BERITAKALTIM.CO – Harapan meraih medali emas di ajang SEA Games Thailand 2025 belum berpihak kepada dua pesilat andalan Kalimantan Timur, Muhamad Iqbal Pratama dan Dinda Nuraidha. Kakak beradik yang turun membela Indonesia itu harus menghentikan langkah di babak semifinal dan masing-masing membawa pulang medali perunggu.
Hasil tersebut terasa kontras dengan reputasi yang melekat pada Iqbal. Setahun sebelumnya, ia berdiri di podium tertinggi Kejuaraan Dunia Silat 2024 di Abu Dhabi. Sementara sang adik, Dinda, bukan nama baru dalam peta prestasi nasional setelah meraih medali perak Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh–Sumatera Utara 2024.
Namun gelanggang SEA Games kerap menghadirkan cerita berbeda. Tekanan pertandingan, pertemuan dengan lawan yang telah membaca gaya bertanding, hingga faktor nonteknis menjadi variabel yang sulit diprediksi. “Kami sudah berbuat yang terbaik untuk Kaltim dan untuk Indonesia. Hanya, hasilnya di luar ekspektasi. Target pastilah medali emas,” ujar salah satu dari mereka, mewakili perasaan keduanya usai pertandingan.
Seperti dilaporkan Rusdiansyah Aras (Ketua KONI Kaltim) yang tengah berada di Thailand, medali perunggu ini tetap menambah pundi-pundi perolehan kontingen Merah Putih. Bagi Iqbal dan Dinda, hasil tersebut lebih dari sekadar angka di papan klasemen. Ia menjadi pengingat bahwa prestasi internasional menuntut konsistensi panjang, bukan hanya puncak sesaat.
Alih-alih larut dalam kekecewaan, keduanya memilih memandang SEA Games 2025 sebagai persimpangan. Fokus mereka kini bergeser ke target jangka menengah: PON 2028. Ajang itu bukan hanya soal medali, tetapi juga panggung pembuktian sebagai atlet daerah yang matang secara teknik dan mental.
“Target di depan mata adalah tiga tahun mendatang berjuang untuk Kaltim di PON 2028,” ujar mereka.
Perunggu dari Thailand menjadi penanda bahwa perjalanan belum selesai. Dalam olahraga prestasi, kegagalan sering kali justru menjadi fondasi bagi lompatan berikutnya.
Wong
Comments are closed.