BeritaKaltim.Co

Seno Aji: Polusi Plastik Adalah Bom Waktu

BERITAKALTIM.CO – Matahari tepat di atas kepala, memancarkan terik khas Samarinda, Kalimantan Timur. Namun, panas menyengat tak menyurutkan langkah Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji. Di tengah riuhnya lalu lintas di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, tepat di depan megahnya Islamic Center, sebuah pemandangan tak biasa menarik perhatian.

Seno Aji, dengan sigap dan tanpa canggung, membungkuk dan memungut beberapa buah plastik bekas minuman dan puntung rokok yang berserakan di parit kecil pinggir jalan.

Aksi spontan ini bukan sekadar insiden kecil, melainkan sebuah gestur kuat yang mewakili pesan besar di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 yang diperingati hari ini, 5 Juni 2025.

“Momen ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan moral, seruan aksi kolektif, dan momentum penyadaran bersama,” tegas Seno Aji, beberapa saat setelah aksinya, dengan raut wajah serius namun penuh optimisme.

“Hentikan Polusi Plastik”: Lebih dari Sekadar Slogan, Sebuah Tanggung Jawab

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini, “Hentikan Polusi Plastik,” bukanlah sekadar slogan yang lewat begitu saja bagi Seno Aji. Baginya, itu adalah wujud tanggung jawab kolektif untuk menjawab tantangan utama yang mengancam planet bumi: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

“Ketiganya saling berkaitan, dan polusi plastik adalah simbol sekaligus akibat dari cara hidup yang tak berkelanjutan,” jelasnya, merujuk pada data dari Program Lingkungan PBB (UNEP) tahun 2022.

Angka-angka yang dipaparkan Seno Aji memang mengkhawatirkan. Menurut laporan UNEP, “Drowning in Plastics” (2021), dunia saat ini memproduksi lebih dari 400 juta ton plastik setiap tahun, namun hanya kurang dari 10% yang berhasil didaur ulang.

Sisa miliaran ton plastik itu, seperti bom waktu ekologis, mencemari tanah, sungai, laut, dan yang paling mengerikan, telah terdeteksi dalam rantai makanan manusia.

“Polusi plastik adalah bom waktu ekologis,” tegas Seno Aji.

Aksi memungut sampah di pinggir jalan itu, bagi Seno Aji, adalah cerminan dari persoalan besar yang kerap terjadi di Kaltim, khususnya Samarinda. Ia menyinggung arahan Menteri Lingkungan Hidup tentang pengelolaan lingkungan hidup yang baik di daerah masing-masing.

Namun, ia menyadari bahwa implementasinya seringkali terganjal pada hal-hal kecil yang terkesan remeh, namun berdampak besar.

“Memang ini kecil, kita memisahkan sampah dan residu, kemudian bagaimana masyarakat harus ikut dalam meminimalisir sampah di jalanan,” ujarnya.

Seno Aji kemudian memberikan contoh yang tak bisa dibantah.

“Kami sampaikan himbauan juga kepada masyarakat kalau punya sampah di mobilnya atau kendaraannya jangan dibuang sembarangan. Ini contohnya, sepanjang Islamic Center itu banyak sampah di selokannya, sampah-sampah plastik seperti plastik es, sedotan, tusuk pentol.” tegasnya.

Seno Aji menggelengkan kepala. “Itu memang kelihatannya kecil, tapi banyak sekali. Ini akhirnya membuat banjir, membuat selokan sumbat, akhirnya banjir. Kalau banjir yang disalahkan pemerintah lagi,” ujarnya, menyiratkan lingkaran setan tuding-menuding yang tak ada habisnya.

Baginya, masalah banjir di Kaltim bukan hanya karena curah hujan tinggi, melainkan juga akibat tersumbatnya saluran air oleh sampah, yang mayoritas adalah plastik.

Panggilan Kolektif: Setiap Tangan, Setiap Aksi, Adalah Solusi

Melihat dan merasakan langsung dampak dari kebiasaan buruk ini, Seno Aji menyerukan ajakan yang lebih inklusif.

“Maka ayo sama-sama, baik mahasiswa, pengemudi taksi, dan sebagainya, dan para wisatawan di Kaltim benar-benar menjaga sampah masing-masing, tidak dibuang ke mana-mana, melainkan di tempat sampah.” harapnya.

Pesan ini bukan sekadar retorika. Aksi memungut sampah oleh seorang Wakil Gubernur di tengah keramaian adalah manifestasi nyata dari komitmen. Ia ingin menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.

Dari hal terkecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, hingga kebijakan besar tentang pengelolaan limbah, setiap langkah memiliki arti.

Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, Seno Aji ingin mengajak seluruh warga Kaltim untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi aktor dalam upaya penyelamatan lingkungan.

Ia berharap, melalui aksi nyata dan kesadaran kolektif, “bom waktu plastik” yang mengancam Kaltim dapat diredakan, demi masa depan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan adalah investasi terbaik untuk masa depan kita bersama.

Reporter : Yani | Editor : Wong

Comments are closed.