BERITAKALTIM.CO – Arus balik Lebaran tidak hanya membawa tradisi silaturahmi, tetapi juga memicu gelombang urbanisasi yang semakin signifikan di kota-kota besar, termasuk Samarinda.
Fenomena ini menjadi perhatian banyak pihak, terutama bagi pengamat sosial, seperti Muhammad Arifin dari Universitas Mulawarman (Unmul), yang menilai bahwa urbanisasi pasca-Lebaran dapat menjadi ancaman sekaligus peluang bagi pertumbuhan kota.
Arifin, yang ditemui di Samarinda pada Jumat (4/4/2025), menjelaskan bahwa pertumbuhan sebuah kota selalu berkaitan erat dengan mobilitas penduduk, baik yang bersifat reguler maupun permanen. Mobilitas permanen, yaitu perpindahan penduduk yang menetap di kota besar, menjadi sorotan utama dalam fenomena ini.
“Ketika pendatang datang tanpa keterampilan yang memadai, mereka berpotensi menjadi beban bagi kota, Ini bisa memicu masalah-masalah seperti perumahan yang tidak memadai, munculnya permukiman kumuh, kemiskinan, pengangguran, hingga kerawanan sosial.” ungkap Arifin.
Samarinda, lanjut Arifin, sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, memiliki daya tarik besar bagi masyarakat desa, terutama karena fasilitas pendidikan, infrastruktur yang berkembang pesat, peluang kerja yang relatif lebih banyak, serta gaya hidup yang ditawarkan oleh kota ini.
Selain itu, dengan adanya rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Penajam Paser Utara (PPU), Samarinda sebagai kota satelit penyangga berpotensi mengalami lonjakan jumlah penduduk yang signifikan.
“Urbanisasi sering kali dipicu oleh momen Lebaran. Banyak orang, terutama dari daerah Sulawesi, datang berbondong-bondong ke kota-kota besar seperti Samarinda karena akses transportasi yang semakin mudah,” ujar Arifin.
Pelajaran dari Pengalaman Kota-kota Lain
Arifin mengutip contoh kasus di Balikpapan, yang diprediksi akan mengalami perluasan permukiman ke wilayah Balikpapan Utara yang terhubung dengan Samboja. Jika prediksi ini terwujud, Samarinda sebagai kota tetangga akan merasakan dampaknya, mengingat kedekatannya dan keterkaitan ekonomi antar kedua kota tersebut.
“Ini adalah kesempatan bagi Samarinda untuk mempersiapkan diri lebih awal. Pemerintah kota perlu belajar dari pengalaman kota lain seperti Balikpapan, yang menghadapi dampak serupa. Langkah tegas perlu diambil untuk mengelola urbanisasi ini, Pendatang baru yang tidak memiliki keterampilan atau tujuan yang jelas sebaiknya dipulangkan ke daerah asal mereka,” jelas Arifin.
Arifin menekankan pentingnya solusi praktis dan terencana dalam menghadapi pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol. Meskipun pendatang terampil dapat memberikan kontribusi pada perekonomian kota, masalah terkait ketersediaan lahan permukiman tetap menjadi tantangan besar.
“Samarinda perlu mengantisipasi potensi masalah seperti keterbatasan lahan permukiman, pengurangan ruang terbuka hijau, dan peralihan lahan resapan air menjadi permukiman. Jika masalah ini tidak segera ditangani, banjir akan menjadi ancaman nyata bagi kota,” tegasnya.
Sampah masalah serius yang harus diperhatikan.
“Peningkatan jumlah penduduk yang pesat akan memperburuk masalah sampah. Pemerintah perlu memikirkan solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif,” lanjut Arifin.
Untuk menghadapi tantangan ini, Arifin menyarankan agar Pemerintah Kota Samarinda memanfaatkan peluang yang ada untuk melakukan perencanaan kota dengan lebih bijak.
Salah satu langkah yang bisa diambil adalah dengan menata kawasan permukiman secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Penyediaan ruang terbuka hijau yang cukup, pengendalian pertumbuhan permukiman yang tidak terkendali, serta pengembangan infrastruktur yang ramah lingkungan harus menjadi prioritas.
“Kota ini harus bisa menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan ekologi. Dengan pengelolaan yang baik, urbanisasi bukan hanya menjadi tantangan, tetapi juga bisa menjadi peluang untuk menciptakan Samarinda yang lebih modern dan ramah lingkungan,” tegas Arifin.#
Reporter: Yani|Editor: Hoesin KH
Comments are closed.