BERITAKALTIM.CO – Kamis malam terakhir di bulan Juli menjadi malam yang panjang dan menegangkan di Gang 1 dan Gang 3 Jalan AM Sangaji, Samarinda. Dua gang sempit di tengah kawasan padat penduduk itu digerebek Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur.
Targetnya: dua titik yang dicurigai sebagai loket narkoba yang beroperasi hampir 24 jam.
Dalam operasi yang dimulai sejak petang hingga larut malam itu, BNNP berhasil mengamankan 94 orang—termasuk tujuh perempuan. Mereka diduga kuat sebagai pengguna dan pembeli sabu.
Namun pengedar utama, menurut petugas, berhasil kabur lewat jalur yang sudah disiapkan: melompat ke sungai saat mendengar kabar kedatangan petugas.
“Kami datang diam-diam, tapi mereka sudah siaga, Ada pemantau di gang yang kami sebut ‘sniper’. Begitu melihat gerakan mencurigakan, mereka langsung memberi kode. Pelaku utama kabur ” ujar AKP Dwi Wibowo Laksono, Kepala Seksi Intelijen BNNP Kalimantan Timur, saat ditemui, Jumat (1/8/2025.
Gang 1 dan Gang 3, menurut Dwi, selama ini dikenal warga hanya sebagai jalan tikus di lingkungan padat.
Namun dalam sebulan terakhir, kawasan itu berubah menjadi terminal narkoba dadakan. Siang dan malam, lalu lalang orang asing tak pernah berhenti.
“Seperti warung kelontong, tapi jualannya sabu,” kata Dwi menggambarkan situasi yang mereka terima dari laporan warga.
Keluhan demi keluhan mengalir ke BNNP. Tak hanya dari warga sekitar, tapi juga tokoh adat. Mereka resah dengan perubahan sosial yang menyertai maraknya peredaran narkoba.
Ribut-ribut malam, suara motor menderu di gang sempit, hingga peningkatan kriminalitas kecil-kecilan menjadi pemicu keresahan itu.
Operasi malam itu memang tidak membuahkan barang bukti sabu dalam jumlah signifikan. Para pelaku diduga sudah bersih-bersih sebelum petugas tiba. Namun, Dwi menilai hasil operasi tetap strategis.
“Target kami bukan cuma pengedar, tapi mematikan pasar. Kalau pembelinya diamankan dan direhabilitasi, pasokan akan mandek sendiri,” ujarnya.
Menariknya, dua gang di Jalan AM Sangaji ini bukan dikenal sebagai wilayah langganan narkoba. Kawasan ini selama ini relatif bersih dari operasi semacam itu. Namun dalam sebulan terakhir, lokasi ini berubah.
“Ini migrasi pasar gelap, Kemungkinan besar karena tekanan di lokasi lama, para pemain pindah ke sini.” pungkasnya.
Reporter : Yani | Editor : Wong
Comments are closed.