BeritaKaltim.Co

Ponton Batubara Tabrak Jembatan Mahulu, Pemprov Kaltim Lakukan Pemeriksaan Struktur

BERITAKALTIM.CO – Insiden kembali terjadi di Sungai Mahakam. Sebuah kapal ponton bermuatan batubara menabrak Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Samarinda, Selasa (23/12/2025) pagi sekitar pukul 06.30 WITA.
Peristiwa itu sontak mengundang perhatian publik, mengingat jembatan tersebut merupakan salah satu urat nadi penghubung antarwilayah di Kota Tepian.

Dari rekaman video yang beredar luas di media sosial, tampak ponton batubara dalam posisi melintang menghantam dua vender (pelindung tiang) jembatan. Pada badan kapal terlihat jelas tulisan M80-1302, yang menguatkan dugaan bahwa tabrakan terjadi akibat kegagalan pengendalian saat melintas di bawah bentang jembatan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Kalimantan Timur, A.M. Fitra Firnanda, membenarkan adanya dampak pada struktur jembatan. Namun ia menegaskan, penilaian awal masih bersifat visual dan belum bisa dijadikan dasar kesimpulan teknis.

“Kalau dari visual memang ada luka di T6 ya, di gelar 6 itu, yang menopang gendang utama dan gendang pemisah. Kemudian ada juga pecahan di bagian bawah,” ujar Fitra kepada awak media usai mengecek vender jembatan.

Meski demikian, Fitra menekankan bahwa pemeriksaan kasat mata belum cukup untuk memastikan tingkat kerusakan yang sebenarnya. Pemeriksaan lanjutan dengan peralatan khusus mutlak diperlukan untuk mengetahui apakah terjadi deformasi pada struktur utama jembatan.

“Secara visual belum bisa dipastikan apakah ada deformasi atau tidak. Untuk memastikan itu, kami harus melakukan pengecekan menggunakan alat tembak. Dari tiang ke tiang akan dicek, apakah ada pergeseran atau tidak,” jelasnya.

Menurut dia, hasil pengukuran teknis tersebut akan menjadi dasar penentuan apakah Jembatan Mahulu masih aman dilalui, terutama oleh kendaraan dengan beban berat. Proses ini, kata dia, tidak bisa dilakukan tergesa-gesa.

“Kami kemungkinan akan memerlukan waktu. Setelah ini kami akan merundingkan dulu, lalu dirapatkan. Sebelum nanti secara resmi kami sampaikan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pengecekan,” tambah Fitra.

Terkait langkah awal penanganan, Pemprov Kaltim belum mengambil keputusan ekstrem seperti penutupan jembatan. Koordinasi lintas instansi masih dilakukan untuk memastikan keselamatan pengguna jalan tanpa menimbulkan kepanikan.

“Kami harus koordinasi dulu. Selain PUPR, ada Dishub, Satpol PP, Polairud, dan Lantas. Apakah jembatan ini masih bisa dilalui kendaraan berat atau harus ditutup sementara, itu belum bisa kami pastikan sekarang,” tuturnya.

Ia menegaskan, keputusan tersebut sepenuhnya menunggu hasil pemeriksaan alat ukur terkait seberapa besar potensi deformasi yang terjadi.

“Kami menunggu hasil dari alat ukur dulu. Begitu kami dapatkan, segera kami rapatkan lagi,” pungkasnya.

YANI | WONG

Comments are closed.