BERITAKALTIM.CO – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui program pendidikan Gratispol. Namun di balik manfaat besar yang dirasakan para mahasiswa, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Timur, Armin mengingatkan perlunya pembenahan serius di perguruan tinggi agar tujuan program benar-benar tercapai.
Menurut Armin, Gratispol bukan sekadar memberi pembebasan biaya pendidikan, tetapi harus mampu menghasilkan lulusan yang unggul, kompetitif, dan mampu membawa kemajuan bagi daerah. Karena itu, kualitas proses belajar di kampus harus menjadi perhatian utama.
“Program Gratispol ini kan tujuannya bagaimana agar SDM Kaltim maju ya. Tapi ada beberapa hal yang sebenarnya perlu diperkuat. Bagaimana outcome ke depan. Kalau saya lihat itu belum sampai ke situ,” ujarnya saat ditemui, Jumat (21/11/2025).
Armin menegaskan, perguruan tinggi di Kaltim semestinya tidak hanya menjadi penerima mahasiswa Gratispol, tetapi juga dituntut meningkatkan standar akademik, kualitas pengajaran, hingga akreditasi program studi.
Dengan begitu, mahasiswa tak hanya lulus, tetapi juga memiliki performa akademik yang baik dan siap bersaing di dunia kerja.
“Universitas harus berbenah, menyiapkan standar. Supaya anak-anak kita masuk ke sana, hasilnya bagus. Jangan sampai seolah-olah yang dibebani itu justru tamatan SMA. Mereka ini sudah kita kasih beasiswa, ya dampaknya apa? Bayar dong dengan prestasi,” ujarnya.
Ia menilai sejumlah SMA unggulan di Kaltim telah menerapkan level pembelajaran yang jauh lebih maju dibanding sebagian perguruan tinggi. Hal itu justru memunculkan kesenjangan saat siswa berprestasi masuk ke universitas yang tak memiliki standar sebanding.
“Kalau cara ngajarnya dosennya nggak bagus, ya mohon maaf, standarnya masih di bawah SMA. Sekarang kalau standar pembelajaran SMA 10, SMA unggulan, itu tingkat pembelajarnya sudah tinggi banget. Kayak di luar negeri cara pembelajarannya. Nah, sementara pembelajarannya di universitas, bisa nggak seperti itu?” katanya.
Armin mencontohkan pengalaman siswa SMA unggulan yang terbiasa melakukan presentasi, diskusi ilmiah, dan penulisan akademik sejak dini, namun justru terkejut ketika memasuki perkuliahan di beberapa kampus karena kualitas pembelajaran yang tidak sejalan.
“Mereka biasa presentasi, diskusi, menulis karya ilmiah. Tiba-tiba masuk universitas, hadir dengan standar yang rendah. Nggak bisa dapat. Jadi universitas harus melayani anak dengan standar tinggi,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan dapat membangun sistem yang selaras agar Gratispol tidak hanya menjadi program bantuan biaya, tetapi benar-benar menjadi jalan bagi terwujudnya generasi unggul Kaltim.
“Kita berharap itu yang harus dipertajam. Supaya prestasinya bagus, ya harus standar dong universitasnya. Kalau universitasnya kuat, outcome-nya juga pasti kuat,” pungkasnya.
YANI | WONG | ADV Diskominfo Kaltim
Comments are closed.