BeritaKaltim.Co

Mengikuti Jejak “Mecaq Undat” Bersama Bupati Aulia Rahman Basri di Desa Budaya Sungai Bawang

BERITAKALTIM.CO – Di pagi yang cerah di Desa Budaya Sungai Bawang, aroma tanah basah dan kayu dari Lamin Adat bercampur dengan suara tawa masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Kecamatan Muara Badak. Hari itu bukan hari biasa. Sungai Bawang bersiap kembali menjadi rumah bagi tradisi tua yang diwariskan turun-temurun: Festival Budaya Mecaq Undat, sebuah upacara adat panen padi masyarakat Dayak Kenyah.

Lamin Adat berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjalanan panjang budaya leluhur. Di sinilah masyarakat berkumpul, mengenakan busana adat dengan motif dan warna yang sarat makna. Denting gong pelan terdengar dari kejauhan, menandai bahwa tamu-tamu kehormatan mulai tiba.

Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, bersama Kadis BPMD Arianto, Camat Muara Badak Arpan, dan Ketua Dewan Adat Kaltim Viktor Juan, tiba tidak dengan mobil dinas—melainkan dengan perahu. Cara penyambutan ini bukan hanya simbolis, tetapi mencerminkan kedekatan masyarakat dengan sungai dan alam.

Sesampainya di depan Lamin Adat, sebuah prosesi sakral menanti. Kepala adat meminta Aulia memutar sebuah bambu berisi air, ritual pembersihan diri agar sang tamu diberkahi kesehatan dan keselamatan. Air itu menetes perlahan di tanah, seolah menjadi perantara doa masyarakat kepada Sang Pencipta.

Suasana menjadi hening sesaat—sebuah penghormatan kepada tradisi yang telah dijaga ratusan tahun lamanya.

Festival Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Penjaga Identitas

Ketua panitia, Martinus Kuhi, dengan suara bergetar menahan haru, menyambut para tamu yang hadir. Ia menyebut festival ini sebagai “wujud syukur dan upacara adat panen yang telah dilakukan dari tahun ke tahun”—sebuah tradisi yang dalam makna harfiahnya merujuk pada menumbuk beras hingga menjadi tepung.

Baginya, Mecaq Undat lebih dari sebuah seremoni. Ini adalah rumah bagi nilai-nilai yang selama ini menjaga persaudaraan masyarakat Dayak Kenyah. Namun, di balik kerja keras panitia, terselip kerendahan hati.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi sesuai pepatah adat: Tegak Mati Hamelung Gunung, Tapi Apa Daya Tangan Tak Sampai,” tutur Martinus.

Sebuah pengingat bahwa kerja budaya adalah kerja penuh cinta, meski penuh keterbatasan.

Festival tahun ini dimeriahkan dengan tarian khas seperti Tari Kancet Lasan dan Tari Udoq Kiba, serta perlombaan olahraga tradisional: menyumpit, begasing, hingga belogo—jejak-jejak kebudayaan yang bertahan di tengah modernisasi.

Aulia Rahman Basri: “Ini Lebih dari Festival, Ini Jati Diri Kita”

Dalam sambutannya, Bupati Aulia menatap masyarakat dengan sorot penuh kebanggaan. Ia menyebut Mecaq Undat sebagai etalase kekayaan Dayak Kenyah yang bukan hanya indah, tetapi juga sarat nilai-nilai kehidupan.

“Di tengah derasnya arus modernisasi, menghidupkan kembali warisan budaya agar anak cucu kita mengetahui tradisi leluhur adalah hal yang sangat penting,” ujarnya.

Aulia juga mengajak masyarakat untuk melihat festival ini sebagai simbol persatuan dan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Inilah cara kita merawat identitas dan jati diri,” lanjutnya.

Pemerintah Kabupaten Kukar, kata Aulia, berkomitmen menjadikan wisata budaya sebagai kekuatan daerah. Desa Budaya Sungai Bawang adalah salah satu aset yang akan terus dikembangkan, sejalan dengan visi Kukar Idaman Terbaik yang menempatkan kebudayaan sebagai pilar pembangunan.

Tradisi yang Diwariskan dari Generasi ke Generasi

Ketika Aulia memukul gong dan menyumpit balon sebagai tanda dimulainya festival, wajah-wajah masyarakat berubah bahagia. Anak-anak berlari kecil menuju arena lomba, para ibu bersiap menyajikan kuliner tradisional, dan para penari adat merapikan hiasan kepala mereka.

Festival ini adalah ruang untuk pulang bagi banyak orang Dayak Kenyah di Kukar—ruang untuk mengingatkan bahwa jati diri mereka tidak pernah hilang.

Di Sungai Bawang, hari itu bukan hanya tentang pesta panen. Ia adalah tentang rasa syukur, kebersamaan, dan identitas yang abadi.
Dan selama irama gong masih berdentang di Lamin Adat, Mecaq Undat akan terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

HARDIN | WONG | ADV

Comments are closed.