Oleh: Siti Nur Ramadhaniah
Di era digital, internet menjadi tempat pertama yang dituju banyak orang ketika merasakan gejala sakit—mulai dari mencari arti nyeri perut hingga menebak obat yang cocok diminum. Kemudahan akses informasi ini memicu meningkatnya praktik self-medication (pengobatan mandiri) dan self-diagnosis (diagnosis sendiri).
Sayangnya, tidak semua orang mampu menilai keakuratan informasi kesehatan yang mereka temukan. Di sinilah literasi ilmiah memainkan peran penting: membantu masyarakat memilah informasi medis secara rasional dan berdasarkan bukti.
Literasi ilmiah bukan hanya kemampuan membaca informasi, tetapi memahami, mengkritisi, dan menggunakannya untuk membuat keputusan yang tepat. Dalam konteks kesehatan, kemampuan ini menentukan apakah seseorang dapat menilai klaim medis dengan benar atau justru terperangkap informasi keliru.
Masyarakat dengan literasi ilmiah tinggi umumnya lebih memahami cara kerja obat, dosis aman, dan efek samping. Sebaliknya, rendahnya literasi ilmiah membuat seseorang rentan mengambil keputusan keliru—misalnya salah menafsirkan gejala penyakit atau menggunakan obat tanpa aturan.
Literasi Kesehatan Menentukan Perilaku Pengobatan Mandiri
Literasi kesehatan merupakan bagian dari literasi ilmiah. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi literasi kesehatan seseorang, semakin baik pula perilakunya dalam melakukan pengobatan mandiri.
Studi di berbagai negara, termasuk Indonesia, mengungkap bahwa rendahnya literasi menyebabkan maraknya self-medication yang tidak tepat. Data 2021–2023 mencatat sekitar 80% masyarakat Indonesia pernah melakukan pengobatan mandiri, sebagian tanpa dasar informasi yang benar.
Dampak Rendahnya Literasi: Salah Penggunaan Obat hingga Cyberchondria
Rendahnya literasi ilmiah berdampak langsung pada kepatuhan minum obat dan kemampuan mengelola kesehatan diri. Masyarakat juga berisiko mengalami cyberchondria—kecemasan berlebih akibat salah menafsirkan informasi medis dari internet.
Mereka yang memiliki literasi ilmiah rendah cenderung mudah percaya pada klaim kesehatan tidak berdasar, sedangkan mereka yang melek sains lebih menyadari keterbatasan pengetahuan diri dan memilih berkonsultasi dengan tenaga medis.
Sayangnya, program literasi kesehatan di masyarakat kurang berfokus pada kemampuan berpikir kritis. Padahal kemampuan ini sangat penting agar informasi ilmiah tidak sekadar dibaca, tetapi dipahami dan diterapkan secara benar.
Penutup: Literasi Ilmiah sebagai Jembatan Menuju Masyarakat yang Lebih Sehat
Peningkatan literasi ilmiah merupakan investasi penting dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, cerdas, dan tahan terhadap misinformasi.
Masyarakat dengan literasi ilmiah tinggi lebih mampu:
-
mengkritisi informasi kesehatan,
-
menghindari kesalahan diagnosis,
-
menggunakan obat sesuai aturan,
-
serta mengelola kesehatan diri dengan percaya diri.
Sebaliknya, rendahnya literasi ilmiah berpotensi memperburuk praktik self-medication dan self-diagnosis. Karena itu, pendidikan literasi ilmiah perlu menjadi program prioritas dalam komunitas, sekolah, hingga layanan kesehatan.
Dengan literasi yang kuat, masyarakat tidak hanya melek informasi, tetapi juga mampu mengambil keputusan kesehatan yang aman dan bertanggung jawab.
*) Penulis Siti Nur Ramadhaniah adalah mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman Samarinda
Comments are closed.