BERITAKALTIM.CO – Langit di atas Perairan Ujoh Halang, Kabupaten Kutai Barat, masih tampak mendung ketika deru mesin kapal milik Tim SAR Gabungan memecah kesunyian air. Sejak subuh, para petugas berpakaian oranye dari Basarnas Kelas A Balikpapan telah bersiap dengan pandangan tajam ke arah arus yang tak bersahabat. Di benak mereka hanya satu hal: menemukan delapan korban yang hingga kini belum kembali dari laut.
Kecelakaan kapal ferry yang diduga kelebihan muatan itu terjadi pada Senin malam (10/11). Kapal yang berlayar dari dermaga kecil di Ujoh Halang menuju seberang sungai itu mendadak oleng, lalu tenggelam dalam hitungan menit. Dalam gelap dan derasnya arus, sebagian penumpang berhasil menyelamatkan diri. Namun delapan orang lainnya — Ira, Ilham, Pendi, Anci, Sello, Yanto, Dedy, dan Bogel — masih hilang tanpa kabar.
“Kami menerima laporan dari BPBD Kutai Barat malam itu juga. Tim langsung bergerak karena setiap menit sangat berarti,” ujar Koordinator SAR Balikpapan, di sela persiapan operasi pencarian, Selasa (11/11/2025).
Perjalanan Panjang Menuju Lokasi Kejadian
Tepat pukul 00.35 WITA, satu tim Search and Rescue Unit (SRU) diberangkatkan dari Kantor SAR Balikpapan. Dengan membawa perahu karet, alat deteksi bawah air, dan perlengkapan medis, mereka menempuh perjalanan darat dan sungai selama lebih dari 12 jam menuju titik pencarian di koordinat 0°2’51.42″N 115°34’9.62″E.
Sesampainya di lokasi sekitar pukul 12.35 WITA, tim segera memulai penyisiran. Cuaca yang berubah cepat dan arus yang kuat menjadi tantangan tersendiri. Namun di antara percikan air dan suara mesin, tak sedikit warga ikut bergabung, menggunakan perahu kecil mereka untuk membantu pencarian.
“Kami minta masyarakat, terutama nelayan di sekitar Ujoh Halang, ikut waspada. Kalau melihat sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan,” tegas salah satu petugas SAR melalui pengeras suara.
Operasi pencarian ini melibatkan berbagai unsur: Basarnas KPP Balikpapan, TNI AD Kutai Barat, BPBD Kutai Barat, dan PT. BDL Kutai Barat.
Mereka bekerja dalam satu komando, berpacu dengan waktu di tengah kondisi alam yang tidak selalu bersahabat.
Setiap sore, posko utama yang berdiri di tepi sungai berubah menjadi tempat koordinasi dan harapan. Petugas menandai peta, mengatur sektor pencarian, dan menyiapkan laporan untuk pusat komando di Balikpapan.
“Sinergi ini penting. Di jam-jam pertama, koordinasi cepat bisa menentukan nasib para korban,” ujar perwakilan Basarnas dengan nada tegas namun lelah.
Tak jauh dari posko, beberapa keluarga korban masih bertahan di tepian sungai. Mereka menatap permukaan air dengan tatapan kosong — antara pasrah dan berharap. Seorang ibu menangis pelan, sesekali menyebut nama anaknya, sementara petugas PMI mencoba menenangkan dengan segelas air dan kata-kata lembut.
“Kami hanya ingin jasadnya ditemukan. Kami ingin bisa memakamkan dengan layak,” ujar salah satu kerabat korban bernama Hasan, matanya berkaca-kaca menatap aliran sungai yang terus bergerak.
Menjelang sore, Tim SAR masih terus menyisir kawasan dengan radius lebih dari 1 kilometer persegi dari titik tenggelamnya kapal. Setiap serpihan kayu atau pelampung yang hanyut selalu diperiksa dengan saksama. Waktu terus berjalan, namun semangat para petugas tidak surut.
Bagi mereka, setiap operasi penyelamatan bukan hanya soal tugas negara, tapi juga panggilan kemanusiaan. Mereka tahu, di setiap arus sungai yang deras itu, tersimpan harapan keluarga yang menunggu kepastian.
“Kami akan terus mencari sampai semua korban ditemukan. Ini soal kemanusiaan, bukan sekadar operasi,” ucap salah satu anggota tim, suaranya tertelan hembusan angin sore.
Malam kembali turun di Ujoh Halang. Di tepi air yang berkilau temaram, perahu-perahu tim SAR bersandar sejenak. Lampu-lampu dari posko kecil di tepi sungai masih menyala, menandakan pencarian akan berlanjut esok hari.
Bagi keluarga korban, setiap nyala lampu itu adalah tanda — bahwa harapan belum padam.
Data Korban yang Masih Hilang (8 Orang):
1. Ira (Perempuan, Timur)
2. Ilham (Laki-laki, Bandung)
3. Pendi (Laki-laki, Lumajang)
4. Anci (Laki-laki, Banjar)
5. Sello (Laki-laki, Timur)
6. Yanto (Laki-laki, Timur)
7. Dedy (Laki-laki, Bandung)
8. Bogel (Laki-laki, Malang)
WONG
Comments are closed.