BeritaKaltim.Co

Kisah Seno Aji: Dari Telur Dibagi Empat hingga Kursi Wakil Gubernur Kalimantan Timur

BERITAKALTIM.CO — Tidak ada yang mudah dalam hidup Seno Aji, Wakil Gubernur Kalimantan Timur. Di balik sosoknya yang kini dikenal sebagai pejabat yang tenang dan visioner, tersimpan kisah perjuangan panjang penuh keterbatasan kisah anak pegawai negeri sederhana yang menjadikan kesabaran, kerja keras, dan pendidikan sebagai kunci menembus batas hidup.

Lahir di Semarang 12 November 1971 dari keluarga besar dengan enam bersaudara, Seno tumbuh dalam kesederhanaan. Ayahnya, seorang pegawai negeri golongan 2C, menanamkan nilai disiplin dan pentingnya pendidikan kepada seluruh anak-anaknya, meski hidup serba terbatas.

“Kami berenam waktu itu semuanya sekolah. Bapak hanya PNS golongan kecil, tapi beliau tidak pernah putus asa. Walaupun hanya lulusan SMA, beliau selalu bilang: ‘Anak-anakku harus S1 semua’,” kenang Seno dengan mata berbinar.

Namun tekad itu tidak mudah dijalankan. Masa kecil Seno diwarnai dengan perjuangan yang sederhana tapi berat.

“Dulu kalau makan, telur satu dibagi empat. Sekarang orang makan dua atau tiga telur, dulu kami harus berbagi,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa-masa itu.

Seno kecil menempuh pendidikan dasarnya dengan penuh perjuangan. Setiap pagi, ia berjalan kaki sejauh lima kilometer menuju sekolah.

Ketika ayahnya dipindahkan ke Denpasar, Bali, perjuangan itu tidak berhenti. Di masa SMP, satu-satunya alat transportasi yang ia punya adalah sebuah sepeda tua.

“Saya harus bersepeda delapan kilometer pergi dan delapan kilometer pulang. Sehari 16 kilometer. Kadang panas, kadang hujan. Tapi saya bersyukur, itu membuat badan sehat,” katanya sambil tertawa kecil.

Namun perjuangan itu tidak selalu mulus. Karena sekolahnya berlangsung siang hari, sering kali ia merasa mengantuk di kelas akibat kelelahan di jalan.

“Kadang guru saya sampai heran kenapa saya sering tertidur. Ya karena saya berangkat siang naik sepeda, panas sekali,” ujarnya mengenang masa remajanya.

Seno tumbuh dalam nilai hemat dan tangguh. Ketika tiba saatnya masuk SMA, ia memilih sekolah negeri karena biaya yang lebih ringan. Di sanalah ia mulai belajar memikul tanggung jawab. Ia kemudian memberanikan diri kembali ke Semarang, kota kelahirannya, demi mencari pendidikan yang lebih baik.

“Saya SMA di Semarang di SMA Negeri 1 Semarang (1987-1990) kadang masih naik sepeda juga. Tapi ada kemajuan, karena kakak saya punya motor. Kalau dia tidak kuliah, saya bisa pinjam motornya,” ujarnya sambil tersenyum.

Tiga kakaknya sudah kuliah waktu itu. Biaya keluarga kian berat. Tapi sang ayah tak pernah mengeluh, Setelah lulus dari SMA. Ia di minta untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas, Hanya satu pesan: cari kampus paling murah, asal tetap kuliah.

“Saya akhirnya kuliah di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta waktu itu di bawah Kementerian Pertahanan. Uang kuliah cuma Rp60.000 per semester,” kenang Seno.

Seno kuliah sambil hidup sederhana. Uang kiriman dari Orangtuanya hanya Rp50.000 per bulan, Rp20.000 untuk kos, dan Rp30.000 untuk makan serta kebutuhan lain.

“Saya harus pintar-pintar atur uang. Tapi dari situ saya belajar hidup mandiri,” katanya.

Tahun 1995, Seno lulus kuliah dan merantau dan mulai bekerja di dunia tambang. Ia diterima di PT Kelian Equatorial Mining (KEM) sebuah perusahaan tambang emas di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dari sinilah jejaknya di Bumi Etam dimulai.

Perjalanan kariernya terus menanjak. Ketekunan membawanya hingga ke Australia, tempat ia bekerja sekaligus melanjutkan pendidikan magister di bidang Pertambangan Lingkungan. Setelah tiga tahun di Australia, ia berpindah ke Laos dan Vietnam, memperdalam pengalaman internasionalnya.

“Saya belajar banyak di luar negeri. Ternyata orang asing sangat menghormati kita jika kita punya kemampuan dan argumen kuat. Mereka mengakui bahwa tenaga kerja Indonesia tidak kalah,” ucapnya bangga.

Namun di balik kesuksesan itu, hatinya tetap tertambat di tanah Kalimantan. Ia kembali ke Kaltim dengan semangat baru bukan lagi sekadar berkarier, tetapi berkontribusi untuk pembangunan daerah.

Terjun ke Politik: Dari DPRD hingga Wakil Gubernur

Melihat banyak hal yang bisa diperbaiki, terutama dalam sektor pendidikan dan kesejahteraan rakyat, Seno mulai terjun ke dunia politik.

Awalnya, ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebelum akhirnya berlabuh di Partai Gerindra pada 2010. Empat tahun kemudian, pada Pemilu 2019-2024, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Provinsi Kaltim, berhasil terpilih dan menjadi Wakil Ketua II.

“Dari DPRD saya banyak belajar tentang pendidikan, pekerjaan, dan kebijakan publik. Saya ingin semua anak Kaltim punya kesempatan sekolah tinggi seperti cita-cita bapak saya dulu,” tuturnya.

Tahun 2024, Seno Aji mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur Kalimantan Timur, mendampingi Dr. H. Rudy Mas’ud (Harum). Pasangan ini kemudian terpilih dengan program unggulan “Gratis Pol”, yakni kebijakan pembebasan biaya kuliah bagi mahasiswa Kaltim.

“Alhamdulillah, tahun ini mahasiswa semester satu sudah tidak membayar kuliah. Insyaallah tahun depan semester dua sampai delapan juga gratis,” kata Seno dengan nada bangga.

Perjalanan panjang Seno Aji adalah cermin nyata bahwa kesulitan bukan akhir, tapi awal dari ketangguhan. Dari anak desa yang berjalan kaki lima kilometer menuju sekolah, kini ia menjadi pemimpin daerah yang membuka jalan pendidikan bagi generasi berikutnya.

“Saya dulu makan telur dibagi empat. Sekarang tugas saya memastikan anak-anak Kaltim punya kesempatan yang utuh pendidikan, kesehatan, dan masa depan yang lebih baik,” ucapnya.

Seno Aji bukan hanya seorang pejabat. Ia adalah simbol ketekunan, dan bukti bahwa mimpi besar bisa lahir dari rumah sederhana selama ada tekad, doa orang tua, dan semangat untuk terus belajar.

YANI | WONG

Comments are closed.