BeritaKaltim.Co

Beseprah di Usia 66 Anggana: Merayakan Sejarah, Menakar Masa Depan Pesisir Kukar

BERITAKALTIM.CO – Malam turun perlahan di sepanjang Jalan Mahakam, Kecamatan Anggana. Di bawah cahaya lampu dan tenda-tenda sederhana, ratusan warga duduk bersila. Tumpeng-tumpeng berjejer, nasi dan lauk tersaji tanpa sekat. Di sanalah beseprah—tradisi makan bersama—menjadi bahasa paling jujur untuk merayakan 66 tahun usia Kecamatan Anggana.

Jumat malam, 9 Januari 2026, Anggana tidak sekadar merayakan ulang tahun. Ia merayakan ingatan kolektif—tentang kampung pesisir yang bertahan, tumbuh, dan berkali-kali belajar bangkit. Sekitar 150 tumpeng disantap bersama ratusan warga dalam suasana kekeluargaan yang nyaris tanpa jarak antara pejabat dan masyarakat.

Di tengah lingkaran itu, Aulia Rahman Basri berdiri. Bupati Kutai Kartanegara itu membuka syukuran dengan pemotongan tumpeng, didampingi Camat Anggana Rendra Abadi. Tak ada pidato panjang yang berjarak. Yang terdengar justru refleksi tentang usia, pengalaman, dan harapan.

“Usia 66 tahun adalah usia yang matang bagi sebuah wilayah,” ujar Aulia. Bagi Anggana, kata matang itu bukan semata angka. Ia adalah kumpulan pengalaman—tentang hidup di pesisir, tentang bertahan di antara arus ekonomi, dan tentang merawat kebersamaan di tengah perubahan.

Di Anggana, pembangunan tak selalu dimulai dari beton dan aspal. Ia sering bermula dari meja makan, dari doa bersama, dari kebiasaan duduk sejajar. Beseprah malam itu menjadi penegasan bahwa kekuatan sosial masih menjadi modal utama.

Aulia menekankan bahwa kemajuan wilayah tidak bisa hanya diserahkan pada pemerintah. “Kekuatan pembangunan tidak hanya terletak di tangan pemerintah, tetapi pada sinergi seluruh elemen masyarakat,” katanya. Tradisi makan bersama dipilih bukan tanpa alasan—ia adalah simbol persatuan yang hidup, bukan sekadar jargon.

Ratusan warga berbaur dengan pejabat kecamatan, tokoh agama, pemuda, hingga organisasi kemasyarakatan. Dalam suasana itu, hierarki seolah mencair. Anggana memperlihatkan wajah lain pembangunan: yang berangkat dari kebersamaan.

Di balik suasana syukur, Aulia juga menyentuh pekerjaan rumah Anggana. Wilayah ini, katanya, kaya potensi ekonomi, mulai dari UMKM hingga wisata bahari. Letaknya strategis, sumber dayanya beragam. Namun potensi, tanpa pengelolaan, hanya akan menjadi catatan di atas kertas.

“UMKM kita harus naik kelas, produk lokal Anggana harus dikenal luas, dan potensi wisata baharinya harus kita optimalkan,” tegas Aulia. Pembangunan, dalam pandangannya, harus bermuara pada kesejahteraan warga—bukan sekadar angka pertumbuhan.

Ajakan itu ditujukan kepada semua lapisan: tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, pemuda Karang Taruna, hingga generasi muda yang kelak akan mewarisi pesisir ini.

Refleksi di Usia 66

Camat Anggana Rendra Abadi menyebut peringatan ini sebagai momen untuk menoleh ke belakang sekaligus menatap ke depan. Enam puluh enam tahun, kata dia, adalah perjalanan panjang yang diisi oleh kontribusi banyak pihak—masyarakat, pemimpin, hingga dunia usaha.

“Selama 66 tahun, Kecamatan Anggana tumbuh dan berkembang berkat kerja keras seluruh masyarakat,” ujarnya. Harapannya sederhana namun berat: Anggana yang semakin maju, mandiri, dan sejahtera, tanpa kehilangan jati diri gotong royong.

Malam itu ditutup dengan tausiah, doa, dan kembali ke meja makan bersama. Di Anggana, perayaan tak pernah benar-benar berakhir di seremoni. Ia berlanjut dalam keseharian—di laut, di UMKM kecil, di gang-gang kampung.

Di usia ke-66, Anggana merayakan lebih dari sekadar ulang tahun. Ia merayakan kebersamaan sebagai fondasi masa depan.

WONG

Comments are closed.