan di perairan Sulawesi Utara (Sulut), pada bulan Januari 1958, ALRI menugaskan Kapal perang RI Hang Tuah melaksanakan operasi di wilayah Indonesia Timur.
Operasi di Wilayah Indonesia Timur, RI Hang Tuah dipimpinan Mayor (P) Ayub Luya, yang berpangkalan di Makassar. Kemudian Februari 1958, Kepala Staf Angkatan Laut Laksana Muda R Subijakto, memerintahkan dan mengalihkan, tugas RI Hang Tuah berpatroli menjadi tugas tempur, serta melakukan penembakan pelabuhan Manado dan Bitung.
Tugas baru RI Hang Tuah yang berpangkalan di Makassar, segera bertolak menuju perairan Manado. Tugas pokok “ Penumpasan Permesta” untuk menghancurkan sejumlah tangki-tangki penimbunan minyak di sepanjang Pantai Manado, milik sekelompok gerombolan. Tepatnya pagi hari kapal perang RI Hang Tuah, telah masuk dan berada di kawasan Pelabuhan Manado, serta melancarkan aksinya dengan tembakan-tembakan meriam ke arah tangki-tangki penimbunan minyak milik gerombolan.
Dalam tugas dan misi penumpasan Permesta serta menghancurkan tempat-tempat logistik oleh RI Hang Tuah. ALRI juga mengirimkan kapal pendukung ke perairan Bitung, yaitu “Kapal Fottila” dan Kapal PR dengan Komandan Kapten (P) Marwidji, Kapal RI Flores dengan Kapten (P) Atung Sudibyo. RI Jombang dikomandani oleh Kapten (P) Suroso S, dan RI Enggano di pimpin oleh Kapten (P) Agus Pramono.
Ketika RI Hang Tuah sedang mengemban tugas dan misi dan kapal perang ALRI lainnya telah melakukan penyebaran ranjau di sekitar perairan Bitung. Kemudian RI Hang Tuah, telah berhasil menangkap dan mengamankan dua buah kapal milik gerombolan (Permesta). Kemudian kapal yang tertangkap milik Permesta tersebut digiring ke Pelabuhan Makassar, dan satu kapal lainnya dijadikan kapal perang “RI Nanusa”.
Operasi Sapta Marga Satu, dari tim gabungan yang diperkuat RI Hang Tuah, dalam penumpasan anggota gerombolan yang berlabel kelompok Permesata, dipimpin oleh Letkol Sumarsono pada tugas penumpasan Permesta di Sulawesi Tengah (Sulteng). Operasi diperkuat Angkatan Darat (AD), dari Yon 501/Brawijaya, Kompi istimewa KONDAIT (Komando Antar daerah Indonesia Timur, dan Yon 601 Tanjungpura serta didukung tim AURI mengerahkan pesawat Bomber pemburu.
Peranan RI Hang Tuah dari laut sangat mendukung sekali dengan memberikan tembakan senjata beratnya ke daratan, sehingga tim gabungan TNI AD berhasil merebut kota Bimuru. Selain tugas utama RI Hang Tuah, memberikan dukungan kebutuhan logistik di darat.
Setelah itu RI Hang Tuah mendapat tugas baru, segera menuju perairan Palu, guna memberikan baruan penembakan kapal (BTK) kepada tim yang berada di darat di kota Palu.
Palu merupakan basis pertahanan Permesta, terus diburu tim gabungan TNI AD dan didukung sejumlah kapal perang milik ALRI.
Peran terpenting yang diemban RI Hang Tuah, memberikan sejumlah tembakan senjata berat dari laut. Sehingga membuat kelompok Permesta kewalahan dan mundur ke daerah Kulawi dan Parigi, namun terus dikejar oleh pasukan APRI, dan berhasil merebut Palu pada 16 April 1958, kemudian RI Hang Tuah terus membayangi pergerakan para pemberontak.
Dalam operasinya RI Hang Tuah mengalami kerusakan pada bagian mesin, ditambah persediaan bahan bakar sangat minim. Juga kekurangan bahan makanan dan minuman. Sehingga pada 20 April 1958, RI Hang Tuah kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju Balikpapan.
Dalam perjalanan ke Balikpapan RI Hang Tuah, menggunakan tenaga penggerak satu mesin dengan kecepatan 4-5 Knot/jam, dan berhasil tiba di pelabuhan Balikpapan, pada tanggal 25 April.
Kerusakan RI Hang Tuah, yang mengalami pada salah satu mesin Kapal RI Hang Tuah, tidak dapat diatasi sehingga di putuskan untuk melakukan perbaikan di Surabaya. Kemudian RI Hang Tuah pada 28 April 1958, sekitar pukul 06.30 meninggalkan Pelabuhan Balikpapan menuju Surabaya.
Dengan kecepatan mesin 4-5 knot/jam. Ketika RI Hang Tuah berada di perairan “BUI” I akan menuju Selat Makassar, waktu telah menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat.
Dari perairan ini RI Hang Tuah telah melihat pesawat Permesta Type B-26 terbang di atas pantai menuju Balikpapan. Pesawat tersebut sambil melakukan “ Stafling” melayang di perairan di udara sepanjang pantai Balikpapan.
Pesawat milik Permesta itu sambil melakukan penembakan, melihat situasi tersebut RI Hang Tuah, membunyikan “alarm” sirine pesan tempur. Adanya sirine tersebut semua awak kapal telah siap siaga di semua anjungan dan pada posisinya masing-masing (Rol) siap menghadapi serangan udara dari pesawat Permesta.
Seluruh persenjataan yang dimiliki RI Hang Tuah, seperti senjata mesin (berat) hingga senjata ‘Boffor dan Orlokin” diarahkan mengikuti gerak pesawat milik Permesta Pesawat B- 26 telah melakukan pengeboman di pelabuhan Balikpapan, sehingga sejumlah kapal-kapal yang sedang bertambat dan berlabuh termasuk tanker yang tidak jauh dari dermaga jadi sasaran tembaknya dan terbakar.
Kemudian sasaran berikutnya adalah RI Hang Tuah, yang sudah siap siaga, mendapat serangan itu RI Hang Tuah memuntahkan tembakan senjata mitraliur, kemudian disusul tembakan dari senjata Boffor dan Orlikon milik RI Hang Tuah.
Pesawat milik Permesta meliuk-liuk di udara perairan Balikpapan. Karena adanya perlawanan dari kapal RI Hang Tuah, kemudian memutar kembali dan persis di atas anjungan kemudian menjatuhkan bom-bom dan tepat di atas cerobong kapal RI Hang Tuah.
Bom yang jatuh di cerobong asap kemudian meledak di dek-dek tiga dan kamar mesin, akibatkan RI Hang Tuah mengalami kebakaran yang cukup besar. Sehingga menimbulkan kerusakan cukup berat, juga banyak menimbulkan korban, kemudian perlawanan mulai melemah. Kondisi RI Hang Tuah dalam kondisi rusak dan terbakar. Akhirnya pimpinan diambil alih oleh Perwira Satu Teguh Santoso.
Hal itu dilakukan oleh Teguh Santoso, karena pada saat itu Komandan RI Hang Tuah Mayor Ayub Laya mengalami cedera akibat dari ledakan bom. Kondisi kapal semakin gawat, kemudian Perwira Satu memerintahkan seluruh anggota untuk meninggalkan kapal. Sebelum meninggalkan kapal Perwira Satu, berdiri tegak di dekat tiang bendera untuk memberikan penghormatan terakhir pada RI Hang Tuah.
Sekitar pukul 24.00 gudang amunisi meledak dan RI Hang Tuah tenggelam, di kawasan Bui I, di perairan laut Balikpapan. Sejumlah anak buah kapal dan terombang-ambing yang mengapung di laut Balikpapan pada saat itu mendapat pertolongan dan perawatan di atas kapal Tjiwulah, selanjutnya di bawa menuju pelabuhan Balikpapan.
Dari seluruh anak buah kapal tertolong empat (4) orang perwira, 5 orang bintara, 8 orang Kopral, 22 orang kelasi dan 1 orang sipil.
Akibat dari serangan pesawat udara pesawat Permesta B-26 dan kemudian menenggelamkan RI Hang Tuah. Mengakibatkan 28 orang luka berat, 37 orang luka ringan, 14 orang dinyatakan hilang, serta empat orang gugur. Dan mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Balikpapan. Mereka adalah Kopral Koko Niti Utomo, Kelasi J.F Tambelah, Pegawai sipil Sapirin dan Mat Ali.
Dahulu kerangka kapal RI Hang Tuah, yang terbakar kemudian tenggelam, dalam sejarah Penumpasan Permesta, berada di sekitar perairan Bui I, laut Balikpapan. Sedangkan yang tampak terlihat sebuah cerobong kapal, sekitar 100 meter dari dermaga Pelabuhan Semayang. Adalah sebuah kapal Tanker minyak, akibat dijatuhi bom dari pesawat Permesta, kemudian terbakar dan tenggelam.#
Reporter: Muhammad Asran/ Pemerhati Sejarah|Editor: Hoesin KH
Comments are closed.