BeritaKaltim.Co

Psikolog: Orang Tua Harus Jeli Deteksi Autisme Anak

BERITAKALTIM.CO- Psikolog dari Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalimantan Timur, Anang Arief Abdillah mengemukakan pentingnya kejelian orang tua mendeteksi sejak dini autisme pada anak, agar intervensi dan penanganan yang tepat dapat segera dilakukan.

“Autism Spectrum Disorder (ASD) atau yang biasa dikenal dengan autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan komunikasi dan interaksi sosial seseorang,” kata Anang Arief di Samarinda, Rabu (5/2/2025).

Menurut Anang Arief, gejala autisme dapat mulai dikenali sejak usia satu tahun enam bulan. Pada usia sebelumnya, orang tua mungkin menemukan beberapa tanda, seperti kurangnya respons terhadap mainan bersuara atau kesulitan merespons ajakan bermain.

Tanda-tanda tersebut, lanjut Anang Arief belum bisa dijadikan acuan pasti bahwa anak mengalami autisme.

Orang tua, tambah Anang Arief, perlu memperhatikan tumbuh kembang anak secara rutin. Pemeriksaan tumbuh kembang dapat dilakukan di posyandu atau melalui dokter kandungan.

“Buku pink yang diberikan saat pemeriksaan kehamilan, dapat menjadi panduan bagi orang tua dalam memantau tumbuh kembang anak,” jelas Anang Arief.

Gejala autisme yang paling sering dikeluhkan oleh orang tua, keterlambatan bicara atau speech delay.

Anang menjelaskan anak dengan autisme cenderung lebih mudah berkomunikasi secara visual atau non-verbal daripada verbal.

Kendati demikian, Anang Arief mengingatkan bahwa keterlambatan berbicara tidak selalu berarti autisme. Keterlambatan bicara juga dapat disebabkan oleh masalah intelektual atau gangguan pendengaran.

“Oleh karena itu, orang tua mesti segera membawa anak ke spesialis anak atau psikolog anak, jika mengalami keterlambatan berbicara,” jelas Anang Arief.

Orang tua disarankan untuk mulai curiga jika anak belum mulai berbicara hingga usia dua tahun.

Disarankan Anang Arief, orang tua tidak menunda melakukan terapi terhadap anak jika ada diagnosa keterlambatan berbicara.

“Terapi perilaku, terapi bicara, atau terapi sensori integrasi dapat membantu mendeteksi otak anak,” tutur Anang Arief.

Anang Arief mengemukakan pentingnya kesadaran orang tua terhadap kondisi autisme, dan menyayangkan masih banyak orang tua tidak menerima kondisi anak dan menunda penanganan hingga usia lima tahun.

“Banyak juga orang tua yang masih menganggap nanti juga bisa bicara sendiri. Jangan sampai ada pembiaran, sistem saraf otak akan melambat dalam menerima stimulus di atas usia tujuh tahun,” tekan Anang Arief.

Oleh karena itu, penanganan yang terlambat dapat memengaruhi perkembangan anak secara signifikan dan berharap orang tua lebih peduli terhadap tumbuh kembang anak, dan tidak ragu untuk mencari bantuan dokter spesialis jika memiliki beberapa tanda autisme.#

ANTARA|Hoesin KH

Comments are closed.