BeritaKaltim.Co

Hasbi, Jurnalis Muda Kaubun yang Menemukan “Ruang Belajar Baru” Lewat Gratispol

BERITAKALTIM.CO — Sore itu langit tampak bergelayut rendah di atas Samarinda. Lampu-lampu ruang redaksi mulai menyala satu per satu, menyisakan bayangan panjang yang menimpa meja-meja kerja yang penuh kertas, kabel charger, dan gelas kopi dingin. Di sudut ruangan, Muhammad Hasbi Mo’a masih duduk menghadap laptopnya, merapikan paragraf terakhir sebuah laporan panjang tentang dinamika pemerintahan daerah.

Di meja kecilnya, buku catatan lusuh, recorder yang hampir setiap hari menempel di sakunya, serta headphone yang bagian busanya mulai mengelupas, menjadi saksi rutinitas yang tak pernah selesai. Ketika ia menekan tombol “save”, sebuah notifikasi muncul di ponselnya pengumuman penerima Beasiswa Pendidikan Gratispol.

Hasbi tak mengharapkan apa pun hari itu. Tetapi ketika ia membuka lampiran PDF dan menemukan namanya tercantum jelas, napasnya sempat tertahan.

“Jujur saya kaget. Di daftar itu ada nama saya,” ujarnya saat menceritakan kembali kepada Beritakaltim.co, Kamis (20/11/2025).

Senyumnya muncul pelan, seperti seseorang yang masih menata rasa syukur yang datang tiba-tiba.

Hasbi bukan sosok yang suka banyak bicara tentang dirinya. Ia lebih sering hadir lewat tulisannya tentang sidang paripurna DPRD, sengketa lahan, evaluasi anggaran, dan isu-isu publik yang sering membuatnya harus pulang larut. Tetapi di balik kesibukan itu, ia menyimpan satu mimpi sederhana, melanjutkan pendidikan S2 di bidang Ilmu Pemerintahan.

“Saya liputan soal pemerintahan hampir tiap hari. Tapi saya merasa belum cukup. Saya ingin tahu kerangka berpikir akademiknya, teorinya, fondasi yang tidak hanya saya lihat di lapangan,” ucapnya.

Selama ini, Hasbi mengandalkan kombinasi insting jurnalistik dan pengalaman lapangan. Namun ia merasa suatu saat harus memperdalam sisi ilmiah dari isu-isu yang ia tulis. Program Magister Ilmu Pemerintahan di FISIP Universitas Mulawarman jadi pilihannya.

Menurut dia, Gratispol Pendidikan membuka pintu yang mungkin saja tak sempat ia ketuk jika harus memikirkan biaya secara mandiri.

“Biaya S2 itu tidak kecil. Saya bekerja sebagai jurnalis, saya tahu batas kemampuan saya. Ketika Gratispol ada, saya merasa seperti diberi ruang untuk berlari lebih jauh,” katanya.

Proses seleksi beasiswa ia jalani tanpa mengurangi ritme liputannya. Administrasi ia kerjakan tengah malam, esai motivasi ia tulis saat menunggu narasumber, dan berkas-berkas ia susun di sela jeda rapat-rapat DPRD yang kerap molor.

“Ada hari-hari yang rasanya benar-benar capek. Kadang nulis esai sambil ngantuk, kadang terburu-buru. Tapi saya bilang ke diri sendiri, kalau tidak sekarang, kapan lagi?” tuturnya.

Ketika akhirnya ia dinyatakan lolos, Hasbi langsung menghubungi orang tuanya di Kaubun. Pesan mereka ringkas saja, tetapi menggetarkan hatinya.

“Orang tua saya cuma bilang, ‘Lanjutkan, Nak.’ Itu doa paling sederhana yang membuat saya ingin membuktikan bahwa mereka tidak salah mendukung saya,” ucapnya.

Program Gratispol yang digagas Pemprov Kaltim bukan hanya untuk mahasiswa baru. Di dalamnya juga terdapat skema beasiswa pendidikan tinggi yang memberi kesempatan kepada profesional muda seperti Hasbi untuk melanjutkan studi.

Program ini menanggung biaya pendidikan, membuka jalur afirmasi bagi warga Kaltim, dan mendorong lahirnya sumber daya manusia yang lebih kokoh.

Bagi Hasbi, Gratispol bukan hanya kebijakan anggaran. Ia adalah “jembatan” bagi mereka yang bekerja di lapangan tetapi ingin terus memperluas horizon.

“Program seperti ini bukan cuma soal biaya kuliah. Tapi soal kesempatan, tentang membuka ruang belajar bagi pekerja muda, bagi orang-orang yang punya impian tapi terhalang kondisi ekonomi,” ujarnya.

Memulai S2 sambil tetap menjadi jurnalis tentu bukan hal mudah. Jadwal kuliah malam harus disesuaikan dengan tuntutan redaksi, sementara waktu istirahat mungkin tinggal serpihan.

Namun Hasbi tidak gentar.

“Saya terbiasa bekerja cepat, hidup dengan tekanan. Ritme itu justru membantu saya belajar lebih disiplin. Yang penting tetap rendah hati dan mau membuka diri,” katanya.

Ia percaya dunia akademik dan dunia jurnalistik bukan dua kutub yang berlawanan. Keduanya, justru saling menguatkan. Di kampus, ia belajar konsep dan teori. Di lapangan, ia melihat realitasnya.

“Saya ingin tulisan saya lebih tajam, lebih bertanggung jawab, lebih bisa memberi manfaat. Belajar S2 adalah cara saya meningkatkan kualitas kerja itu,” ucapnya.

Hasbi lahir dan besar di Kaubun, Kabupaten Kutai Timur wilayah yang masih banyak menyimpan cerita tentang keterbatasan akses pendidikan. Setiap kali ia kembali ke kampung halaman, ia seperti menemukan lagi alasan kenapa ia harus terus belajar.

“Banyak anak muda di daerah yang ingin sekolah tinggi tapi tidak punya kesempatan. Saya salah satu yang beruntung,” katanya.

Beasiswa ini, menurutnya, adalah amanah. Amanah untuk belajar lebih serius dan kembali memberi kontribusi.

Di ruang redaksi tempat ia biasa berjibaku dengan berita, Hasbi kini memulai babak baru sebagai mahasiswa magister. Di antara deadline, malam kuliah, dan tumpukan teori, ia menapaki perjalanan yang barangkali sudah lama menunggunya.

Bagi Hasbi, belajar adalah cara ia merawat mimpinya. Dan menulis adalah cara ia berterima kasih kepada hidup yang membawanya sejauh ini.

“Jurnalis itu pekerjaan yang mengabdi pada publik. Kalau saya ingin mengabdi lebih baik, maka saya harus belajar lebih baik,” pungkasnya.

YANI | WONG | ADV Diskominfo Kaltim

Comments are closed.