BERITAKALTIM.CO-Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) terus mengupayakan dukungan logistik bagi korban banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh. Bantuan didorong melalui jalur darat maupun laut untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat segera terpenuhi.
Direktur Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa Bea Cukai, Nirwala Dwi Heryanto, mengatakan keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan darurat bencana.
“Di situasi seperti ini, yang terpenting adalah keselamatan dan terpenuhinya kebutuhan dasar warga. Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar setiap dukungan logistik dapat benar-benar membantu meringankan beban saudara-saudara kita di daerah terdampak,” ujarnya di Jakarta, Senin.
Akses Terputus, Kapal Patroli Jadi Titik Komunikasi Darurat
Cuaca ekstrem sejak Rabu (26/11) menyebabkan listrik, komunikasi, dan akses transportasi terputus di wilayah Langsa, Lhokseumawe, dan sejumlah kabupaten lainnya. Kondisi ini membuat ribuan warga masih membutuhkan logistik dan tempat perlindungan sementara.
Di tengah terputusnya jaringan darat, Kapal Patroli Bea Cukai BC30001 menjadi pusat komunikasi darurat bagi warga dan pegawai lintas instansi yang kehilangan kontak dengan keluarga. Anjungan dan ruang tengah kapal disulap menjadi tempat berlindung bagi puluhan warga, sementara bandwidth internet kapal ditingkatkan untuk menjaga komunikasi tetap berjalan.
Ransum kapal pun turut dibagikan kepada warga yang membutuhkan, disertai koordinasi dengan TNI Angkatan Laut untuk pemenuhan pasokan air tawar.
Bantuan Darat dan Laut Dikerahkan
Meski akses darat banyak yang tertutup material longsor, mobil patroli Bea Cukai Aceh berhasil menembus Pidie Jaya pada Sabtu (29/11) dan mencapai Posko Peduli Banjir Gampong Beuringen. Tim langsung menyalurkan bantuan dasar dan memetakan kondisi jalan untuk kebutuhan pengiriman berikutnya.
Sementara itu, jalur laut diperkuat dengan keberangkatan Kapal Patroli BC60001 dari Tanjung Balai Karimun pada Sabtu (29/11), membawa kebutuhan pokok, air minum, LPG, serta perlengkapan darurat. Kapal diperkirakan tiba setelah 30 jam perjalanan menuju Langsa, menjadi alternatif penting karena akses Medan–Langsa masih terputus.
Pada Minggu (30/11) pagi, kapal BC30001 menggelar operasi Ship-to-Ship (STS) bersama KRI Sutedi Senoputro 378 untuk mempercepat distribusi bantuan. Sebanyak 2.000 dus mi instan dan 1.000 papan telur ayam dipindahkan untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga.
Setelah operasi STS, kapal BC30001 sandar di Pelabuhan Langsa pukul 10.30 WIB, di mana Pemkot Langsa langsung mengoordinasikan distribusi bantuan ke titik terdampak.
Kolaborasi Lintas Instansi
Nirwala menegaskan, seluruh proses dilakukan dengan mengedepankan empati dan kerja sama.
“Bencana ini mengingatkan kita untuk saling menjaga. Kami berupaya hadir sebagai bagian dari gotong royong nasional, bekerja bersama siapa pun yang ada di garis depan,” ujarnya.
Berbagai jalur bantuan tersebut diharapkan mampu mempercepat pemenuhan kebutuhan masyarakat serta mendukung pemulihan awal di wilayah terdampak banjir dan longsor.
ANTARA|Wong|Ar
Comments are closed.