BERITAKALTIM.CO-PARA Pejuang Merah Putih Balikpapan dan pada umumnya Kalimantan Timur (Kaltim), sangat paham sekali dengan pasukan Herman Runturambi, yang selalu bergerilya dan sangat piawai (cakap atau mampu) masuk ke Pos-Pos KNIL, yang kemudian menodongkan pistolnya ke arah penjaga pos, kemudian merampas persenjataan yang ada, dan menyekap mereka untuk dijadikan tawanan.
Pejuang Herman Runturambi, sebelum bergabung dengan gerilya merah putih, merupakan seorang Polisi NICA, yang melarikan diri dan kemudian bergabung dengan semua kelompok pejuang Rakyat di Kalimantan Timur. Pada awalnya Sekutu ingin mengakhiri Perang Asia Pasifik atau tepatnya Perang Asia Timur Raya, yang dilakukan Jepang. Terhadap negara jajahannya salah satunya Indonesia. Untuk mengakhiri kekuasaan Jepang di Nusantara, sekaligus mengakhiri Perang Dunia II (PD II), Sekutu melakukan operasi Obou I dan II, di mulai di Tarakan dan Balikpapan pada Tahun 1945.
Pembebasan Jepang di Balikpapan dan pada umumnya di Kaltim, merupakan salah satu pembebasan dari cengkeraman Fasisme Jepang di Asia (Sourse), berakhir pada Februari 1946, termasuk Asia Afrika dan Timur Tengah lepas dari kekuasaan Jepang untuk selamanya. Berawal dari Tarakan (1942) pendaratan tentara Sekutu (gabungan), Australia, Inggris, Amerika, dibonceng NICA di komandani oleh Mayor Jenderal Douglas Mac Arthur.
Sedangkan Netherlands Indies Civil Administration, dibentuk Belanda di Australia, pada tanggal 3 April 1944. Pembentukan NICA diupayakan Belanda, untuk mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah Hindia Belanda dari cengkeraman Jepang.
Sebelum Sekutu datang atau masuk Indonesia, terlebih dahulu dilakukan penandatanganan yang dikenal atau disebut Civil Affairs Agreement (CAA) antara Inggris dan Belanda. Oleh sebab itulah Sekutu masuk Indonesia dibonceng NICA, yang bermarkas atau berkedudukan di Brisbane (Australia). Dengan alasan sebagai penghubung Belanda di perantauan, atau di negara lain dipimpin Mac Arthur.
Pintu keberhasilan Sekutu-NICA menaklukkan hingga Jepang bertekuk lutut, berawal menguasai peperangan di Tarakan dan Balikpapan, barulah meluas ke daerah lainnya di nusantara. Jepang takluk setelah sebelumnya dua buah bom atom yang dijatuhkan di Hirosima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945), yang kemudian membuat Jepang tak berdaya dan menyerah tanpa syarat pada 14 Agustus 1945. Tiga hari kemudian tepat 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, serta mengatur tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Setelah itu kemudian seluruh tentara Sekutu ditarik dan dipulangkan ke negaranya masing-masing. Maka pada tanggal 20 Oktober 1945, tentara Amerika di bawah pimpinan Jenderal Sir Thomas Albert Blamey, menyerahkan Kalimantan kepada NICA. Sehingga daerah Kalimantan yang sudah terbentuk pemerintahan sementara dibekukan, dengan alasan tidak bisa berjalan.
Padahal setelah sehari kemerdekaan bangsa Indonesia, pada tanggal 18 Agustus 1945 tersebut, Soekarno telah mengangkat Pangeran Ir Muhammad Noor (M Noor), sebagai Gubernur Kalimantan dengan Ibu Kota Banjarmasin, berkedudukan di Jogjakarta pada saat itu.
Bahkan Pangeran Ir M Noor, merupakan orang pertama yang menjabat Gubernur Kalimantan, sebelum Kalimantan terbentuk provinsi-provinsi lainnya. Sehingga administrasi pemerintahan dikuasai NICA yang berkerudung niat licik untuk menjajah kembali bekas negara kolonial.
Kenyataannya niat busuk dan sipat licik Belanda NICA mulai berjalan, menunjukkan belangnya, yang tadinya semasa Sekutu memegang peranan rakyat bebas mengibarkan bendera Merah Putih, memasang lencana atau simbol merah putih, dan berkumpul-kumpul, kini sebaliknya dilarang NICA.
Selain dari pada itu, NICA mulai melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh pemuda, pemuka agama, pejuang yang sebelumnya mendukung Sekutu juga ditangkap. Bahkan NICA mulai memberlakukan jam malam dan rakyat dilarang untuk berkumpul-kumpul lebih dari lima orang.
Di sinilah mulai bangkit rasa patriotisme rakyat, untuk mempertahankan Kemerdekaan Indonesia, dan mulai bangkit pergerakan-pergerakan melawan penjajah Belanda NICA penindas gaya baru.
Para gerilyawan, bermunculan baik di daerah maupun Kaltim pada umumnya, seperti kelompok Herman Runturambi, kelompok Abdul Muthalib, Anang Atjil, Kasmani, Imat Saili
dan kelompok pejuang lainnya. Pada awalnya Herman Runturambi adalah anggota Polisi NICA, namun dia melarikan diri dan membelot bergabung ke pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Herman dan rekan-rekannya yang sesama Polisi NICA yang telah membelot terus dikejar dan dicari untuk segera ditangkap dan diadili oleh Belanda NICA. Namun kenyataan itu tidak terwujud, malah sebaliknya pasukan Herman Runturambi selalu berhasil masuk ke pos-pos NICA merebut senjata dan menawannya. Kemudian persenjataan yang berhasil dirampas kemudian diserahkan ke pejuang yang belum memiliki senjata.
Herman Runturambi terus melakukan koordinasi bersama Sukasmo, Budiyono dan Tukiman Gondo, yang merupakan orang dalam yang menyusup dan memata-matai setiap gerak langkah Belanda NICA, yang kemudian disampaikan kepada Herman Runturambi yang akan melakukan pengadangan bersama pejuang lainnya. Herman yang beranggotakan Bancet, Berahim, Basuni, Ideham, Saleh dan Nasir, ke semuanya mantan polisi NICA.
Kelompok Herman selalu dikejar Polisi NICA dan KNIL hingga ke Sangkulirang, namun selalu lolos dan berhasil melakukan pengadangan setiap gerak langkah Belanda dan terjadi baku tembak, kemudian menghilang dalam sekejap.
Perang gerilya membuat panik dan kewalahan bagi Belanda. Hal itu menurut Belanda para pejuang ditopang oleh kelompok-kelompok pemberontak, yang juga mantan anggota NICA selalu berhasil melucuti dan merampas persenjataan milik Belanda.
Selain dari pada itu bermunculan organisasi-organisasi pergerakan seperti FONI, KIM, INI, BPPD, dan lainnya, juga terbitnya sebuah media surat kabar yang selalu membuat berita dan membakar semangat para pejuang merah putih, yang bertujuan untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia yang sudah di Proklamasikan pada 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur, nomor 56 Jakarta.
Hingga pada akhirnya NICA secara resmi dibubarkan pada bulan Juli 1950, dan anggota NICA kemudian bergabung ke dalam Tentara Republik Indonesia (TRI).
Dalam penyerahan Kedaulatan Bangsa Indonesia, dilakukan penandatanganan dalam tiga (3) dokumen yang telah disepakati pada tanggal 1 November 1949. Dengan penandatanganan tersebut, maka secara resmi Indonesia diakui oleh Belanda sebagai Negara Merdeka dan berdaulat penuh serta menjadi bagian dari tatanan dunia internasional.
Belanda juga telah meyakini bahwa Indonesia Merdeka pada Sembilan Ramadhan jatuh pada hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945, sesuai dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dan pada 27 Desember 1949, saat dilakukan “Soeverentteit soverderacht” (penyerahan kedaulatan) ditandatangani di Istana Dam, Amesterdam, Belanda. Maka secara tidak langsung atau otomatis Belanda mengakui tindakan ilegal mereka dalam Politioneli Acties atau “Agresi Militer” (1945-1949) tersebut adalah tidak syah dan ilegal.
Penulis:Muhammad Asran/Pemerhati Sejarah|Editor: Hoesin KH
Comments are closed.