BeritaKaltim.Co

Kenangan Kota Tua Kebun Sayur Balikpapan: Jejak Sekolah dan Peristiwa Besar

BERITAKALTIM.CO – Kawasan Kebun Sayur di Balikpapan dikenal sebagai salah satu pusat kehidupan masyarakat Tionghoa dan Melayu pada masa lalu. Di sinilah berdiri Sekolah Tjina Chung Hua Tedung Hui, sebuah lembaga pendidikan yang menjadi saksi perkembangan pendidikan di kota minyak ini. Gedung sekolah tersebut kemudian beralih fungsi menjadi Bank Exim, dan kini dikenal sebagai Bank Mandiri Cabang Kebun Sayur — bukti nyata perubahan zaman yang terus bergulir.

Sementara itu, Sekolah Teknik Negeri (STN) juga memiliki perjalanan panjang. Awalnya, STN mendapat gedung baru di kawasan Gunung Pasir, yang kelak berubah menjadi SMP Negeri 12. Beberapa sekolah lain pun bermunculan sebagai hasil dari pertumbuhan penduduk dan kebutuhan pendidikan, seperti SMP Negeri 3 di kawasan Strat 3 dan SMP Negeri 4 di Sidodadi, Kelurahan Baru Tengah.

Pada masa itu, hanya ada dua SMP di kawasan Gunung Pasir — SMP I dan SMP II — sedangkan SMP 3 berdiri di Kampung Baru 3, di gedung yang kini menjadi SD di samping MTS Muara Rapak, arah Jembatan Besi menuju Gunung Polisi. Kepala sekolah pertama SMP 3 dikenal dengan nama Bapak Maliangkay, sosok pendidik yang membawa semangat belajar di masa-masa sulit.

Sebelum pindah ke Kebun Sayur pada tahun 1966, SMP 3 memiliki filial di SD 02. Namun, kegiatan belajar sempat terhenti akibat peristiwa Jumat, 15 Oktober 1965, yang mengguncang banyak sekolah di Balikpapan. Baru pada tahun 1966, setelah menempati gedung Sekolah Chung Hua Tseung Hui, kegiatan belajar mengajar kembali berjalan. Gedung tersebut bahkan sempat digunakan bersama oleh SMP 3, SMP 4, dan STN — sebuah bentuk solidaritas pendidikan di masa pasca-gejolak politik nasional.

Namun, sejarah Kebun Sayur tak hanya diwarnai oleh kisah pendidikan. Satu peristiwa tragis mengguncang kawasan ini pada Kamis, 22 Februari 1979, sehari setelah perayaan Cap Go Meh. Sekitar pukul 17.00 WITA, kawasan perdagangan Kebun Sayur — yang juga dikenal sebagai Kota Toea Balikpapan — hangus dilalap si jago merah. Api melahap rumah-rumah dan toko-toko legendaris seperti Toko Nasional dan Toko Hong Kong, meninggalkan puing dan kenangan duka bagi warga yang pernah menganggap kawasan itu sebagai pusat kehidupan mereka.

Kebakaran besar itu menandai berakhirnya era Kebun Sayur sebagai jantung kota lama Balikpapan. Namun, dalam ingatan banyak orang, wilayah ini tetap hidup — sebagai simbol kebersamaan, perjuangan pendidikan, dan semangat warga Balikpapan dalam menghadapi perubahan zaman.

Naskah ditulis oleh Muhammad Asran, pemerhati sejarah, tinggal di Balikpapan

Comments are closed.