BERITAKALTIM.CO – Arus Sungai Belayan terus mengalir, membawa sisa-sisa harap yang menggantung sejak sebuah perahu ketinting kecil bertabrakan dengan kapal LCT di perairan Desa Long Beleh Modang, Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara. Empat hari lamanya, sungai itu menjadi saksi kerja sunyi puluhan orang yang tak kenal lelah menyisir air keruh demi satu nama: Arani.
Jumat pagi, 16 Januari 2026, pencarian akhirnya berakhir. Tim SAR Gabungan menemukan tubuh Arani (58) sejauh sekitar 27 kilometer dari lokasi kejadian awal, tak lagi bernyawa. Ia menjadi korban terakhir dari kecelakaan yang mengguncang warga bantaran Sungai Belayan. Jenazah Arani kemudian dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga di Rumah Duka Desa Long Beleh Modang. Dengan itu, operasi SAR resmi ditutup dan dilanjutkan dalam status kesiapsiagaan.
Pencarian tak berlangsung mudah. Sejak hari pertama, tim dihadapkan pada arus sungai yang kuat, hujan ringan yang kerap turun tiba-tiba, serta ancaman binatang buas seperti buaya yang masih berkeliaran di sekitar lokasi. Setiap penyisiran bukan sekadar soal jarak, melainkan juga soal keselamatan.
Pada hari ketiga, Kamis (15/1/2026), sejak pukul 07.00 WITA, Tim SAR Gabungan kembali bergerak setelah briefing pagi. Sungai disisir sejauh 10 kilometer ke arah hilir, mengikuti rencana operasi. Hingga sore hari, belum ada tanda-tanda korban. Pukul 18.00 WITA, pencarian dihentikan sementara, dan tim berposko di Dermaga Penyeberangan Desa Pulau Pinang, menunggu hari esok dengan harapan yang kian tipis.
Dalam kecelakaan itu, terdapat dua penumpang. Ilan (21) berhasil selamat, sementara Arani dinyatakan hilang hingga akhirnya ditemukan pada hari keempat pencarian.
Kerja Kolektif di Tengah Ancaman Alam
Puluhan personel dari berbagai unsur terlibat dalam operasi ini: Basarnas, TNI-Polri, BPBD Kutai Kartanegara, Damkarmatan Kota Bangun, pemerintah kecamatan, Pramuka Peduli, ERT PT Bayan Resources Tbk, relawan gabungan, hingga masyarakat setempat. Berbagai alat dikerahkan—dari rubber boat, speed boat, perahu ketinting warga, hingga peralatan SAR air dan medis.
Komandan Tim SAR Gabungan, Nur Ngalim, menegaskan bahwa setiap langkah pencarian dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel. Optimalisasi potensi dilakukan, namun alam tetap memegang kendali.
Bagi warga Kembang Janggut, Sungai Belayan bukan sekadar jalur transportasi. Ia adalah nadi kehidupan. Namun, tragedi ini kembali mengingatkan bahwa sungai juga menyimpan risiko yang tak kecil—terutama bagi perahu kecil yang harus berbagi ruang dengan kapal bermuatan besar.
Kini, pencarian telah usai. Sungai kembali sepi. Namun bagi keluarga Arani dan warga Long Beleh Modang, empat hari pencarian itu akan selalu tinggal sebagai ingatan tentang harapan, ketegangan, dan akhirnya, perpisahan.
WONG
Comments are closed.