BERITAKALTIM.CO – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat upaya penanggulangan HIV. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV kini diperluas melalui 272 fasilitas kesehatan di seluruh kabupaten/kota.
“Selama satu tahun ini, pemeriksaan HIV sudah kita lakukan kepada 4.681 orang,” ujar Jaya saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan, Senin (1/12/2025).
Menurut dia, perluasan layanan dilakukan melalui jejaring klinik yang disebut PDB, yang tersebar di seluruh wilayah Kaltim.
“Kita sudah membuat layanan klinik yang disebut PDB. Di Kalimantan Timur ada 272 klinik puskesmas, klinik swasta, praktik mandiri, termasuk rumah sakit. Semua bisa melayani konsultasi, pemeriksaan, sampai pemberian obat,” ujarnya.
Jaya menegaskan seluruh layanan pemeriksaan dan penanganan HIV disediakan secara gratis.
“Pemeriksaan HIV gratis. Obatnya juga gratis dari pemerintah. Kalaupun ada penyakit penyerta, penanganannya mengikuti kondisi masing-masing pasien,” katanya.
HIV masih menjadi fokus penanganan pemerintah karena tingkat penularannya yang tinggi secara nasional. Jaya menyebut bahwa Indonesia memiliki lebih dari 500 ribu orang hidup dengan HIV.
“Di Indonesia, HIV ini termasuk endemik. Secara nasional lebih dari 500 ribu orang hidup dengan HIV,” katanya.
Untuk Kaltim, data terakhir hingga Oktober 2025 menunjukkan jumlah kasus baru masih cukup tinggi.
“Sampai akhir Oktober, kasus kematian ada 112 orang. Angka HIV baru ada 1.018 kasus,” ujarnya.
Sementara itu, kasus AIDS yang merupakan tahap lanjutan dari infeksi HIV tercatat sebanyak 223 kasus per 30 Oktober 2025.
“HIV dan AIDS itu berbeda. HIV adalah orang dengan virus HIV positif atau ODHIV. Data kita menunjukkan ada 2.018 ODHIV yang tercatat sejauh ini,” katanya.
Jaya menjelaskan bahwa teknologi pengobatan HIV terus berkembang dan memberikan harapan besar bagi pasien. Obat antiretroviral (ARV) terbukti efektif menekan virus sehingga pasien dapat menjalani kehidupan normal.
“ARV itu sangat efektif. Jika orang positif lalu rutin minum obat, mereka bisa hidup normal seperti kita dan tidak jatuh pada penyakit,” katanya.
Ia menuturkan ARV bekerja membuat virus menjadi tidak aktif atau dormant.
“Virus yang tadinya produksinya bisa sejuta, bisa turun jadi 50 atau 30. Kalau viral load turun di bawah ambang tertentu, mereka bahkan tidak menularkan lagi,” ujarnya.
Ia menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kaltim untuk terus meningkatkan edukasi, memperkuat layanan kesehatan, serta memastikan keterjangkauan pengobatan bagi seluruh masyarakat.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa HIV bisa dikendalikan. Pemeriksaan tersedia luas, pengobatan tersedia gratis. Yang penting mereka mau memeriksakan diri,” pungkasnya.
YANI | WONG | ADV Diskominfo Kaltim
Comments are closed.