BERITAKALTIM.CO-MENGAPA Jalan Balikpapan-Samarinda disebut Jalan Rusia…? Jalan yang menghubungkan dua kota dan satu kabupaten ini berjarak 115 kilo meter (115 Km). Sekarang dikenal dengan Jalan Poros Bukit Soeharto. Pada awalnya dikenal dengan Jalan Rusia, kemudian setelah itu disebut Jalan Soekarno-Hatta. Kini Jalan tersebut sudah melekat dengan kawasan Jalan Bukit Soeharto.
Pada masa Perang Dunia II (PD II) ketika Jepang berkuasa (1942-1945), sebelum kedatangan tentara Sekutu. Jepang terlebih dahulu membuka jalan setapak, yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda. Jepang mengerahkan tenaga Romusa, bahkan ada peninggalan Jepang di kawasan Gunung Pasir Km 55, sekitar Warung Panjang Bukit Soeharto, dari tepi jalan sekitar 100 meter terdapat Sumur Jepang, goa serta tank.
Tenaga Romusa tersebut, dipekerjakan secara paksa tanpa diberi makan, serta tempat tidur tanpa alas (seadanya), akibat kerja paksa para romusa menjadi kurus kerempeng bagaikan tengkorak hidup dan sangat menyedihkan. Begitu Pasukan Sekutu mendarat, melakukan pembersihan serdadu Jepang. Para romusa banyak yang melarikan diri ke dalam hutan. Mereka takut ditangkap dan dituduh sebagai antek Jepang.
Para romusa yang lari ke hutan banyak yang meninggal karena takut tertanggap. Mayat-mayat romusa ditemukan Antung Gufransyah, salah seorang pejuang Balikpapan. Ketika itu, Antung Gufransyah sedang perang gerilya untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, yang telah dikumandangkan pada 17 Agustus 1945. Pada saat itu Antung Gufransyah hanya berjalan kaki melintasi hutan belantara.
Antung Gufransyah, melintasi hutan dan gunung sambil memanggul senjata, Dia berjalan kaki dari Kalsel ke Balikpapan, siang dan malam. Perjalanan itu ditempuhnya selama 12 hari 13 malam, untuk bergabung dengan para pejuang lainnya. Cerita Antung Gufrasyah yang didampingi putranya Iwansyah.
“Karena orang tuanya sedang sakit dan sulit untuk duduk,” tutur Iwansyah pada penulis, di kediamannya, Gunung Belah.
Hal itu di katakan beberapa pemilik warung yang berada di kawasan Hutan Bukit Soeharto. Karena kebutuhan air yang dipergunakan mereka sehari-hari, diambil melalui Sumur Jepang yang berada di atas bukit tersebut.
“Kemudian airnya dialirkan melalui pipa slang plastik yang mengalir dari ketinggian dan mengalir ke daerah rendah,” jelas Samsudin salah seorang pemilik warung di Km 55.
Menurut kisah Kai Arifin dahulu “Base camp”, pekerja berada di kawasan Karang Joang, Km 18, sedangkan “Kantor Projakal-nya” berada di kawasan Km 1. Kai Arifin ikut bekerja dalam pembukaan jalan Balikpapan-Samarinda, bersama warga Kebun Sayur pada saat itu. Di kawasan hutan pada pembukaan jalan banyak ditemukan peninggalan “harta karun” milik tentara Jepang yang terbenam.
Bahkan kala itu sempat melihat “pedang” dan harta lainnya. Namun tidak ada niatan untuk memungutnya atau mengambil, karena kita tinggal di dalam hutan dan harus kembali ke camp penampungan, untuk segera istirahat, dan esok harinya harus bekerja kembali.
“Saat ini Kelurahan Karang Joang terdiri dari 64 Rukun Tetangga (RT), serta daerah penghasil sayur terbesar di Balikpapan,” tutur Maryana SKH, Selaku Lurah Karang Joang.
Sebelum dibukanya Jalan Rusia yang menghubungkan Balikpapan-Samarinda ini kawasan ini adalah kawasan hutan lebat, di mana di dalamnya terdapat kandungan Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat berlimpah ruah pada saat itu. Terutama penghuni hutan seperti Rusa (Payau) dan jenis hewan liar lainnya. Bahkan juga terdapat puluhan jenis buah-buahan terdapat di alam ini.
Bahkan tidak itu saja, kawasan Hutan Bukit Soeharto ditumbuhi berbagai jenis kayu, seperti Kayu Ulin, Kayu Bengkirai, Kayu Meranti, Kayu Kapur, serta jenis rimba campuran lainnya. Pada masa itu Kawasan Bukit Soeharto masih tertutup dan terisolir jauh dari perambah hutan. Kemudian Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), kedatangan rombongan Transmigrasi asal Pulau Jawa, yang disebar ke daerah-daerah di Kaltim.
Para transmigrasi itu, disebar seperti Daerah Sepaku, Semoi, Petung, Samboja, Ambarawang, Salok Api, Gunung Binjai dan kawasan Karang Joang. Untuk Transmigrasi Karang Joang, saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Balikpapan Utara. Mereka semuanya berjumlah sekitar 500 Kepala Keluarga (KK), merupakan Transmigrasi pertama pada Tahun 1960, berada di Balikpapan.
Para Transmigrasi, asal Semarang sekarang di Kampung Astra Km 13, dan Hutan Bambu Km 15. Para Transmigrasi tersebut masing-masing menempati lahan hutan dari kawasan Kilometer (Km10-Km18) Kelurahan Karang Joang Balikpapan Utara. Mereka merupakan transmigrasi asal Pulau Jawa pertama (Tahun 1961), Bahkan sempat dikunjungi langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Abdul Haris Nasution.
Pada tahun 1961 Kasad Jenderal AH Nasution, mengemban dua misi sekaligus, selain melihat kondisi Transmigrasi pertama Km 18, Karang Joang saat ini berada dalam wilayah Kecamatan Balikpapan Utara. Juga akan melakukan survei bersama para insinyur Rusia, untuk pembukaan jalan pada Proyek Jalan Kalimantan (Projakal), dari Km 18 dengan melintasi hutan sejauh 30 Kilo meter.
Di mana pada saat itu Kasad, ditemani Panglima Komando Daerah Militer VI Mulawarman Brigjend Suhario Padmodiwirio. Dimana Proyek Jalan Kalimantan (Projakal) Balikpapan-Samarinda dimulai dari dua titik. Masing-masing dari arah Balikpapan ke Samarinda, dan sebaliknya Samarinda ke arah Balikpapan. Proyek ini bekerja sama antara
Indonesia dengan Rusia.
Pada awalnya proyek ini berjalan dengan baik, puluhan rakyat Balikpapan ikut bekerja, pada pembukaan jalan poros Balikpapan-Samarinda.
“Sehingga truk tangguk warna biru, setengah lingkaran milik perusahaan Rusia, sering terlihat hilir mudik di kawasan Kilo, kata Sumiyem (68 thn) warga Rt 25, salah seorang warga Transmigrasi (1962) asal Pulau Jawa.
“Bahkan pada saat itu belum ada penerangan (listrik),” kenang Sumiyem..
Pada saat itu Sumiyem dibawa orang tuanya ke Balikpapan, baru berumur 6 tahun. Kini, Sumiyem hidup sebatang kara, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia puluhan tahun silam. Walau kondisinya sudah uzur, dia tetap aktif bertani, menoreh getah (karet), hal ini dilakukannya secara rutin setiap hari.
Ditambahkan Sumiyem, dahulu jalan di sini sangat licin dan tanah merah, sekarang jalan wilayah binaan Astra dikenal dengan (Kampung Astra), serta salah satu tempat pilihan objek wisata, kampung trans ini terdapat danau, yang banyak ikannya. Para petani melakukan aktivitas merintis lahan dan mencangkul untuk ditanami ubi kayu (singkong), dan tumbuhan lainnya. Kawasan ini setiap hari Sabtu dan Minggu, banyak wisatawan lokal yang berkunjung.
Menurut Endah warga Kilometer 10, dan tinggal di lingkungan RT08, Kelurahan Karang Joang, “Muara”. Dari sekian banyak warga Transmigrasi itu salah satunya adalah orang tuanya, yaitu pak Sugito, panggilan sesama warga trans, sejak tahun 1960-an ditempatkan di sini, dan dahulu jarak rumah ke rumah lainnya sangat berjauhan.
”Selain itu orang tua saya dahulu suka mendalang,” tutur Endah.
Dalam perjalanannya Proyek Jalan poros Balikpapan-Samarinda terhenti, hal itu diakibatkan suhu politik di tanah air dan meletusnya peristiwa Gerakan 30 S/PKI pada tahun 1965. Akibatnya para kontraktor asal negara Rusia, yang mengerjakan pekerjaan jalan ini balik ke negara asalnya, Rusia. Setelah kondisi politik di Indonesia mereda dan dapat dikendalikan sepenuhnya oleh Soeharto, kemudian proyek dilanjutkan kembali pada tahun 1966.
Kali ini pelaksana dan kontraktornya antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang yang bekerja sama. Pada saat itu Kantor Projakal menempati Eks Rumah Sakit “Sin Min Biyoying”, yang berada di Km 1 Balikpapan Utara, sekarang gedung Projakal tersebut sudah berubah menjadi Sekolah Taman Kanak-Kanak Kantor Samsat, apotek dan rumah milik almarhum Haji Alimansyah.
Memang pada awalnya Proyek Jalan Kalimantan (Projakal) ini di kenal dengan Jalan Rusia, karena pada saat itu pelaksana pembangunan jalan adalah dari Rusia, sehingga seluruh kendaraan dan alat berat didatangkan dari Negara Rusia. Baru kemudian dilanjutkan dari Perusahaan Jepang yang bekerja sama dengan Dinas Pekerjan Umum (DPU), hingga akhir tahun 1975, sehingga jalan Poros Balikpapan-Samarinda disebut Jalan Soekarno-Hatta.
Dua tahun kemudian jalan poros Balikpapan – Samarinda yang telah tersambung sepanjang 115 Km ini, tepatnya pada Rabu, Tanggal 20 Juli 1977, Proyek Jalan Kalimantan, diresmikan oleh Presiden Soeharto, dan melakukan penandatanganan di atas Prasasti, yang kini Tugu Projakal tersebut berada di kawasan Km 4,5 Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Utara.
Sebelum dibukanya Jalan Poros Balikpapan-Samarinda, setiap warga yang ingin bepergian dari Balikpapan ke Samarinda, dan sebaliknya Samarinda-Balikpapan harus melintasi Sungai Mahakam, baik itu dari Balikpapan maupun dari Samarinda. Di mana pada saat itu pangkalan speed boat berada di tepi sungai Handil II. Dari Balikpapan menempuh perjalanan panjang, Pasar Baru-Manggar, Gunung Tembak-Ambarawang, Samboja-Muara Jawa dan Handil II, dengan menumpang Taksi Kayu, yang di desain khusus untuk jarak jauh, muatan barang dan penumpang.
Penulis: Muhammad Asran|Pemerhati sejarah|Editor: Hoesin KH
Comments are closed.