BeritaKaltim.Co

Kerbau Kalang, Plasma Nutfah Unik Kaltim Berpotensi Tingkatkan Ekonomi Peternak

BERITAKALTIM.CO – Kalimantan Timur (Kaltim) dikenal sebagai salah satu daerah yang kaya akan plasma nutfah unggul. Salah satu plasma nutfah khas yang menjadi kebanggaan daerah ini adalah kerbau kalang, selain ayam nunukan dan rusa sambar.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim, Fahmi Himawan, mengungkapkan bahwa kerbau kalang telah ditetapkan sebagai plasma nutfah melalui Peraturan Menteri Pertanian (Permentan).

“Kerbau kalang adalah plasma nutfah kita, yang populasinya terbanyak di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kutai Barat (Kubar). Daerah Danau Jempang, Semayang, dan Melintang menjadi habitat utama mereka,” jelas Fahmi dalam pernyataannya baru-baru ini.

Kerbau kalang memiliki karakter unik dibandingkan dengan kerbau pada umumnya. Hewan ini hidup secara semi-liar, dengan pola adaptasi yang menarik terhadap lingkungan.

Saat air pasang, kerbau-kerbau ini kembali ke kalang (kandang tradisional) untuk berlindung, sementara saat air surut, mereka dilepas bebas untuk mencari makan. Pola hidup seperti ini memungkinkan populasi mereka tetap berkembang secara alami.

Selain itu, kerbau kalang Kaltim telah menjadi komoditas yang diminati hingga ke luar daerah, seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. Meski jumlah pengiriman belum masif, hal ini membuktikan bahwa kerbau kalang memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.

“Kerbau kalang kita bahkan sudah dikirim ke Toraja dan Kalsel. Ini menunjukkan bahwa ternak khas kita berkontribusi, meskipun tidak secara langsung pada PAD (Pendapatan Asli Daerah), tapi memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi peternak,” tambah Fahmi.

Namun, perjalanan menjaga populasi kerbau kalang tidak tanpa tantangan. Di Kutai Barat, misalnya, sempat terjadi konflik antara peternak kerbau dengan perusahaan sawit di Pulau Lanting. Beberapa kerbau mati akibat tumpang tindih lahan yang digunakan untuk kegiatan sawit.

“Kami mencatat adanya konflik lahan di Kutai Barat yang menyebabkan kerugian bagi peternak. Kami terus mencari solusi agar populasi kerbau kalang tidak terganggu oleh aktivitas industri,” ungkap Fahmi.

Saat ini, populasi kerbau kalang di Kaltim diperkirakan mencapai 2.000 hingga 3.000 ekor, dengan sebaran terbesar di Kukar. Meski demikian, Fahmi mengakui bahwa data populasi terbaru perlu diperbarui.

“Kami sedang meninjau data time series lima tahun terakhir, untuk melihat tren populasi kerbau kalang hingga tahun 2024,” lanjut Fahmi.

Kerbau kalang yang tidak berstatus dilindungi memiliki potensi besar untuk dibudidayakan. Selain memenuhi kebutuhan lokal, pengiriman ke luar daerah juga menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan peternak.

Fahmi berharap potensi ini dapat terus dioptimalkan melalui program-program pemberdayaan.

“Dengan pengelolaan yang baik, kerbau kalang bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi peternak dan memperkuat posisi Kaltim sebagai daerah dengan plasma nutfah unggulan,” papar Fahmi.

Selain kerbau kalang, Kaltim juga memiliki ayam Nunukan dan Rusa Sambar sebagai plasma nutfah khas. Namun, hanya Rusa Sambar yang berstatus dilindungi, sementara ayam Nunukan dan kerbau kalang dapat dibudidayakan. Ketiganya menjadi bagian dari kekayaan hayati yang penting untuk dilestarikan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Keberadaan kerbau kalang tidak hanya mencerminkan keanekaragaman hayati Kaltim, tetapi juga menjadi simbol kearifan lokal yang berpotensi besar bagi ekonomi masyarakat.

Upaya konservasi dan pengelolaan yang bijaksana diperlukan untuk memastikan warisan ini tetap terjaga.

Reporter : Yani|Editor: Hoesin KH|Adv|Diskominfo Kaltim

Comments are closed.