BeritaKaltim.Co

Jalan Panjang Menuju Masa Depan, Kisah Ilham dan Potret Gratispol di Kampus Balikpapan

BERITAKALTIM.CO – Di momen penyerahan secara simbolis ‘gratispol’ oleh Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud bersama Wakil Gubernur Seno Aji, di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Senin (17/11/2025),  tampak salah satu mahasiswa dari Fakultas Vokasi Universitas Balikpapan.

Namanya Ilham Mouludin Chandra, 18 tahun, mahasiswa baru jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Perawakannya sederhana, tak banyak berbicara, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya mengalir dengan ketenangan seorang anak yang tahu ia sedang berjuang demi masa depan yang lebih baik.

Ilham mahasiswa yang berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja di sektor swasta, sementara ibunya mengurus rumah. Ia anak tunggal, satu-satunya pusat harapan keluarga kecil itu. Maka ketika Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membuka program ‘gratispol’ bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa di seluruh Kaltim, nama Ilham menjadi salah satu di antara ribuan yang mencoba mengetuk pintu kesempatan.

Namun bagi Ilham, kesempatan itu tidak datang tiba-tiba. Ia menemukannya bukan dari kampus atau dari penyuluhan khusus, melainkan dari tempat yang paling dekat dengan kehidupan generasi seusianya: internet.

”Saya mengetahui tentang program gratispol ini melalui internet,” ucapnya saat diwawancarai oleh Beritakaltim.co, Senin (17/11/2025).

Di tengah masa pengenalan kampus, ketika mahasiswa baru lain sibuk menyesuaikan diri, Ilham menemukan informasi mengenai program bantuan kuliah itu dari unggahan media sosial yang membahas pencalonan gubernur. Informasi itu kemudian berlanjut ke pengumuman resmi dan publikasi yang kian banyak tersebar. Dari sana, ia mulai membaca lebih jauh, mencermati syarat-syaratnya, dan menghitung peluangnya sendiri.

Ilham tidak butuh waktu lama untuk memutuskan ikut mendaftar. Setelah masa PPKMB, ia langsung menyiapkan dokumen yang diperlukan. Tidak ada keraguan, sebab ia tahu bahwa jika kesempatan itu tidak dicoba, kesempatan lain mungkin tidak akan datang lagi.

Proses pendaftarannya sederhana. Tidak ditemukan kendala berarti selain memastikan dokumen yang diunggah benar dan sesuai. Ia menyebut bahwa seluruh petunjuk yang diberikan kampus sangat membantu.

”Persyaratannya pun tidak rumit, nomor induk mahasiswa, identitas diri, serta pembuktian domisili di Kalimantan Timur syarat yang menjadi penentu utama penerima bantuan,” katanya.

Proses yang mulus itu membuatnya semakin yakin bahwa program ini memang dirancang untuk membantu, bukan menyulitkan.

Beberapa waktu kemudian, kabar itu akhirnya datang, Ilham resmi menjadi salah satu penerima Gratispol. Seperti banyak penerima lainnya, ia tidak melompat kegirangan atau berteriak di lorong kampus. Rasa syukurnya hadir dalam bentuk yang lebih tenang. Namun menjadi anak tunggal membuat rasa syukur itu segera berkelindan dengan rasa tanggung jawab.

Biaya kuliah Ilham di jurusan K3 mencapai sekitar Rp7 juta per semester. Gratispol menanggung Rp5 juta, sementara sisanya dua juta rupiah menjadi bagian yang ia dan keluarganya selesaikan sendiri. Meski tetap ada beban yang harus dipikul, bantuan itu sudah meringankan sebagian besar tekanan ekonomi keluarga.

”Bagi ayah dan ibu, kabar ini bukan sekadar pengumuman administrasi, tapi memberikan ruang untuk bernapas setelah bertahun-tahun memprioritaskan pendidikan anak di atas kebutuhan lain.” ungkapnya.

Bantuan sebesar itu juga memberi efek berantai. Dengan sebagian biaya kuliah ditanggung, keluarga bisa mengalokasikan lebih banyak untuk biaya hidup, transportasi, dan kebutuhan lain selama Ilham menempuh pendidikan.

Tak mengherankan bila Ilham berharap program ini dapat berlanjut. Baginya, keberlanjutan program bukan hanya soal dirinya, melainkan soal ribuan mahasiswa lain yang kelak akan membutuhkan bantuan serupa.

Sebagian remaja seusia Ilham masih bingung menentukan arah hidup mereka. Namun Ilham termasuk anak muda yang sejak awal sudah melihat dengan jelas jalur yang ingin ia tempuh. Jurusan K3 dipilih bukan sekadar karena prospek kerja yang luas. Ada cita-cita yang ingin diraihnya: menjadi tenaga profesional di bidang keselamatan dan kesehatan kerja, atau yang lebih dikenal dengan HSA (Health, Safety, and Environment).

”Saya mau jadi HSA di perusahaan industri, ini adalah profesi yang semakin dibutuhkan seiring pertumbuhan industri di Kaltim, dan saya ingin menekuni ini nanti di perusahaan memastikan keamanan dan keselamatan lingkungan kerja.” ucapnya.

Universitas Balikpapan

Jika cerita Ilham merupakan potongan kecil dari keseluruhan panorama, maka Universitas Balikpapan menyajikan gambaran lebih luas tentang program Gratispol.

Merry K. Sipahutar, Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Uniba, menyampaikan bahwa universitas memiliki sekitar 1.200 mahasiswa baru, namun hanya 475 orang yang memenuhi syarat administratif untuk menerima bantuan. Hal ini terutama dipengaruhi faktor domisili dan usia, dua syarat utama yang menentukan kelayakan mahasiswa.

Dengan 17 program studi S1, satu program sarjana terapan, empat diploma IV, serta dua program magister, Uniba memiliki keragaman mahasiswa yang luas.

”Mayoritas penerima Gratispol berasal dari jenjang S1, sementara jumlah mahasiswa S2 yang menerima relatif kecil karena keterbatasan program studi dan persyaratan usia.” jelasnya.

Di kampus swasta seperti Uniba, biaya kuliah terdiri dari SPP dan SKS yang digabung menjadi UKT. Hampir seluruh program studi memiliki UKT di atas Rp5 juta. Artinya, bantuan dari Gratispol diserap secara penuh, dan mahasiswa hanya perlu menanggung selisihnya dengan angka yang lebih ringan,

Seperti banyak program baru, Gratispol tidak sepenuhnya berjalan mulus di tahap pertama. Proses verifikasi, pencairan, dan sinkronisasi data memerlukan waktu lebih panjang dari perkiraan.

Merry mengungkap bahwa pencairan tahap pertama hingga tahap ketiga memakan waktu hampir setengah tahun. Perjalanan panjang itu disebabkan banyak faktor, mulai dari validasi dokumen hingga kebutuhan penyesuaian administrasi antar lembaga.

Namun setelah melewati tahap-tahap awal yang penuh tantangan, proses di Uniba kini tinggal menyelesaikan segelintir mahasiswa yang masih mengalami kendala teknis, seperti unggah dokumen yang belum final atau berkas yang belum lengkap.

”Jumlahnya kecil, tetapi tetap memerlukan perhatian karena setiap mahasiswa membawa cerita dan harapannya sendiri kami juga berharap semua mahasiswa yang berhak menerima bantuan dapat merasakan manfaatnya tepat waktu.” katanya.

Dari sudut pandang perguruan tinggi, Gratispol memiliki makna lebih besar daripada sekadar bantuan biaya kuliah. Bagi Uniba, program ini menjadi momentum untuk memperluas jalan bagi pembangunan SDM Kaltim. Merry melihat bahwa beasiswa bukan hanya tentang membayar kuliah, melainkan tentang bagaimana mahasiswa memanfaatkan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh.

Ia berharap para penerima bantuan menjalani pendidikan dengan disiplin, menyelesaikan studi tepat waktu, dan kembali memberi kontribusi untuk daerah. Bahkan bagi mahasiswa Kaltim yang memilih berkuliah di luar daerah atau luar negeri, ia berharap mereka suatu saat pulang dan memperkuat SDM lokal.

Dalam konteks itu, kampus juga berharap agar Gratispol tidak hanya menyasar mahasiswa, tetapi bisa memperluas kepada dosen-dosen yang tengah menempuh pendidikan lanjut di luar daerah.

”Dari hampir seluruh tenaga pengajar Uniba, sekitar 20 persen sudah bergelar doktor, sementara sebagian lainnya tengah menyelesaikan studi S3.” pungkasnya.

Jika program ini dipandang dari level makro, ia berhubungan dengan pembangunan SDM Kaltim, penyebaran kualitas pendidikan, hingga strategi daerah menghadapi masa depan. Namun pada level mikro, pada titik manusia per manusia, cerita seperti kisah Ilham-lah yang memperlihatkan bagaimana kebijakan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Ilham mungkin terlihat biasa seorang mahasiswa muda mendapatkan bantuan pendidikan namun jika ditelisik lebih jauh, ia menyimpan potret besar perjalanan pembangunan di Kalimantan Timur.

Daerah yang tengah bergerak cepat dengan pembangunan IKN, dengan industri yang berkembang, dan dengan kebutuhan SDM yang semakin tinggi.

Tapi di atas semua itu, ia adalah anak 18 tahun yang masih memikirkan hal-hal sederhana bagaimana membanggakan orang tua, bagaimana menuntaskan kuliah tepat waktu, bagaimana membuktikan bahwa pengorbanan keluarganya tidak sia-sia.

Dan bantuan Gratispol, sekecil atau sebesar apa pun nominalnya, menjadi bagian penting dari proses itu.

Pada akhirnya, kisah Ilham bukan hanya tentang satu mahasiswa. Ia adalah representasi dari ratusan mahasiswa Kaltim yang kini berjalan di koridor kampus dengan sedikit lebih ringan. Mereka tidak lagi memikirkan apakah biaya kuliah semester depan bisa terbayar, melainkan bagaimana menyelesaikan tugas, mengejar nilai, dan membangun masa depan.

Dan seperti harapannya sendiri, ia ingin program ini terus berjalan, tidak terhenti di tengah jalan, tidak terputus karena administrasi atau tahun anggaran. Ia ingin ribuan anak Kaltim seperti dirinya memiliki kesempatan yang sama.

Ilham hanya satu nama. Tetapi dari satu nama itulah, kita dapat melihat bagaimana masa depan sebuah daerah bisa dibangun: satu mahasiswa, satu mimpi, satu bantuan—satu langkah pada satu waktu.

YANI | WONG | ADV Diskominfo Kaltim

Comments are closed.