BeritaKaltim.Co

Loud Budgeting: Seni Jujur Mengelola Keuangan yang Bikin Tabungan Emas Makin Tebal

BERITAKALTIM.CO – Di tengah derasnya arus konsumerisme dan budaya flexing yang merajalela di media sosial, muncul satu istilah baru yang perlahan mengubah cara generasi muda memandang uang: loud budgeting. Tren yang pertama kali viral di TikTok ini kini menjadi semacam perlawanan kolektif Generasi Z dan Milenial terhadap tekanan sosial untuk terus terlihat “mampu”.

Berbeda dengan pola penghematan konvensional yang sering dilakukan diam-diam karena takut dicap pelit, loud budgeting justru dilakukan secara terbuka. Prinsipnya sederhana: menyatakan secara jujur dan tegas bahwa seseorang sedang memprioritaskan tujuan keuangan tertentu, sehingga memilih untuk menahan pengeluaran lain yang tidak mendesak.

Di satu sisi, media sosial menampilkan gaya hidup serba sempurna nongkrong di kafe mahal, liburan rutin, hingga barang bermerek. Di sisi lain, realitas ekonomi menuntut generasi muda untuk memikirkan masa depan: rumah, dana darurat, hingga investasi.

Loud budgeting hadir sebagai jalan tengah, sekaligus bentuk perlawanan terhadap fear of missing out (FOMO).

Aji, 28 tahun, karyawan BUMN, adalah salah satu yang menerapkan prinsip tersebut. Ia memilih untuk bersuara lantang soal batas keuangannya, alih-alih mencari-cari alasan.

“Kalau dulu sering malu atau gak enak menolak ajakan nongkrong mahal dengan alasan gak ada uang. Sekarang, dengan loud budgeting, aku justru lebih berani menyampaikan secara jujur,” kata Aji, Selasa, (13/1/2026).

Ia tak lagi sungkan mengatakan sedang menabung emas demi mengumpulkan uang muka rumah.

“Aku bisa bilang, ‘Aku gak ikut nongkrong ke kafe malam minggu ini karena lagi fokus nabung emas buat DP rumah.’ Rasanya lebih lega,” ujarnya.

Kejujuran itu, menurut Aji, justru membawa dampak tak terduga. Dalam sebulan terakhir, ia berhasil menabung emas lebih dari satu gram. Lebih dari itu, sikapnya memicu efek domino di lingkar pertemanannya.

“Karena kita confident menyatakan prioritas, teman-teman malah ikut ter-influence buat berhemat,” katanya.

loud budgeting bukan sekadar tren media sosial. Ia mencerminkan pergeseran nilai: dari konsumsi impulsif ke pengelolaan keuangan berbasis prioritas atau value-based spending. Pola ini mendorong individu memangkas pengeluaran yang tak memberi nilai jangka panjang—seperti membeli kopi mahal setiap hari atau pakaian sekali pakai—lalu mengalihkannya ke aset produktif.

Keterbukaan menjadi kunci. Dengan menyatakan kondisi finansial apa adanya, stigma soal “tidak ikut” perlahan terkikis. Loud budgeting menormalisasi fakta bahwa keterbatasan finansial bukan aib, melainkan bagian dari strategi menuju tujuan jangka panjang.

Sekretaris Perusahaan PT Pegadaian, Dwi Hadi Atmaka menilai tren ini sebagai sinyal positif.

“Sederhananya, loud budgeting adalah shifting dari kebiasaan konsumtif menjadi lebih produktif,” ujarnya.

Ia memberi contoh sederhana. “Setiap hari beli kopi Rp20 ribu, sekarang dialihkan jadi menabung Rp20 ribu. Ini langkah kecil, tapi konsisten,” kata Aat.

Menurut dia, meningkatnya literasi finansial generasi muda terlihat jelas dari data Pegadaian. Per Desember 2025, jumlah nasabah Milenial tumbuh 49 persen secara year on year. Sementara dari kelompok Gen Z, lonjakannya bahkan mencapai 116 persen.

“Generasi muda sekarang semakin aware. Mereka paham pentingnya instrumen investasi yang aman, seperti emas yang berfungsi sebagai safe haven,” ujar Aat.

Kemudahan akses juga menjadi faktor penentu. “Lewat aplikasi Tring! by Pegadaian, masyarakat bisa menabung emas mulai Rp10 ribu, kapan saja dan di mana saja.”

Bagi nasabah Tabungan Emas Pegadaian, loud budgeting menjadi semacam “kendaraan nyaman” untuk mempercepat pertumbuhan aset. Disiplin yang dibangun dari keputusan-keputusan kecil menolak nongkrong, mengurangi belanja impulsif perlahan berbuah akumulasi nilai.

Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil IV Balikpapan, Rinaldi Lubis, menilai tren ini mencerminkan kesadaran baru masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya perencanaan finansial jangka panjang.

“Loud budgeting adalah bentuk keberanian generasi muda dalam menentukan prioritas finansialnya. Ini bukan sekadar menahan diri, tapi kesadaran untuk mengalokasikan uang pada hal-hal yang benar-benar bernilai,” kata Rinaldi.

Ia menilai semangat tersebut sejalan dengan misi Pegadaian dalam mendorong masyarakat membangun aset secara bertahap dan berkelanjutan.

“Tabungan Emas relevan karena fleksibel, terjangkau, dan mudah diakses, terutama bagi Gen Z dan Milenial,” ujarnya.

Menurut Rinaldi, berinvestasi tak harus menunggu punya uang besar.

“Dengan nominal kecil dan transaksi yang mudah lewat Tring!, konsistensi menjadi kunci. Loud budgeting bisa menjadi pintu masuk untuk membangun disiplin finansial dan kemandirian ekonomi sejak dini,” pungkasnya.

YANI | WONG

Comments are closed.