BERITAKALTIM.CO – Jembatan-jembatan di Kota Samarinda seolah tak pernah diberi waktu untuk bernapas. Bentangan di atas Sungai Mahakam yang menjadi struktur penghubung vital ini terus-menerus menerima petaka yang sama: ditabrak, ditabrak lagi.
Tongkang dan ponton berlalu-lalang seperti tak pernah belajar dari tabrakan dan insiden sebelumnya, Dan tentu saja hal yang sama terulang tabrakan, kerusakan, janji, lalu sunyi.
Dalam rentang Februari 2025 hingga Januari 2026, setidaknya lima kali jembatan di Samarinda menerima hantaman kapal di bentang Sungai Mahakam sepanjang hampir 1.000 kilometer. Ironisnya, seluruh insiden itu terjadi di luar jam pengolongan padahal regulasi sudah jelas membatasi pandu kapal dari pukul 06.00 hingga 18.00 WITA.
Dua infrastruktur utama Jembatan Mahakam dan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi dan mobilitas warga Samarinda, justru terlihat seperti sasaran empuk lalu lintas sungai yang tak pernah benar-benar ditertibkan.
Setiap tabrakan selalu meninggalkan jejak fisik: beton tergores, dolphin penyok, fender pengaman copot lalu tenggelam, hingga pilar yang berdiri tanpa pelindung.
Namun Hal yang paling menjadi pertanyaan justru bukan tentang beton melainkan pada pembiaran,
Tak jelas siapa yang seharusnya bertanggung jawab, Lebih tak jelas lagi siapa yang sungguh-sungguh mau menghentikan siklus ini.
Insiden terbaru terjadi Minggu pagi, 25 Januari 2026, sekitar pukul 05.00 WITA. Jembatan Mahakam Ulu kembali ditabrak tongkang lagi-lagi di luar jam pengolongan.
Kali ini, nada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terdengar lebih keras dari biasanya.Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, tak lagi menyembunyikan kejengkelannya. Dua kapal yang terlibat langsung ditahan. KSOP dan Pelindo diminta melakukan investigasi. Jembatan pun ditutup sementara, terutama bagi alat berat.
“Jembatan Kita sudah tahan sekali,yang menabrak dua-duanya kejadiannya di luar pengolongan. Mereka tambat jauh bertabrakan berdua, talinya putus dan hanyut. Alasan itu klasik. Itu urusan mereka, Urusan kita bagaimana jembatan tetap aman. Alat berat kita larang lewat. Kalau mau lewat, silakan lewat Kutai Kartanegara. Alat berat itu sebagian besar ke tambang,” ujarnya.
Pilihan pemerintah pun tegas: kepentingan publik lebih dulu. Distribusi kebutuhan masyarakat diutamakan, bukan logistik industri.
Tak berhenti di sana, Pemprov Kaltim juga menyiapkan jalur hukum.
“Kita laporkan pidana dan perdata. Ini aset provinsi. Ganti rugi wajib. Dan pidananya karena lalai mengamankan tongkang,” tegas Seno.
Tapi publik tentu bertanya: mengapa harus menunggu tabrakan kelima?
Lima Tabrakan, Satu Pola yang Sama
Rentetan insiden itu, jika ditarik ke belakang, membentuk pola yang nyaris identik.
- 16 Februari 2025, tongkang bermuatan kayu milik PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra menghantam fender pilar Jembatan Mahakam. Fender copot dan tenggelam. Pilar berdiri tanpa perlindungan hingga hari ini. Janji perbaikan disampaikan dalam rapat DPRD. Waktu berjalan. Pekerjaan baru dimulai.
- 26 April 2025, tongkang bermuatan batu bara kembali menghantam jembatan yang sama, di luar jam pandu. Tali tambat lepas. Pilar bengkok. Lagi-lagi, kerusakan dibiarkan menunggu.
- 23 Desember 2025, Mahulu mulai mencatat luka. Tongkang batu bara menghantam dua pilar sekaligus. Kapal penyok. Pilar tergores. Sungai kembali sunyi setelah insiden.
- 4 Januari 2026, tongkang tak hanya mengancam jembatan, tapi juga rumah warga. Buritan kapal menghantam dapur rumah di bantaran sungai. Warga terbangun dalam trauma.
- Dan 25 Januari 2026, tabrakan kelima kembali terjadi. Polanya sama. Waktunya sama. Dalihnya pun sama: arus deras, tali putus, kehilangan kendali.
Sungai Mahakam seolah menjadi panggung ulangan dari kelalaian yang tak pernah benar-benar dievaluasi.
Sungai yang Sibuk, Pengawasan yang Sunyi
Lima tabrakan dalam waktu kurang dari setahun bukan lagi kebetulan, Ini adalah alarm keras.
Sungai Mahakam adalah urat nadi ekonomi Kalimantan Timur. Logistik, tambang, mobilitas warga, semuanya bertumpu di sana. Lebih dari 4,2 juta jiwa menggantungkan hidupnya pada kelancaran infrastruktur ini.
Namun di tengah kepadatan lalu lintas sungai, pengawasan tampak kalah sibuk. Aturan ada, tapi jam pengolongan dilanggar. Kerusakan terlihat, tapi perbaikan tertunda. Janji diucapkan, tapi tidak terlaksana.
YANI | WONG
Comments are closed.