BeritaKaltim.Co

BPBD Kaltim: Risiko Bencana Hidrometeorologi Masih Sedang–Tinggi hingga Akhir Maret

BERITAKALTIM.CO – Provinsi Kalimantan Timur masih berada dalam fase rawan bencana hidrometeorologi. Curah hujan yang relatif tinggi hingga akhir Maret membuat potensi banjir dan longsor belum bisa diabaikan. Namun hingga awal Januari ini, dampak yang muncul masih bersifat lokal dan belum memicu status siaga bencana.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur, Buyung Budi Purnomo, saat menjelaskan kondisi terkini potensi kebencanaan di Kaltim berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kalau kita lihat dari data potensi hujan harian, rilis BMKG memang sampai dengan akhir bulan Maret itu curah hujan masih cukup tinggi. Jadi risiko kita itu berada di level sedang sampai tinggi,” ujar Buyung di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (5/1/2026).

Berdasarkan pembaruan data mingguan yang terus dilakukan BPBD, curah hujan di sebagian besar wilayah Kalimantan Timur hingga awal Januari masih berada pada kategori sedang, yakni berkisar antara 20 hingga 50 milimeter per hari.

“Update terakhir sampai tanggal 4 kemarin sampai dengan tanggal 9, curah hujan kita masih di rata-rata sedang, sekitar 20 sampai 50 milimeter per hari,” jelasnya.

Meski demikian, Buyung menilai ada beberapa daerah yang tetap perlu mendapat perhatian lebih karena potensi hujannya relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain.

“Kalau saya harus menilai, daerah Berau dan Kutai Timur itu yang masih berpotensi. Walaupun beberapa hari ini relatif stabil, tapi masih ada pengaruh sifon dari angin siklon yang berada di wilayah Pasifik,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kondisi tersebut membuat intensitas hujan di wilayah Kaltim masih tergolong “lumayan” dan belum bisa dianggap aman sepenuhnya.

Terkait kejadian bencana yang sudah terjadi, Buyung menyebut hingga saat ini BPBD Kaltim belum menetapkan status siaga khusus. Banjir yang muncul dalam beberapa waktu terakhir masih bersifat lokal.

“Memang belum ada status siaga dari kita. Banjir yang terjadi kemarin di Wahau itu karena luapan sungai. Tapi untuk kejadian longsor, sampai saat ini kami belum menerima laporan,” katanya.

Menurut Buyung, karakter kebencanaan di Kalimantan Timur berbeda dengan wilayah lain seperti Sumatera. Faktor topografi yang tidak didominasi pegunungan tinggi membuat pola bencana juga berbeda.

“Profil kerawanan kita berbeda dengan Sumatera. Kalau di sana, dari puncak Bukit Barisan turun ke bawah semua. Di Kaltim tidak seperti itu,” jelasnya.

Meski begitu, BPBD Kaltim tetap menyiagakan langkah-langkah antisipasi, terutama di daerah rawan banjir. Koordinasi lintas instansi terus dilakukan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

“Kami tetap berkoordinasi terus. Penanganan banjir ini kan melibatkan semua pihak, BPBD kabupaten/kota, BNPB pusat, dan untuk rescue juga dengan Basarnas,” terang Buyung.

Ia menekankan bahwa hingga kini dampak banjir masih terbatas, terutama di lingkungan permukiman dan akses jalan.

“Rata-rata banjirnya masih di lingkungan rumah warga. Di Wahau kemarin itu yang paling terasa hanya gangguan akses jalan. Belum sampai dampak yang berat,” katanya.

Terkait kesiapan peralatan dan logistik, Buyung mengakui hal tersebut menjadi pekerjaan rumah serius bagi BPBD Kaltim. Ia berkomitmen melakukan pengecekan langsung, bukan hanya berdasarkan laporan administratif.

“Ini memang jadi PR saya. Bukan hanya di BPBD provinsi, tapi juga di kabupaten/kota. Perahu karet, tenda, dan perlengkapan lainnya itu saya ingin lihat langsung. Saya tidak mau hanya dengar laporan,” tegasnya.

Menurutnya, pendataan menyeluruh perlu dilakukan agar seluruh peralatan kebencanaan terdokumentasi dalam satu basis data terpadu.

“Kalau bisa kita bikin database semuanya. Jadi kalau terjadi bencana, minimal untuk alat-alat kedaruratan itu sudah siap,” ujarnya.

Buyung menegaskan, penanggulangan bencana tidak hanya soal tanggap darurat, tetapi juga harus dimulai dari perencanaan dan mitigasi.

“Kita ini punya tahapan. Ada perencanaan atau mitigasi, kemudian tanggap darurat, dan terakhir pascabencana. Yang paling utama sebenarnya mitigasi dan kesiapsiagaan,” pungkasnya.

YANI | WONG

Comments are closed.