BERITAKALTIM.CO-Perjalanan sejarah pejuang Balikpapan, sebaiknya penulis mengupas sedikit, pengertian sejarah dan penghianat, seperti yang dialami para pejuang Balikpapan pada masa itu.
Pengertian sejarah dalam bahasa Yunani, artinya Historia, mengandung makna orang berilmu atau orang pandai. Sedangkan dalam bahasa Inggris adalah History, artinya masa lampau umat manusia, dalam bahasa Jerman adalah Geschichite, yaitu sesuatu yang telah terjadi.
Sedangkan pengertian penghianat, dalam bentuk umum bisa dikategorikan adalah sebuah bentuk kerja sama atau juga kepercayaan yang menciptakan konflik moral atau psikologis dalam bentuk individu atau golongan kelompok atau organisasi, seperti yang terjadi di antara para pejuang rakyat Balikpapan mengakibatkan gugurnya pejuang tersebut, dikarenakan oleh penghianat.
Perjalanan kelam pejuang merah putih untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia, tidak hanya melawan bangsa kolonial dan kaum penjajah lainnya. Namun pejuang Merah Putih juga menghadapi musuh dalam selimut, yaitu mata-mata sebagai kaki tangan kaum penjajah. Mereka telah menjadi penghianat bangsanya sendiri, seperti yang dialami oleh pejuang Merah Putih Lauda dan Anang Atjil.
Begitu juga yang dialami tim intelijen Sekutu pada operasi Obou II di Balikpapan, ketika masa pemerintahan Jepang. Maka sebelum operasi Oubu II, dilaksanakan, Sekutu pada November 1944, melalui komandannya “Wiliam C Dwyer, sebagai pimpinan tim intelijen Sekutu, pada bulan November mereka bertolak dari Davao, Filipina William C Dwyer untuk mencari informasi yang berkaitan dengan keberadaan Jepang di Balikpapan dan sekitarnya, yang akan diberangkatkan melalui pelabuhan Davao, menggunakan Kapal selam, sebelum operasi Oubu II, di mulai di Balikpapan.
Pada bulan Mei 1945, kemudian Kapal Selam Sekutu bertolak dari Davao, Filipina membawa tim intelijen. Maka setelah melalui perjalanan laut beberapa hari kemudian, tim intelijen Sekutu, sebanyak 13 orang dipimpin William C Dwyer dilepas dengan menggunakan perahu karet dari kapal Selam, di perairan dan mendarat di Pantai Sigago, sekarang Sanipah.
Pendaratan mereka dibantu warga penduduk setempat dalam mengumpulkan dan informasi tersebut akan segera dilaporkan ke Pangkalan Sekutu di Davao. Namun kehadiran mereka di kawasan itu, dari salah seorang penduduk melaporkannya ke pihak Jepang. Mendapat laporan itu, Jepang mengirimkan pasukannya dari Samarinda, untuk melakukan pengejaran terhadap mata-mata tersebut.
Untuk segera menangkap hidup-hidup para penyusup, dan mereka dikepung sehingga terjadi baku tembak, tim intelijen berhasil lolos dari sergapan. Mereka lari ke dalam hutan untuk beberapa lama dan sempat menolong dua orang rekannya yang sempat tertangkap. Setelah bertahan di dalam hutan, tidak lama kemudian mereka dijemput dengan menggunakan
pesawat Catalina kembali ke pangkalan serta membawa dua orang penduduk pribumi, untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan Jepang di Balikpapan.
Para tentara Jepang yang tidak berhasil menangkap para penyusup Sekutu, merasa kecewa. Sehingga kekesalannya dilampiaskan ke warga pribumi. Mereka mempersalahkan pihak pamong praja, yang membiarkan warganya memberikan bantuan, serta melindungi mereka dan juga dan tidak melaporkan kepada pihak Pemerintahan Jepang, yang berkuasa pada saat itu.
Dari kekecewaan pasukan Jepang itu hingga akhirnya Aji Raden Atmo Amidjojo (ARA Amidjojo), Kepala Pejawat (Onderdistrictshoof), kyai, Camat Samboja berserta bawahannya, HM Amir, dan Manteri Polisi H Arief, kepala kampung, beserta beberapa pegawainya di tangkap oleh tentara Jepang, kemudian mereka semuanya di bawa ke Balikpapan, hingga kini tidak diketahui keberadaannya, apakah mereka semua di eksekusi atau tidak oleh Jepang.
Lain lagi ceritanya dengan dua pejuang Rakyat Balikpapan mereka masing-masing adalah Lauda dan Anang Atjil yang tewas dan gugur sebagai syuhada akibat penghianat bangsa di dua tempat berbeda. Peristiwa Lauda, berawal dari lemparan beberapa buah granat, tepatnya tanggal 3 November 1946 malam, namun Granat tersebut tidak meledak.
Hanya mengenai kepala salah seorang salah seorang pengunjung dan kemudian pingsan, ketika mereka sedang berpesta dansa di gedung Manila Klub tempat berpesta ria, atau Manila Klub dipagari kawat berduri, dahulu terletak di kawasan Kampung “Bloro” persisnya di persimpangan Muara Rapak, sekarang telah berdiri pertokoan Ramaya. Setelah terjadi lemparan granat tersebut sehingga mereka bubar dan menyelamatkan diri, berhamburan ke luar gedung saling berimpitan dan berebut untuk ke luar, dan terjadilah kegaduhan pada malam itu.
Dari peristiwa Manila Klub itu, pada akhirnya Polisi NICA mengutus mata-mata untuk mencari tahu pelakunya dan menangkapnya, sehingga Baco Pasir (NICA) dengan rekannya menyisir sebuah rumah di kawasan hutan Gunung Air Terjun Utara (Gatu-Gunung Pipa), menemukan Lauda yang sedang berada bersama pejuang lainnya di markas pertahanan Merah Putih.
Sehingga terjadilah tembak menembak yang tidak terelakkan antara pejuang Merah Putih dengan Polisi NICA, di sini lauda tertembus peluru dan rekannya berusaha untuk memberikan pertolongan namun dia sudah tidak bisa diselamatkan lagi dan gugur sebagai Syuhada. Sementara rekan pejuang lainnya mundur ada yang lari ke Seberang dan ada juga ke dalam hutan untuk mengatur serangan gerilya bersama pejuang lainnya.
Sedangkan mata-mata dari Polisi NICA, Baco Pasir pada saat itu tewas, setelah tubuhnya diterjang ditembus beberapa peluru dari tembakan “Owen Gun” milik pejuang Merah Putih. Pada saat itu pertahanan pejuang Merah Putih, terdapat di kawasan Kilo meter 0,5 , Strat I, Strat II, Strat III, Sumberjo, Batu Ampar dan kawasan hutan Km I hingga Gunung Air Terjun (Gunung Pipa), bahkan daerah lainnya di Balikpapan.
Sementara itu nasib serupa juga dialami dengan pejuang Merah Putih Anang Atjil, akibat adanya bisikan penghianat bangsa. Anang Atjil merupakan salah seorang bergelar ”Pejuang Sakti”, dan selalu ditakuti Belanda/KNIL. Selain sakti juga selalu cepat menghilang dalam bergerilya, walau diterjang atau ditembus peluru. Anang Atjil akan bisa hidup kembali.
Namun selama perang gerilya, hati Anang Atjil “gundah-gulana”, pasalnya Siti Fatimah merupakan istri tercinta, dalam kondisi hamil besar dan akan segera melahirkan anak pertamanya. Suatu ketika Anang Atjil mendapat kabar dari sesama rekan perjuangan, kalau istrinya Fatimah telah melahirkan, dan seorang bayi laki-laki diberi nama Salman. Hati Anang Atjil kian galau, hasrat hati Anang Atjil ingin bertemu Fatimah dan si buah hati, kian memuncak.
Niat tersebut urung dilakukan oleh Anang Atjil, Hal itu disebabkan informasi dari rekan seperjuangan kondisi belum aman dan sangat berbahaya karena dijalan-jalan NICA/KNIL melakukan sweeping. Agar Anang Atjil, tidak ke luar dari tempat berkumpulnya para gerilyawan Merah Putih. Walaupun dia sangat paham sekali untuk menuju rumahnya di kawasan Gunung Malang, menyisir sungai dan hutan.
Setelah sempat tertunda untuk bertemu anak dan istri, pada akhirnya niat itu terlaksana juga. Setelah dia, mendapat informasi kalau di luar kondisi sudah aman. Maka dengan menggunakan sebuah perahu, menyusuri sungai dan melintasi hutan dengan cara mengendap-endap lewat kolong rumah dan masuk dengan cara membuka papan lantai rumah. Dengan
bahagia menggendong bayi Salman seraya memeluk Fatimah yang baru saja melahirkan itu.
Akibatnya Anang Atjil larut dalam kegembiraan dan teledor bahwa maut mengintainya. Akibat laporan dari seorang penghianat sehingga rumahnya dikepung NICA dengan persenjataan lengkap, kemudian tentara NICA merangsek masuk ke dalam. Kemudian Anang Atjil dibekuk dengan cara diikat. Baru kemudian digiring keluar, Fatimah terdiam seribu bahasa hanya suara tangisan “bayi Salman”, yang membatin jika pejuang pemberani itu akan berakhir hidupnya demi perjuangan bangsa dan Merah Putih.
Anang Atjil digiring ke sebuah pantai, kemudian dieksekusi dengan dua belas tembakan yang menghunjam tubuhnya dalam kondisi terikat tewas tersungkur. Namun yang lebih sadis dilakukan NICA, jasad Anang Atjil dipenggal kepala dan dikubur secara terpisah. Konon kabarnya jika tidak dipisah antara badan dan kepala jika timbul “Bintang Fajar”, maka Anang Atjil akan kembali hidup seperti semula.
Maka dengan cara inilah Belanda/NICA mengakhiri seorang sakti Anang Atjil pada tanggal 14 Desember 1946. Kemudian jasadnya kembali di makamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Gunung Bakaran Balikpapan, dengan Batu Nisan nomor 71, menurut kepala Sejarah Kodam VI , Letkol TNI AD Kandwi, Batu Nisan Nomor 71, bernama Pratu Anang
Atjil, lengkapnya.
Walau jasadmu telah tiada, tapi kami mengenang jasa-jasa pahlawanmu, yang kami tuangkan dalam buku “Kabut Perang Balikpapan” dan buku sejarah lainnya. Agar para generasi muda dapat mencintai sejarah dan tidak akan melupakan sejarah (Jasmerah) Jangan Sekali-kali melupakan sejarah. Hidup para pejuang merah putih.
Penulis: M.Asran|Editor: Hoesin KH
Comments are closed.