BeritaKaltim.Co

Ketika RT Menjadi Wajah Negara di Mata Warga

BERITAKALTIM.CO – Di Balai Kecamatan Sebulu, Sabtu pagi itu, deretan Ketua Rukun Tetangga berdiri rapi. Tak ada seremoni mewah. Namun di ruangan sederhana itu, sesungguhnya berlangsung sebuah peristiwa penting: negara menitipkan sebagian wajahnya kepada para pengurus lingkungan paling bawah.

Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri datang langsung menyaksikan pelantikan Ketua RT dan Pengurus RT periode 2026–2031 dari Desa Sebulu Ilir, Sebulu Ulu, dan Sebulu Modern. Dalam pidatonya, Aulia tidak berbicara tentang proyek besar atau target statistik. Ia bicara soal kehadiran. Soal tanggung jawab. Soal manusia.

“Pengurus RT adalah ujung tombak pembangunan,” ujarnya tegas. Kalimat itu terdengar klise—sampai ia menambahkan konsekuensinya: insentif RT akan ditingkatkan sebagai bentuk penghargaan atas kerja lapangan yang kerap luput dari sorotan.

RT, Wajah Negara di Gang-Gang Sempit

Di Kutai Kartanegara, RT bukan sekadar struktur administratif. Ia adalah pintu pertama ketika warga menghadapi kesulitan—dari urusan administrasi, konflik sosial, hingga sekadar mencari bantuan ketika dapur tak lagi mengepul.

Aulia paham betul posisi strategis itu. Karena itu, ia mengingatkan para pengurus RT yang baru dilantik agar tak sekadar mengisi jabatan.

“Hadirlah di tengah-tengah masyarakat. Uris masyarakat dengan baik,” katanya. Jika ada warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, RT diminta tak menutup mata—melainkan menggerakkan Program RT-Ku Terbaik.

Rp150 Juta dan Beban Amanah

Program RT-Ku Terbaik bukan program kecil. Rp150 juta per RT per tahun digelontorkan sebagai bagian dari visi besar Kukar Idaman Terbaik. Uang negara diturunkan langsung ke level lingkungan, dengan harapan pembangunan tak lagi tersendat di meja birokrasi.

Namun, di balik angka itu, tersimpan beban moral. Dana besar menuntut tata kelola yang jujur, keberanian mengambil keputusan, dan kedekatan nyata dengan warga.

“Posisi RT sangat penting,” kata Aulia. Sebab di tangan merekalah, dana itu bisa menjelma jalan lingkungan, bantuan warga miskin, atau justru masalah baru jika disalahgunakan.

Pembangunan yang Dimulai dari Menyapa

Pelantikan itu berlangsung khidmat, disaksikan camat, kepala desa, tokoh masyarakat, dan jajaran perangkat daerah. Tapi sesungguhnya, kerja para RT baru saja dimulai—bukan di ruang rapat, melainkan di lorong-lorong permukiman, di rumah warga yang pintunya sering diketuk karena masalah hidup.

Dari Sebulu, Pemerintah Kutai Kartanegara sedang mempertaruhkan satu keyakinan lama yang kerap terlupakan: bahwa pembangunan yang paling bermakna selalu dimulai dari lingkungan terkecil. Dari RT. Dari menyapa. Dari hadir.

WONG

Comments are closed.