BeritaKaltim.Co

Gubernur Kaltim Komitmen Tingkatkan Insentif Guru Honorer dan Pemerataan Pendidikan

BERITAKALTIM.CO – Matahari belum terlalu tinggi ketika halaman Kantor Gubernur Kalimantan Timur mulai dipenuhi para guru dari berbagai daerah. Batik Hari Guru yang mereka kenakan terlihat berwarna cerah, seperti mencerminkan perjalanan panjang mereka menjaga kelas-kelas di sekolah hingga pelosok.

Peringatan Hari Guru Nasional, Selasa (25/11/2025), terasa hangat dan penuh makna. Dan di sinilah, di tengah guru yang menghadiri upacara.

Usai Memimpin Upacara, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, dengan gaya santai yang menjadi ciri khasnya. Ketika pertanyaan tentang Guru Honorer disampaikan oleh waetawan, ia tersenyum, menghela napas, lalu menjawab dengan nada yang hangat dan penuh penghargaan.

“Pertama, doakan kami selalu sehat dan diberi kekuatan. Mudah-mudahan kemampuan APBD Kaltim selalu siap men-support semuanya, terutama guru-guru kita. Karena guru ini pahlawan tanpa tanda jasa. Pahlawan sepanjang masa. Karena merekalah kita ini bisa berdiri sampai hari ini,” ucap Rudy.

Ia melanjutkan, dan kali ini kalimatnya seperti membuka pintu besar yang sejak lama ditunggu para honorer.

“Target kita, mudah-mudahan bisa paling tidak Rp1 juta sebagai permulaan. Nanti kalau APBD kita cukup, insyaallah bisa kita naikkan sampai Rp1 juta per bulan. Mohon doanya,” katanya.

Rudy menyadari, guru honorer selama ini sering berada di garis terdepan pendidikan tanpa jaminan yang jelas. Maka komitmen untuk meningkatkan insentif meski bertahap bukan hanya kebijakan, tetapi bentuk penghormatan.

Gubernur kaltim juga menyinggung isu lain yang kerap membayangi guru: persoalan hukum di sekolah.

“Ada kerja sama antara kementerian dan kepolisian untuk memberikan restorative justice terkait kegiatan belajar mengajar. Guru harus dilindungi. Mereka penjaga moral anak-anak kita. Mereka yang membentuk karakter. Kalau ingin hidup dimuliakan, muliakanlah guru-guru kita,” tegas Rudy.

Selain itu, Rudy tidak menutupi bahwa Kaltim masih menghadapi persoalan klasik ketimpangan distribusi guru antara kota dan pedalaman.

“Banyak guru tidak merata distribusinya. Kami punya komitmen kuat untuk pemerataan dari Samarinda sampai Mahulu, dari pesisir sampai pedalaman. Standarnya harus sama. Semua anak punya hak yang sama untuk dididik oleh guru berkualitas,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerataan guru adalah kunci pemerataan kesempatan.

“Satu-satunya yang bisa memutus rantai kemiskinan adalah pendidikan. Kalau ingin pendidikan baik, kualitas guru juga harus baik. Ada standarisasi agar kita menghasilkan generasi yang unggul,” tutupnya.

Sementara di sudut lain acara, terselip kisah inspiratif dari dunia pendidikan Kaltim.
Suparman, Kepala SMK Negeri 2 Balikpapan, baru saja meraih Juara II Kepala Sekolah Transformatif tingkat Provinsi Kaltim.

Ia bercerita tentang proses seleksi yang dilaluinya.

“Kita diseleksi dari tingkat kota dulu. Setelah juara satu di Balikpapan, baru mewakili ke tingkat provinsi. Banyak kategorinya: kepala sekolah transformatif, dedikatif, dan lain-lain. Alhamdulillah saya juara dua,” katanya.

Namun yang lebih menarik adalah penjelasannya tentang perubahan di sekolahnya.

“Dengan kurikulum baru, guru-guru sekarang lebih nyata melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Hasilnya bisa langsung dipakai siswa ketika mereka bekerja. Dampaknya luar biasa. Guru jadi terpacu meningkatkan kualitas,” tuturnya.

Ketika ditanya apakah guru kini dituntut meningkatkan kemampuan akademik, ia mengangguk mantap.

“Benar. Guru harus terus mengembangkan kemampuan akademiknya. Mereka itu contoh nasional bagi para muridnya. Guru harus lebih dulu maju sebelum meminta muridnya maju,” ujarnya.

Hari ini, halaman kantor gubernur bukan sekadar tempat upacara. Ia menjadi ruang kecil di mana harapan para guru diucapkan, didengar, dan dijawab. Sebuah ruang di mana pemerintah menyatakan kembali janjinya untuk menjaga mereka yang selama ini menjaga masa depan bangsa.

YANI | WONG | ADV Diskominfo Kaltim

Comments are closed.