BeritaKaltim.Co

Hotel Grand Kartika Samarinda Hadapi Tahun Sulit, Alihkan Fokus ke Pasar Swasta dan Perkuat Kerja Sama Wisata

BERITAKALTIM.CO – Hotel Grand Kartika (GK) Samarinda tengah menghadapi tekanan berat sepanjang 2025 akibat efisiensi belanja pemerintah dan melemahnya perputaran ekonomi daerah. Manajemen menyebut kondisi ini membuat grafik okupansi yang biasanya naik sejak September justru tetap berada pada titik rendah.

“Efisiensi jadi pukulan telak buat Hotel Grand Kartika. Biasanya dari September itu grafik sudah naik, tapi tahun ini masih low,” ujar Andi sebagai marketing communication Grand Kartika pada saat di wawancarai pada, Senin (1/12/2025).

‎Andi menjelaskan, pada 2024 pemerintah sempat dilarang menggelar kegiatan di hotel, namun memasuki November–Desember 2025 sejumlah instansi mulai kembali mengadakan acara meski tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

‎“Desember ini pemerintahan ramai sih, desa-desa mulai ada acara lagi. Tapi apakah sudah ada izin resmi dari pemerintah, kami belum tahu,” ucapnya.

‎Melihat tren sepanjang 2025, pihak hotel memperkirakan omzet tahun ini hanya mencapai setengah dari capaian 2024.

‎Menurutnya, penurunan tajam tersebut merupakan dampak langsung dari kebijakan efisiensi pemerintah dan lesunya ekonomi Samarinda.

‎“Omzet pasti jauh dari 2024. Mungkin sekitar setengahnya saja,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kelesuan ekonomi tidak hanya terjadi di sektor pemerintahan, tetapi juga dunia usaha.

“Bahkan swasta yang biasanya acara besar-besaran juga ikut sepi. Perputaran uang lesu sekali,” keluhannya.

‎Grand Kartika mengakui bahwa fasilitas mereka kini kalah saing dibanding hotel-hotel baru di kawasan pusat kota. Ruang meeting, yang dulunya menjadi salah satu daya tarik utama, kini justru dikurangi akibat sepinya permintaan dari instansi pemerintahan.

‎“Kami ini hotel lokal. Sekarang bersaing di ruang meeting dan kamar itu susah, apalagi hotel depan baru semua fasilitasnya. Jadi kami fokus jual kamar saja,” ungkapnya.

‎Sebagian ruang meeting yang dulu digunakan untuk acara kini telah diubah menjadi kamar tambahan. Saat ini Grand Kartika hanya mempertahankan dua ruang meeting aktif.

‎Untuk tipe kamar, GK menyediakan dua tipe utama, yakni Deluxe dan Executive, dengan pilihan double bed maupun twin. Pada 2026, hotel berencana menambah tipe kamar standar dengan harga lebih terjangkau untuk menghadapi potensi pasar yang semakin sensitif terhadap harga.

‎Menyadari kondisi 2025 yang diprediksi berlanjut pada 2026, manajemen Grand Kartika memutuskan untuk beralih fokus dari pasar pemerintahan ke swasta. Mereka mulai memperbanyak MOU, paket membership, hingga kerja sama dengan berbagai pihak.

‎“Fokusnya kami ubah dari pemerintah ke swasta. Lebih sering datangi perusahaan, bikin MOU, dan kerja sama lainnya,” jelasnya.

‎Hotel juga meminimalisir aktivitas promosi door-to-door ke kantor pemerintahan yang selama ini menjadi kebiasaan mereka.

‎Untuk meningkatkan exposure, GK menggandeng sejumlah objek wisata di Samarinda. Bentuk kerja sama berupa pembagian voucher atau potongan harga bagi pengunjung yang datang ke hotel.

‎“Kami nitip promosi di tempat wisata. Kalau orang masuk Taman Park, dapat tiket yang bisa dibawa ke sini untuk diskon. Begitu juga dengan Lampion Garden, MS3, dan beberapa tempat lain,” katanya.

‎Total sudah enam lokasi wisata yang bergabung dalam skema kolaborasi tersebut, termasuk Pemandian Serayu di Samarinda Utara.

‎Meski pasar meeting menurun drastis, segmen pernikahan masih memberi kontribusi bagi Hotel Grand Kartika. Mereka bekerja sama dengan EO lokal dan mampu menampung hingga 1.000 undangan.

‎“Budget-nya sekitar Rp60 juta all-in. Tinggal bawa badan aja, semua sudah termasuk makan, dekor, dan kamar untuk honeymoon semalam,” jelasnya.

‎Menu kuliner GK juga menjadi salah satu nilai jual, terutama mantau bahari, sop buntut, dan nasi goreng Kartika. Minuman andalan mereka, “Kopi Inspirasi” dibanderol sekitar Rp25 ribu.

‎“Tahun depan kami bakal fokus jualan makanan juga, terutama mantau bahari yang akan kami kemas lebih baik,” tambahnya.

‎Manajemen menyebut harapan terbesarnya di 2026 adalah pulihnya perekonomian Samarinda agar masyarakat kembali memiliki daya beli dan perusahaan dapat kembali menggelar acara.

‎“Harapannya perekonomian membaik. Kalau orang punya uang, acara bisa ada lagi. Itu sangat bergantung.”

‎Hotel Grand Kartika juga bekerja sama dengan Sunjaya Travel untuk menjadikan area depan hotel sebagai point bus stop sebelum keberangkatan menuju bandara. Kerjasama itu sebagai bagian dari upaya meningkatkan kunjungan.

‎Dengan berbagai strategi adaptasi ini, manajemen berharap Grand Kartika tetap bertahan menghadapi tekanan ekonomi yang diprediksi masih berlanjut tahun mendatang.

‎‎SANDI | WONG

Comments are closed.