Oleh : Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd.
KEPALA Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda, Drs. H. Nasrun, M.H, bersama Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren H. Ridla, S.H.I, M.H, serta staf turut menghadiri kegiatan Talkshow “Hijrah Menuju Usaha Berkah” yang digelar di Hotel Puri Senyiur Samarinda, Rabu (12/11/2025). Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI Provinsi Kalimantan Timur dan Pemberdayaan Perempuan UMKM Indonesia (PPUMI) Kaltim Samarinda, sebagai bagian dari inovasi dalam gizi, ekonomi, dan ekologi.
Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Kalimantan Timur, KH. Muhammad Haiban. Dalam sambutannya, para narasumber menekankan pentingnya peran perempuan dalam pengembangan ekonomi umat melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ketua MUI Bidang KPRK, Dr. Aminah H.J.S., M.Pd, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti sebatas talkshow semata, tetapi dapat berlanjut dalam bentuk program nyata pemberdayaan perempuan.
“Kita berdoa agar UMKM kita semakin maju dan semakin banyak keberkahannya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PPUMI, Dr. Hj. Meiliana, S.E., M.M, mengapresiasi sinergi antara KPRK dan PPUMI sebagai langkah konkret perempuan dalam membangun ekonomi yang berkah dan berkelanjutan.
“Perempuan harus berdaya, karena peran perempuan sangat besar dalam memperkuat ekonomi keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.
Kehadiran Kementerian Agama Kota Samarinda dalam kegiatan ini menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan peran perempuan dan pengembangan ekonomi umat berbasis nilai-nilai keagamaan dan keberkahan.
Jika kita amati, terlihat bahwa ini merupakan kegiatan dalam rangka mendukung pemberdayaan untuk kaum perempuan yang menitikberatkan di sektor ekonomi. Kondisi kesejahteraan negeri ini memang jelas terlihat belum baik-baik saja. Dengan penguatan peran perempuan dalam bidang ekonomi diharapkan mampu memberi sumbangsih dalam pengembangan ekonomi yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan, akankah ini membawa keberkahan atau justru akan menimbulkan kesulitan baru bagi perempuan?
Berat untuk dimungkiri, walaupun aktivitas tersebut terkesan bagus karena terlihat sangat mendukung perempuan, namun jika diamati dengan cermat, entah disadari atau tidak, terasa kuat dengan upaya mengalihkan perempuan dari tugas utamanya sebagai ummu wa rabbatul bayt (ibu dan pengelola rumah suaminya).
Mau dibantah sedemikian rupa, aktivitas ini terkesan memindahkan tugas utama negara (dalam menjamin kesejahteraan seluruh rakyat) kepada rakyatnya. Karena seharusnya hanya negara yang bertanggung jawab menjamin kesejahteraan rakyat, bukan malah membebankan hal tersebut di pundak rakyat, terlebih kaum perempuan.
Dari sini saja bisa terlihat, mungkinkah mendatangkan keberkahan bagi perempuan karena yang terjadi justru sebaliknya. Para perempuan jadi berjibaku dari pagi hingga petang bahkan malam atau dari malam hingga pagi lagi, demi bukti dan pengakuan yang bernama kemandirian ekonomi. Apa yang lalu didapatkan? Tenaga dan pikiran yang terkuras. Padahal suami dan anak juga membutuhkan perhatian dan pengurusan. Tubuh yang sudah kelelahan, masih sanggupkah melayani keluarga?
Semestinya para perempuan, baik dari kalangan santriwati maupun tokoh mubalighoh sudah saatnya menyadari bahwa kemandirian ekonomi bukanlah tanggung jawab perempuan. Mereka harus menyuarakan kesadaran, seburuk apa pun kondisi finansial, tetap lah tidak bisa dijadikan legitimasi berkecimpungnya kaum perempuan dalam perbaikan ekonomi. Mereka juga harus meluruskan, bagaimana kiprah kaum perempuan yang hakiki.
Demikianlah ketika kehidupan dipandu sistem kapitalisme. Sistem ini mengukur produktivitas seseorang berdasarkan materi, termasuk kaum perempuan. Perempuan dipandang berdaya dan berguna ketika mampu mencari cuan. Makin banyak uang yang bisa diraup, dianggap lebih mulia, lebih tinggi derajatnya.
Padahal terpalingkannya kaum ibu dari ummun wa rabbatul bayt dan ummu al-ajyal (ibu generasi) mengundang resiko yang tak sepele. Tak cukup kah jdi pelajaran, kian maraknya kekerasan dalam rumah tangga. Tawuran, narkoba, kejahatan anak, kecanduan game online, seks bebas, dan serupanya melonjak tak terbendung.
Islam memandu pemberdayaan perempuan merupakan upaya pencerdasan muslimah hingga mampu berperan menyempurnakan seluruh perintah Allah SWT, baik sebagai ummun wa rabbatul bayt maupun bagian dari masyarakat.
Islam tidak hanya mengatur peran perempuan, melainkan juga menjamin peran tersebut dapat terealisasi sempurna melalui serangkaian hukum praktis.
Apalagi, negara dalam sistem Islam akan menjalankan tanggung jawabnya dan menjamin hak-hak dan kesejahteraan rakyat sesuai tuntunan syariat. Kewajiban ini tidak akan terbebankan pada rakyat, terlebih pada perempuan. Negara akan mengentaskan kemiskinan sehingga lahir kesejahteraan bagi rakyat. Ini karena kesejahteraan merupakan konsekuensi logis dari keadilan ekonomi Islam yang dijalankan oleh negara, yaitu ketika terpenuhinya semua kebutuhan pokok (primer) setiap individu masyarakat, disertai jaminan yang memungkinkan setiap individu memenuhi kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier) sesuai kemampuan mereka.
Tentu Islam tidak melarang para perempuan beraktivitas di dunia usaha maupun kerja. Islam memiliki panduan yang khas dan unik yang justru memudahkan sekaligus menjaga peran perempuan. Perempuan akan memilih pekerjaan/usaha yang tidak melanggar syariat. Walau bekerja, tidak akan menjadikan para perempuan melupakan kewajibannya sebagai istri dan ibu.
Maka arah pemberdayaan perempuan adalah upaya kaum perempuan mengoptimalkan seluruh peran sesuai Islam. Bukan pada seruan kemandirian dan kesetaraan, apalagi menjadikan perempuan ujung tombak perekonomian keluarga.
Sudah saatnya kita sadar, sistem kapitalisme tak akan bisa mengundang keberkahan, tak terkecuali pemberdayaan perempuan. Mari berjuang bersama dalam penegakkan Islam sebagai landasan kehidupan satu-satunya, karena hanya Islam yang mampu membangkitkan umat dari keterpurukkan. Wallahualam.
*) Penulis Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik
Comments are closed.