BERITAKALTIM.CO – Menjelang musim kurban 2025, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kembali memperkuat barisan untuk mencegah penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang sempat merebak di berbagai wilayah Indonesia.
Meski saat ini Kaltim telah dinyatakan bebas PMK sejak Februari lalu, upaya antisipasi tetap dilakukan secara serius, termasuk dengan menyiapkan ribuan dosis vaksin untuk ternak.
PMK, atau dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) dan Apthtae Epizooticae, merupakan penyakit menular akut yang menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, kambing, dan domba. Virus ini sangat mudah menyebar, terutama melalui mobilitas daging dan ternak yang terinfeksi.
Ketua Tim Perlindungan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim, Maulana Firmansyah, menyebut bahwa koordinasi intensif telah dilakukan dengan pemerintah pusat. Vaksinasi akan segera digelar menyasar wilayah-wilayah rawan dan lokasi penjualan hewan kurban.
“Hari ini kita sudah menghimpun kebutuhan vaksin sekitar 3.500 dosis dari kabupaten dan kota. Ini nantinya akan didistribusikan ke penjual atau pengepul sapi kurban, termasuk untuk ternak yang berada dalam radius 3 kilometer dari titik penjualan,” ujar Maulana saat di temui di DPKH Kaltim, Selasa (22/4/2025).
Maulana menyebutkan bahwa tidak ada laporan kasus PMK di Kaltim sejak Februari hingga Maret 2025. Kondisi ini menjadikan Kaltim sebagai salah satu provinsi yang berhasil mengendalikan wabah secara efektif.
Namun, Maulana menegaskan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, apalagi menjelang Iduladha ketika mobilitas ternak meningkat tajam.
“Alhamdulillah, Kaltim sudah bisa dikatakan zona hijau PMK. Tapi kita tidak boleh lengah. Hewan-hewan dari luar masih masuk, dan itu tetap harus dikontrol ketat,” tegas Maulana.
Untuk mencegah masuknya hewan yang terinfeksi, DPKH bekerja sama dengan karantina hewan di daerah asal pengiriman seperti NTT dan Sulawesi. Hewan-hewan tersebut akan dikarantina selama 14 hari dan diperiksa secara menyeluruh.
“Kalau dalam dua minggu masa karantina tidak ditemukan gejala PMK, maka baru boleh masuk. Karantina dilakukan di daerah asal seperti Sulawesi, NTT, Masuk ke pelabuhan, kami lakukan karantina ulang,” jelas Maulana.
Rata-rata, Kaltim menerima sekitar 1.500 ekor sapi dari NTT per bulan, sementara dari Sulawesi jumlahnya fluktuatif tergantung kebutuhan pasar.
Peternak lokal juga memegang peran penting dalam penyediaan hewan kurban. Banyak dari mereka membeli sapi dari luar daerah untuk kemudian digemukkan di Kaltim dalam waktu 3 hingga 6 bulan.
“Biasanya mereka pelihara dulu, gemukkan di sini. Waktunya pas menjelang Idul Adha. Di situlah keuntungan mereka,” ungkap Maulana.
Sentra peternakan dan penggemukan ternak di Kaltim tersebar di beberapa wilayah, seperti Kutai Kartanegara (Kukar), Balikpapan, dan Bontang, yang dikenal aktif dalam industri peternakan sapi.
Maulana mengapresiasi peran serta masyarakat dan para peternak yang terus mendukung upaya pencegahan PMK melalui penerapan protokol kesehatan hewan dan kerja sama dalam program vaksinasi.
“Kalau semua pihak mendukung, Insya Allah kita bisa pertahankan Kaltim tetap aman. Vaksinasi, karantina, dan edukasi itu kunci utama,” urai Maulana.#
Reporter : Yani | Editor : Hoesin KH
Comments are closed.