BERITAKALTIM.CO-Pemerintah Provinsi Banten menegaskan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menyusul prediksi curah hujan tinggi hingga sangat tinggi pada Januari–Maret 2026. Fokus kesiapan diarahkan pada koordinasi lintas lembaga serta pemantauan wilayah rawan banjir dan longsor.
“Kita semua tidak berharap terjadinya bencana, namun pemetaan potensi dan mitigasi risiko serta kesiapsiagaan penanganan perlu dilakukan,” ujar Gubernur Banten Andra Soni saat Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi di Kota Serang, Senin.
Ia menegaskan apel tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan seluruh pihak agar proaktif merespons dinamika cuaca ekstrem. Menurutnya, hambatan dalam penanganan bencana kerap muncul bukan hanya pada ketersediaan peralatan, tetapi juga koordinasi respons.
“Sinergi BPBD, TNI, Polri, relawan, dan para pemangku kepentingan sangat diperlukan dalam upaya mitigasi dan penanganan bencana hidrometeorologi,” kata Andra.
Pemerataan kesiapan di wilayah rawan juga ditegaskannya sebagai prioritas. “Infrastruktur dan suprastruktur penanganan bencana berbasis masyarakat pada seluruh titik rawan bencana harus dipersiapkan,” ujarnya.
Andra menyebut respons cepat kepada warga harus menjadi orientasi utama, dengan manajemen krisis yang dilakukan secara terintegrasi dari tahap mitigasi hingga pemulihan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para petugas dan relawan atas dedikasi dalam menjaga keselamatan masyarakat selama periode cuaca ekstrem.
BPBD Banten telah meningkatkan status kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Kepala BPBD Banten Lutfi Mujahidin menyampaikan bahwa persiapan teknis dilakukan menyeluruh, termasuk pengecekan personel dan peralatan.
“Intinya adalah menyiapkan kemampuan dan peralatan, melakukan pemeriksaan berulang, serta berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Ini harus dilakukan sekarang,” ujarnya.
Langkah tersebut sejalan dengan instruksi Presiden menyusul kejadian longsor di sejumlah provinsi dalam dua pekan terakhir. Sebanyak 450 personel dari unsur TNI, Polri, organisasi perangkat daerah, relawan, dan Balai Besar Wilayah Sungai terlibat dalam pengecekan kesiapsiagaan.
Lutfi memastikan peralatan masih mencukupi untuk kebutuhan operasi pertolongan. Meski demikian, sebagian perlengkapan memerlukan peremajaan, seperti perahu yang mulai mengalami kerusakan akibat penggunaan di medan berat.
Tahun ini terdapat pengadaan tiga unit perahu tambahan, sementara rencana peremajaan peralatan pada 2026 masih menunggu finalisasi anggaran.
ANTARA|Wong|Ar
Comments are closed.