BERITAKALTIM.CO – Di tengah gempuran produk impor dan ketatnya persaingan pasar global, Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Kalimantan Timur memilih jalur yang tidak gegap gempita. Alih-alih subsidi instan atau proteksi semu, Disbun meluncurkan sebuah inisiatif bernama Toko Kebun Kaltim sebuah platform yang dirancang sebagai jembatan pemasaran, kurasi, sekaligus penjamin mutu produk perkebunan lokal.
Toko Kebun Kaltim bukan sekadar etalase dagang. Ia lahir sebagai bagian dari Rencana Strategis Disbun Kaltim 2024–2026, dengan mandat jelas: memfasilitasi promosi dan pemasaran hasil perkebunan agar produk lokal tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi naik kelas menjadi produk bernilai tambah.
Kopi, kakao, gula aren, hingga lada menjadi wajah utama dari inisiatif ini. Komoditas yang selama ini kuat di hulu, namun kerap terseok di hilir akibat distribusi panjang, minim branding, dan keterbatasan akses ke pasar modern.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Disbun Kaltim, Taufiq Kurrahman, mengatakan Toko Kebun dirancang sebagai hub pemasaran bagi pekebun yang sebagian besar berada jauh dari pusat kota.
“Pekebun itu rata-rata di daerah. Distribusi jadi persoalan besar. Karena itu kami inisiasi Toko Kebun, bukan hanya sebagai outlet, tapi sebagai simpul distribusi dan promosi,” kata Taufiq saat ditemui, Kamis (22/1/2026).
Hingga kini, Toko Kebun Kaltim telah bermitra dengan sekitar 30 pelaku usaha, menghadirkan 60 varian produk olahan berbasis komoditas perkebunan. Produk-produk tersebut tidak lagi terkurung di pasar lokal terbatas, tetapi mulai menembus kanal pemasaran yang lebih mapan.
Jaringan distribusi Toko Kebun kini telah masuk ke sejumlah ritel modern di Samarinda, seperti Planet Swalayan, Auto Swalayan, dan Yugo Market. Produk juga dipasarkan melalui outlet representatif, mulai dari stand Dekranasda hingga Galeri Etham Nusantara.
Namun Disbun tidak berhenti di jalur konvensional. Produk Toko Kebun juga dipasarkan melalui platform digital dengan memanfaatkan e-commerce besar seperti Shopee dan Tokopedia. Strategi ini membuka akses pasar yang lebih luas, sekaligus menguji kesiapan pelaku usaha lokal bersaing di ruang digital.
Di sisi promosi, Toko Kebun aktif hadir dalam berbagai pameran berskala regional dan nasional, mulai dari Gerakan Pangan Murah, Kaltim Expo, Pekan Daerah dan Pekan Nasional.
Namun, akses pasar yang dibuka lebar itu tidak datang tanpa syarat. Disbun menerapkan kurasi ketat terhadap produk yang masuk dalam binaan Toko Kebun.
“Persyaratan dasarnya jelas izin PIRT dan sertifikasi halal. Itu wajib,” ujar Taufiq.
Menurut dia, standar ini penting untuk memastikan produk siap bersaing dan aman dikonsumsi.
Analis Kebijakan Disbun Kaltim, Marinda Asih Ramadhaniah, menambahkan bahwa Toko Kebun juga berperan sebagai penjamin mutu dan identitas produk.
“Setiap produk yang masuk swalayan itu ada stiker Toko Kebun. Itu semacam penjamin bahwa ini produk olahan dari kebun Kaltim,” kata Marinda.
Penjaminan ini menjadi penting, terutama untuk komoditas yang rentan dipalsukan atau dicampur, seperti gula aren. Marinda menyinggung praktik pencampuran gula aren dengan gula putih yang kerap terjadi di pasar.
“Kalau di binaan kami, itu tidak boleh. Kami punya surat pernyataan sendiri. Jadi kalau mau bergabung, harus siap mengikuti aturan,” ujarnya.
Pendekatan yang diterapkan Disbun bersifat take and give. Pelaku usaha yang bersedia mematuhi standar akan mendapatkan fasilitas, mulai dari bantuan distribusi, akses pasar modern, hingga dukungan branding. Sebaliknya, Disbun menuntut komitmen keberlanjutan.
“Kami tidak ingin main-main. Kalau mau berkelanjutan, kualitas harus dijaga. Kami membawa nama Dinas Perkebunan, jadi produk itu kami kurasi,” pungkasnya.
YANI | WONG
Comments are closed.