BeritaKaltim.Co

OPINI | Seminar Moralitas Bendung Arus Gaul Bebas?

DI tengah gempuran tren pergaulan bebas yang kian terbuka, para pelajar di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tidak tinggal diam. Bergerak atas dasar keprihatinan mendalam, Forum Poros Pelajar Kutim menginisiasi langkah berani dengan menggelar seminar edukatif bertajuk “Seks Bebas yang Merajalela” Seminar ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan respons atas fenomena sosial yang kian mengkhawatirkan di lingkungan remaja.

Ketua Panitia, Moza Nur Salam, menegaskan bahwa minimnya pengawasan dan terbukanya arus informasi membuat pelajar rentan terjebak dalam perilaku menyimpang. “Isu seks bebas di kalangan pelajar bukan lagi hal yang bisa dianggap sepele. Ini menyangkut masa depan generasi muda, baik dari sisi benteng moral maupun risiko kesehatan yang nyata,” ujar Moza.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kutim menjadi motor penggerak sekaligus tuan rumah kegiatan ini. Arman, perwakilan IPM Kutim serta Ketua Forum OSIS Kutim, menilai bahwa selama ini pelajar sering kali tabu membahas isu seksualitas, sehingga mereka kerap mendapatkan informasi yang salah dari internet atau lingkungan yang tidak sehat.
“Pelajar perlu ruang aman untuk mendapatkan edukasi yang benar. Seminar ini kami harapkan bisa membuka wawasan sekaligus membentengi rekan-rekan dari perilaku berisiko,” ungkap Arman.

Melalui sinergi antara Forum OSIS, IPM, dan berbagai organisasi pelajar lainnya, kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak awal bagi penguatan karakter remaja di Kutai Timur agar lebih bertanggung jawab terhadap masa depan mereka sendiri. https://sangattanews.com/lawan-arus-seks-bebas-pelajar-kutai-timur-gelar-seminar-moralitas-di-awal-2026/

Perilaku gaul bebas jelas menimbulkan kecemasan akan kualitas bangsa ini pada masa yang akan datang, generasi rusak akan menghasilkan bangsa yang rusak pula. Ada banyak faktor yang menjadi penyebab maraknya seks bebas pada usia awal remaja. Faktor tersebut, baik internal maupun eksternal, semuanya saling berkelindan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, untuk menyelesaikannya tentu membutuhkan langkah yang terpadu dan menyeluruh, tidak cukup hanya dengan memberikan seminar moralitas tentang bahaya seks bebas. Bahkan justru menjadi bahaya besar bila yang diberikan adalah pendidikan seks dan reproduksi dalam model budaya Barat seperti yang dipraktekkan saat ini.

Maraknya seks bebas adalah dampak dari penerapan sistem sekularisme kapitalisme. Kebebasan dijadikan di atas segalanya hingga membuka ruang terjadinya pergaulan bebas. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, yang salah satunya menjadikan kenikmatan jasadiah sebagai tujuan kebahagiaan. Akibatnya nilai agama dikesampingkan dan hanya menjadi urusan individu. Ditambah lagi, minimnya bekal agama menjadikan para remaja kehilangan jati diri dan pegangan hidup. Wajar jika pergaulan mereka makin kebablasan dan yang lemah iman menjadi korban sistem rusak ini.

Fenomena pergaulan bebas yang mendera remaja usia sekolah ini disebabkan oleh dorongan seksual yang menuntut pemuasan. Apalagi, saat ini di dunia maya banyak konten pornografi dan pornoaksi ditayangkan, baik melalui film, sinetron, iklan, atau di kehidupan nyata. Konten ini bebas diakses oleh siapa saja, bahkan anak-anak. Akibatnya, mereka yang menyaksikan adegan tersebut akan terdorong melakukan hal serupa, apalagi di kalangan remaja labil.

Semestinya pemerintah bertindak tegas dan menjalankan kewajibannya melindungi rakyat, mereka bisa memblokir konten-konten pornografi dan pornoaksi yang jelas merusak remaja dan berdampak buruk bagi masa depan mereka. Namun, sayang seribu sayang. Sangat sulit mengharapkan penguasa dalam sistem sekularisme kapitalisme ini untuk memperhatikan urusan rakyatnya. Alhasil, keluarga muslim sendiri yang harus berusaha keras membentengi anak-anaknya dari pengaruh buruk yang makin gencar melingkupi mereka.

Adalah keniscayaan, tanpa adanya bingkai keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, hanya karena alasan adanya bahaya menurut kesehatan, malah mendorong remaja mencari cara aman secara kesehatan, seperti menggunakan pengaman atau mengkonsumsi pil kontrasepsi.

Maka keimanan dan ketakwaan adalah kunci untuk memberantas seks bebas di kalangan remaja.
Dengan kata lain, akidah Islam harus menjadi asas tidak hanya bagi setiap individu, keluarga dan masyarakat, tetapi juga asas semua pengaturan urusan kehidupan.

Oleh karena itu, sistem pendidikan, sistem pergaulan, sistem informasi termasuk pengelolaan media sosial, sistem sanksi, bahkan sistem ekonomi dan sistem politiknya harus terpadu berasaskan akidah Islam. Negara akan menutup rapat-rapat berbagai hal yang memicu rangsangan syahwat dan menghantarkan kemaksiatan. Remaja akan didorong untuk menyibukkan diri dengan amal-amal saleh dan produktif.

Remaja akan dibina menjadi pemimpin masa depan. Sistem pendidikan Islam yang diterapkan negara, akan membuat mereka mengoptimalkan masa muda demi meraih keridaan Allah Taala. Sehingga remaja muslim tak gampang terjerat syahwat yang menghinakan. Di tangan remaja-remaja muslim yang saleh inilah masa depan peradaban Islam akan kembali gemilang. Wallahualam.

Comments are closed.