BeritaKaltim.Co

Dr Kanujoso Djatiwibowo Pahlawan Kesehatan Balikpapan

BERITAKALTIM.C0- Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui sejarahnya Kanujoso, dan hanya mengetahui nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), yaitu Rumah Sakit Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.

Nama Kanujoso Djatiwibowo telah diabadikan di salah satu Rumah Sakit Balikpapan, di kawasan Ring Road, Jln Mt Haryono milik Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Kanujoso Djatiwibowo terlahir pada 9 Maret 1909, dia merupakan putra kedua dari sepuluh bersaudara. Ayahnya bernama Djojowibowo sebagai seorang Asisten Wedana pada masa Kolonial Belanda. Kanujoso Djatiwibowo merupakan sosok seorang pemimpin serta disiplin dan tekun dalam menuntut ilmu pendidikan, hingga dia berhasil menyelesaikan studi-nya dan kemudian menanggung biaya pendidikan adik-adiknya.

Setamat dari sekolah AMS atau Algemene Middebare Scholl, kemudian melanjutkan pendidikan ilmu kedokteran di “ Genneskudige Hoge Scholl” di Jakarta. Selama menempuh ilmu pendidikan kedokteran tersebut, dia mendapatkan beasiswa dari pemerintah negeri Belanda. Pada saat itu juga Kanujosos Djatiwibowo telah terjun di organisasi pergerakan, yaitu Organisasi Indonesia Muda (IM).

Setelah menyelesaikan ilmu kedokteran dengan menyandang gelar dokter (dr), Kanujoso Djatiwibo kembali melanjutkan studinya untuk mengambil dokter spesialis (D.Sp) THT ( Tenggorokan Hidung dan telinga). Dalam perjalanannya dia, telah mendapat tugas ke Kaltim yaitu Balikpapan ditempatkan disalah satu Rumah Sakit (RS) milik Kolonial yang saat ini berada di kawasan Sentosa, sekarang sudah menjadi Rumah Sakit Dr Hardjanto.

Pada saat itu dr Kanujoso Djatiwibowo, juga telah menanggung biaya pendidikan adik- adiknya. Ketika dia berusia 29 tahun sekitar tahun 1938, dr Kanujoso Djatiwibo pulang ke kampung halamannya, di Jawa Timur. Kemudian dia mempersunting gadis idamannya, seorang aktivis dari Palang Merah yang bernama Raden Ajeng Pratiwi (RA Pratiwi).
Tidak lama setelah itu, istri (RA Pratiwi) diboyongnya ke Balikpapan.  Dan Kanujoso Djatiwibowo bertugas di Rumah Sakit “ Land Sharff” pada zaman kolonial itu. Di sini dr Kanujoso Djatiwibowo menjadi Kepala Rumah Sakit (Karumkit), dan sekaligus pimpinan, dia juga merangkap sebagai administrasi kala itu. Kemudian dari sini dr Kanujoso Djatiwibowo dipindahkan ke Rumah Sakit “ Sin Min Biyoying” yang saat itu berada di kawasan Kilo Meter Satu (Km 1).

Kemudian pada Tahun 1961, Rumah Sakit Sin Min Biyoying tersebut dijadikan sebagai Kantor Proyek Jalan Kalimantan (Projakal), sekarang bangunan tersebut telah berubah fungsi menjadi Sekolah Taman Kanak-Kanak, Apotik dan Kantor Samsat pembantu Balikpapan Utara.

Detik-detik masuknya Jepang ke Balikpapan tahun 1942, istri dan anak-anaknya Dr Kanujoso Djatiwibowo telah dipulangkan ke kampung halamannya di Pulau Jawa. Mengingat Keselamatan dan juga keamanan jiwa mereka. Sedangkan Dr Kanujoso Djatiwibowo harus bertugas seperti biasanya di bawah pemerintahan Jepang.

Namun menjelang berakhirnya Perang Dunia II (PD II), yang ditandai dengan kekalahan Jepang pada tentara Sekutu dalam PD II. Dan tepat pada tanggal 20 Juni 1945, pengabdian Dr Kanujoso Djatiwibowo berakhir. Dia telah gugur dengan cara di eksekusi oleh Jepang dengan sadis.

Baru pada tahun 1946, keluarga dr Kanujoso Djatiwibowo yang berada di Pulau Jawa telah mendapat kabar melalui” Internasional Red Cross”, yang berbunyi Dr Kanujoso Djatiwiboyo telah gugur. Pada saat itu jasadnya dimakamkan di Tanah Grogot, kemudian dipindahkan ke Balikpapan, setelah itu dari Balikpapan selanjutnya jasadnya di pindahkan ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Kembang Kuning, Surabaya, Jawa Timur.

Atas jasa dan dedikasi pengabdiannya pada tugas Kesehatan dan gugur sebagai syuhada, Pemerintah Republik Indonesia, pada tanggal 20 Juni tahun 1968 silam, telah menganugerahkan penghargaan “ Satyalancana”. Dr Kanujoso Djatiwibowo telah gugur dalam tugas pada usia 36 tahun, dan telah mengabdikan dirinya di Balikpapan dalam tugas.

Oleh karena itulah untuk mengenang atas jasa-jasa, serta pengabdiannya sehingga nama Dr Kanujoso Djatiwibowo diabadikan sebagai salah satu penghormatan, pada sebuah Rumah Sakit di Balikpapan, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Dr Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan, yang terletak di Jalan Mt Haryono, Ring Road Balikpapan.

Selain dari pada itu dr Kanujoso Djatiwibowo, meninggalkan dua orang anak yang sudah menyandang gelar sarjana. Mereka masing-masing adalah Dra Retno Wikan Tyasning dan telah bersuamikan Prof Dr Ir Adaan Msc. Dan putranya Prof Dr Ir Boma Wikan Tyoso MSc juga telah beristrikan Humi Utami.

Itulah sekilas tentang sejarah dr Kanujoso Djatiwibowo, dan setelah Rumah Sakit zaman Kolonial Belanda berpindah ke tangan kekuasaan Pemerintahan Jepang, era Sekutu masuk yang dengan dibonceng Belanda NICA, sejak awal sudah punya niat licik dan ingin berkuasa kembali.

Sehingga pada saat itu terdapat Rumah Sakit NICA Hospital, yang terdapat di Jalan Asrama Bukit Balikpapan Barat, hingga kini peninggalan sejarah tersebut masih ada. Penulis hingga saat ini masih mencari keluarga dr Kanujoso Djatiwibowo, yang juga berprofesi sebagai dokter, bertugas di Balikpapan.#

Penulis: Muhammad Asran/Pemerhati Sejarah|Editor: Hoesin KH

Comments are closed.