BeritaKaltim.Co

Perjuangan Wanda Hamidah dalam Misi Kemanusiaan ke Gaza: “Yang Kami Lakukan Legal”

BERITAKALTIM.CO — Raut lelah tampak di wajah Wanda Hamidah saat melangkah keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu malam. Namun di balik keletihan itu, aktivis publik dan mantan anggota DPRD DKI Jakarta itu tetap menebar senyum hangat kepada wartawan yang menantinya. Ia baru saja pulang dari perjalanan panjang mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla, konvoi kapal yang berusaha menembus blokade Israel terhadap Jalur Gaza.

“Yang kami lakukan adalah legal, dan dilindungi oleh hukum internasional,” ujarnya dengan tegas. Suaranya tenang, namun sarat emosi. Ia menyadari, apa yang ia dan ratusan relawan dari berbagai negara lakukan bukan sekadar aksi politik, melainkan seruan kemanusiaan.

Wanda menjadi salah satu delegasi asal Indonesia yang berupaya bergabung dalam konvoi tersebut. Meski akhirnya tidak berhasil naik ke kapal utama, ia terus menyuarakan pesan perdamaian dan dukungan terhadap warga Gaza yang hidup dalam pengepungan berkepanjangan.

Menurutnya, penyaluran bantuan kemanusiaan merupakan hak yang dijamin oleh Konvensi Jenewa 1949, Piagam PBB, serta Resolusi Dewan Keamanan PBB.

“Kami datang membawa bantuan, bukan senjata. Tapi yang terjadi justru penangkapan terhadap 500 partisipan Global Sumud Flotilla oleh pasukan Israel,” ungkapnya prihatin.

Beberapa peserta, kata Wanda, telah dipulangkan ke negara asalnya setelah menandatangani surat deportasi. Sementara yang menolak menandatangani, hingga kini masih ditahan di penjara Israel. “Kalau kami menandatangani surat deportasi, kami akan dikirim pulang. Tapi kalau tidak, kami akan ditahan,” kisahnya.

Perjuangan ini, lanjut Wanda, bukan hanya soal politik luar negeri, tetapi soal kesadaran kemanusiaan dan moral bangsa. Ia mengutip amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan di muka bumi.
“Indonesia menolak setiap tindakan yang tidak berperikemanusiaan dan tidak berperikeadilan. Ini esensi dari UUD 1945,” katanya mantap.

Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebut bahwa seluruh kapal peserta Global Sumud Flotilla telah dicegat pasukan Israel. Kapal terakhir yang terdeteksi, “Marinette” berbendera Polandia, berhenti sekitar 43 mil laut dari perairan Gaza sebelum dihentikan militer Zionis.

Misi kemanusiaan ini memang berakhir tanpa keberhasilan mencapai Gaza. Namun bagi Wanda Hamidah, perjalanan itu menyisakan makna perjuangan yang lebih dalam — tentang keberanian, solidaritas, dan keyakinan bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas negara.

“Perjuangan ini belum selesai,” katanya lirih. “Selama masih ada penjajahan dan penderitaan di Palestina, hati kita tidak boleh diam.”

ANTARA | Wong

Comments are closed.