BERITAKALTIM.CO – Di sela tumpukan berkas dan notulen rapat, di antara program pengembangan ekonomi kreatif dan strategi promosi pariwisata, Awang Khalik masih menyimpan sesuatu yang tak berubah sejak masa kecilnya: selembar kertas dengan goresan kata-kata sederhana, lahir dari rasa, bukan sekadar pikiran. Puisi.
“Kalau saya pikir-pikir lagi, mungkin hobi menulis saya ini awalnya cuma karena laporan Pramuka,” katanya terkekeh, di ruang kerjanya yang dipenuhi aroma kopi pagi dan kalender kegiatan pariwisata.
Itu bukan guyonan. Dari hal sederhana seperti menulis catatan lapangan kegiatan perjusami, menulis tentang tenda bocor di tengah hujan, atau kejuaraan memasak nasi goreng antar-regu, Awang mulai mengenal dunia tulisan tanpa tahu bahwa kelak, kebiasaan itu akan membentuk cara berpikir, cara merasa, bahkan cara bekerja.
Awang kecil bukan tipe anak yang betah berdiam diri. Ia aktif di Pramuka, senang berpetualang, tapi ada satu hal yang membuatnya berbeda dari kawan-kawan sebayanya: ia selalu menulis apa pun yang dilihat dan dialami.
“Kalau yang lain bawa kompas, saya bawa buku catatan,” kenangnya sambil tersenyum.
Semua pengalamannya ditulis rapi. Tentang perjalanan, tentang kawan yang lucu, bahkan tentang nasi goreng hangus. Dari lembaran-lembaran itulah Awang mulai mengenal betapa menulis bisa mengabadikan waktu.
Ketika guru memberi tugas menulis pengalaman liburan, Awang tak perlu bingung. Ia sudah punya stok catatan segar dari lapangan.
“Guru saya sampai kaget, katanya ‘ini anak sudah siap sebelum disuruh.’ Tulisan saya bahkan ditempel di mading sekolah, dijadikan bahan bacaan perpustakaan,” ujarnya dengan nada bangga yang tak disembunyikan.
Dari Catatan Menjadi Cerita
Masuk SMP, Awang pindah ke Jambi. Di sana, lingkungannya lebih beragam. Ia menemukan seni dalam bentuk yang lebih nyata: film dan teater.
“Waktu itu ada produksi film lokal. Saya ikut audisi dan, entah kenapa, malah kepilih jadi pemeran antagonis pemeran jahat,” katanya tertawa lepas.
Dalam film itu, ia diminta memakai bahasa Melayu daerah setempat. Bukannya sekadar berdialog biasa, Awang malah menulis ulang kalimatnya dalam bentuk pantun tarsul, semacam pantun berirama bebas yang hidup di tradisi Melayu.
“Saya baca dengan gaya mantra, tapi tetap pakai pantun. Jadi kayak dialog tapi berima, dan orang-orang suka. Dari situ saya merasa, bahasa itu hidup. Bisa dimainkan, bisa bernyawa,” ujarnya
Dunia seni kemudian menjadi bagian dari napasnya. Ia sering ikut lomba-lomba kesenian di tingkat kabupaten, bergaul dengan para guru seni, bahkan sering diminta menggantikan gurunya mengajar lagu atau menyiapkan pementasan.
“Guru saya bilang, ‘Kalau saya nggak ada, kamu saja yang urus anak-anak latihan.’ Dari situ saya belajar tanggung jawab dan rasa percaya diri. Mungkin itu juga yang mengasah saya bicara di depan orang banyak sekarang,” katanya.
Teater SMA dan Lahirnya Improvisasi
Saat SMA, dunia Awang makin luas. Ia bergabung dalam kelompok teater sekolah yang dipimpin guru bahasa Indonesia. Bentuk pementasannya masih sederhana tablo semacam teater musik yang mengandalkan rekaman suara.
Setiap kali ada acara resmi, mulai dari tujuhbelasan sampai resepsi di kantor gubernur, teater mereka selalu tampil. Awang tak hanya berperan di panggung, tapi juga mulai jadi pengatur laku semacam sutradara muda yang menata adegan.
“Dari situ saya belajar bahwa teater bukan cuma soal naskah. Kadang teks itu kaku, dan kita harus berani improvisasi. Kadang justru improvisasi itu yang bikin hidup,” ucapnya.
Menyusuri Jalan ke Yogya: Menjadi Seniman Seutuhnya
Setelah lulus SMA, Awang melangkah ke Yogyakarta. Kota yang sering disebut “tanah subur bagi seniman” itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia diterima di lembaga seni setelah melewati tes seleksi.
“Jogja itu seperti sekolah kehidupan, Saya bertemu orang-orang besar seperti MH Najib dan Butet Kartaredjasa. Mereka bukan cuma mengajarkan seni, tapi filosofi hidup.”katanya.
Di Jogja, Awang mulai banyak menulis naskah-naskah pendek berdurasi 30 menit. Dari kisah keseharian, humor kecil, sampai kritik sosial. Tapi satu benang merah selalu hadir: puisi.
“Kadang saya selipkan puisi di tengah dialog. Atau jadikan puisi itu monolog tokoh. Karena bagi saya, puisi itu nyawa. Ia bisa menyambungkan cerita dan rasa,” katanya.
Ia juga belajar bahwa akting bukan sekadar meniru naskah, tapi menemukan makna.
“Mas Butet bilang, ‘Jangan terlalu teks banget, Awang. Hidupkan karaktermu.’ Sejak itu saya selalu menulis dengan rasa, bukan aturan,” kenangnya.
Dari Taman Budaya ke Kantor Pemerintah
Setelah kembali ke Kalimantan Timur, Awang bekerja di Taman Budaya. Dunia seninya tak padam. Ia jadi mentor bagi pelajar, pembina teater, penulis naskah, sekaligus pembaca puisi di berbagai acara.
Bahkan, ia sempat mengajar di Fakultas Ilmu Budaya.
“Saya nggak tahu tulisan saya bagus atau tidak, tapi setiap kali membaca ulang, ada kepuasan di situ. Kayak hasrat yang terbayar,” ucapnya.
Beberapa puisinya kemudian dibukukan dalam antologi bersama Kantor Bahasa. Tapi, ia tak mengejar pengakuan.
“Saya menulis bukan untuk dinilai. Saya menulis untuk tenang,” katanya.
Kini, di ruang birokrasi, Awang menjabat Kabid Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kaltim. Tapi di balik kemeja dan pin dinasnya, masih tersimpan jiwa penyair.
“Kalau rapat sudah selesai, kadang saya nulis dua atau tiga baris puisi. Untuk diri sendiri saja,” katanya tersenyum.
Tentang Hidup dan Puisi
Suatu hari, Awang mengikuti lomba membaca puisi yang di gelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim, di lomba antar ASN dan mahasiswa. Saat datang, banyak yang menyangka ia juri. Tapi ketika namanya dipanggil sebagai peserta, semua mata menatap.
“Begitu saya mulai membaca, ruangan jadi hening. Setelah selesai, banyak yang bilang, ‘Bapak tidak membaca puisi. Bapak hidup di dalamnya,’” ujarnya sambil tertawa kecil.
Ia percaya bahwa puisi bukan sekadar karya sastra, tapi cermin jiwa. “Puisi mengajarkan saya sabar, mendengar, dan melihat hal kecil dengan makna besar,” katanya.
Kini, ketika mengatur strategi ekonomi kreatif, Awang melihat banyak hal dari perspektif seniman. Ia tahu, kreativitas tidak bisa dipaksa oleh target, tapi tumbuh dari ruang yang diberi kebebasan.
“Saya merasa dunia yang saya jalani sekarang ini nyambung dengan masa lalu saya. Dulu menulis cerita perjalanan, sekarang menulis program kreatif. Esensinya sama: memberi ruang bagi ide,” ujarnya.
Kadang ia berpikir, kalau saja birokrasi bisa ditulis seindah puisi, mungkin dunia ini akan lebih tenang.
Di dunia yang makin sibuk, di antara rapat dan surat menyurat, Awang Khalik tetap menjaga puisinya hidup. Bagi pria yang pernah menulis laporan Pramuka dengan penuh semangat itu, hidup memang tak pernah lepas dari kata.
Ia tumbuh dari tulisan, bekerja dengan tulisan, dan akan selalu menulis karena di setiap kalimat yang lahir darinya, selalu ada denyut kemanusiaan.
YANI | WONG
Comments are closed.