DINAS Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur (Diskominfo Kaltim) menerima kunjungan Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian (DKISP) Kabupaten Paser. Pertemuan ini menjadi ruang diskusi dan penguatan kerja sama dalam layanan informasi publik, literasi digital, hingga penguatan media center daerah.
Kepala Bidang Informasi, Komunikasi Publik dan Kehumasan (Kabid IKP) Diskominfo Kaltim, Irene Yuriantini menyambut hangat kedatangan rombongan dari Paser. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 4 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Konkuren Bidang Komunikasi dan Informatika, Diskominfo Kaltim mengelola 11 urusan subkegiatan.
Saat ini, Diskominfo Kaltim juga concern terhadap program antihoaks yang tengah digencarkan melalui sosialisasi ke pelajar sekolah.
“Anti hoaks ini sangat penting dan bagus sekali jika bisa dilakukan bersama. Silakan kita kolaborasi karena kami tidak bisa menjangkau semua wilayah sendiri. Termasuk pembinaan KIM (Komunitas Informasi Masyarakat) dan penguatan pranata humas. Mari saling berbagi informasi dan memperkuat sinergi,” ujar Irene saat menerima Tim DKISP Paser di Ruang Kadis Kominfo Kaltim, Senin (8/12/2025).
Generasi era kini hidup di tengah derasnya aliran informasi. Perubahan sosial terjadi sangat cepat. Dunia digital terbaca mampu memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat terutama generasi pelajar. Karena itu pemerintah berharap sosialisasi program antihoaks efektif menjangkau pelajar sekolah yang notabene aktivitasnya kebanyakan dihabiskan di ruang digital.
Pemerintah juga melihat potensi generasi muda yang luar biasa ditopang lajunya arus informasi digitalisasi yang mereka hadapi, sampai-sampai mampu memenangkan trending opini di dunia maya yang memunculkan kekhawatiran terbesar bagi pemerintah. Namun sulit untuk dimungkiri, pemerintah tak berdaya melindungi generasi muda dari konten-konten negatif seperti hoaks, bullying, kekerasan, pornografi, pornoaksi, hedonisme dan semacamnya, sehingga jauhlah mereka dari adab dan aturan agamanya.
Dunia digital sememangnya tak terelakkan. Bak pisau bermata 2, banyak kemudahan, tapi tak sedikit pula keburukkannya. Oleh karena itu, sosialisasi antihoaks diaruskan karena generasi muda dipandang sebagai generasi lemah, walaupun memiliki sisi potensi kritis dan mampu menginisiasi perubahan melalui media sosial.
Dampak buruk zona digital bukanlah tanpa sebab.Kehidupan yang dilandasi dengan sistem sekuler kapitalisme mengakibatkan hilangnya standar halal-haram, abai terhadap urusan adab dan moral. Sehingga tumbuh suburlah berbagai kerusakan dan kemaksiatan.
Dalam sistem ini, keluarga, masyarakat, dan negara bagaikan tak berfungsi. Semuanya lemah karena tidak tegak di atas landasan takwa. Keluarga atau orang tua tidak mampu menjadi madrasah dan benteng pertama bagi anak-anaknya, teralihkan dengan problem ekonomi dan hubungan yang jauh dari ideal dan harmonis. Sementara itu, masyarakat bak rimba raya yang merusak fitrah kebaikan generasi mudanya.
Jadilah anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang jauh dari harapan. Mereka lemah karena tidak memiliki visi dan misi ideologis. Jadilah negeri sebesar dan sekaya Indonesia ini mudah dijajah dan didikte negara lain. Sumber dayanya dikuras, manusianya diperalat demi kepentingan kapitalisme global.
Padahal sepanjang sejarah peradaban Islam yang gemilang, lahir sosok generasi berkepribadian Islam, memiliki mental kaliber mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid. Mereka kuat meyakini, bahwa mereka berkiprah semata-mata demi dan untuk Islam. Saat itu kaum muslimin sohor sebagai umat terbaik, bahkan mampu memimpin umat-umat lain, hingga menjadi mercusuar peradaban agung manusia yang hadir sampai belasan abad lamanya.
Sebetulnya kaum muslim cukup berhukum kepada Islam dan memahaminya dengan benar, karena Islam telah memberikan jawaban tuntas terhadap permasalahan apa pun, termasuk keterpurukan generasi muda hari ini. Allah SWT memerintahkan kita untuk mengikuti seluruh apa yang telah Allah SWT turunkan dan meneladani utusan-Nya, Muhammad SAW.
Keberhasilan para ibu terdahulu dalam mendidik anak-anak mereka menjadi bukti, bagaimana mereka benar-benar menjadi generasi rabbani yang unggul, mengerti tentang arti dan hakikat hidup, memahami makna kebahagiaan hakiki, dan semangat pengabdian pada Islam.
Para ibu terdahulu juga percaya dan yakin, anak adalah amanah Allah Taala yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Mereka juga mengerti bahwa tidak ada satu pun yang bisa memberikan kebahagiaan hakiki pada anak-anak mereka selain iman dan ketakwaan.
Diterapkannya sistem Islam di tengah umat merupakan hal yang sangat penting hari ini. Penerapan sistem Islam akan melahirkan generasi muda muslim berkualitas sekaligus ibu-ibu tangguh. Oleh sebab itu, perjuangan tegaknya aturan Islam ini merupakan hal yang tak dapat ditunda lagi. Tak cukup kah bukti, sistem sekuler kapitalisme telah begitu menyengsarakan umat manusia?
Perjuangan menuju tegaknya sistem Islam bukanlah jalan mudah untuk dilalui oleh umat Islam. Karena itu semua elemen umat, laki-laki dan perempuan, apalagi generasi mudanya, harus bergerak bersama, berada dalam barisan dakwah. Mereka akan menjadi penerus estafet perjuangan, penguat, pelindung, dan pembela dakwah Islam.
Para pemuda muslim harus menyadari, mereka akan selalu menjadi target Barat untuk mengadang kebangkitan Islam. Pemuda muslim harus menolak pembajakan potensinya dan istikamah berjuang menegakkan syariat Islam dalam bingkai negara. Pemuda muslim juga harus mampu memimpin umat, berada di garda terdepan dalam barisan perjuangan yang mulia ini.
Dengan tangan merekalah yang akan menutup era suram peradaban kapitalistik dan membuka pintu gerbang kebangkitan Islam. Mari bersama menjaga dan memastikan mereka tumbuh serta siap memikul amanah itu. Wallahualam.
Penulis: Dyan Indriwati Thamrin, S. Pd, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik
Comments are closed.