SETELAH nonton film Kuyank, Kamis (29/1), saya terbang ke Banjarmasin. Saya bersama M Alinoer Parewasi bergabung dengan rombongan Roy Marten yang terbang dari Jakarta. Kami memenuhi undangan mantan bupati Kota Baru Sayed Jafar Alaydrus (SJA) yang sekarang menjadi ketua DPD Partai Hanura Kalsel.
Roy Marten yang saya sebut, tak lain adalah aktor gaek berusia 73 tahun yang masih menarik perhatian. Aktor kelahiran Salatiga 1 Maret 1952 yang bernama lengkap Roy Wicaksono Abdul Salam itu tiada lain adalah ayah Gading Marten, aktor muda yang dikenal juga sebagai presenter, penyanyi, dan pengusaha.
Saya dulu tergila-gila nonton filmnya Roy Marten. Salah satu yang saya ingat betul ketika dia main di film Cintaku di Kampus Biru (CKB) tahun 1976. Film itu mengambil lokasi di kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, yang sekarang lagi heboh dengan kasus ijazah.
Waktu itu saya masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Meski CKB film drama percintaan, tapi juga menggambarkan kehidupan mahasiswa tahun 70-an. Ada adegan aksi demonya. Tahun 1974 ada peristiwa Malari, Malapetaka 15 Januari 1974. Demo besar-besaran dari mahasiswa menentang kedatangan PM Jepang Kakuei Tanaka, yang menyebabkan 11 orang tewas, 137 luka-luka dan 750 orang ditangkap.
Di CKB, Roy bermain dengan artis Rae Sita dan Yatti Octavia. Lewat film ini Roy Marten pertama kali naik daun. Film ini diadaptasi dari novel berjudul Cintaku di Kampus Biru, karya novelis Indonesia Ashadi Siregar. Kebetulan Ashadi juga alumnus kampus UGM, Bulak Sumur.
Novel lain dari Ashadi yang juga difilmkan di antaranya Kugapai Cintamu, Terminal Cinta Terakhir, dan Sang Jagoan. Roy juga menjadi bintang utama dalam film Kugapai Cintamu.
Dari pemain film, Roy juga dikenal di panggung politik. Juga pengusaha. Dia banyak kenal dengan berbagai kalangan elite. Mulai menteri sampai presiden. Juga berbagai tokoh pengusaha. Maklum dia tokoh hiburan populer. Pernah meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI 1983 dan Aktor Terfavorit Panasonic Awards.
AKRAB DENGAN ANWAR FUADY
Kami sama-sama senang datang ke Banjarmasin atas undangan SJA. “Senang sekali bisa datang ke Banjar karena ini daerah menarik dan memesona, menarik perkembangan kotanya, menarik pariwisatanya dan menarik makanannya,” kata Roy dengan wajah semringah.
Roy datang bersama dua rekannya, yaitu Ali Imron dan Rames Hasmara. Rames berdarah India, dikenal juga sebagai produser film dan pengusaha fasilitas olahraga di antaranya cabang golf. “Saya mau bikin lapangan golf bagus dekat Bandara Sepinggan Balikpapan,” kata Rames.
Sosok Bupati SJA juga tak kalah menariknya. Meski tanah kelahirannya Kota Baru, dia lama dibesarkan di Kampung Baru, Balikpapan. Dia berkembang menjadi pengusaha minyak dari Kampung Baru. Sama seperti keluarga Bani Mas’ud yang sekarang menjadi penguasa Kaltim. “Saya kenal dengan Pak Mas’ud, ayah mereka,” kata SJA.
Setelah purnatugas sebagai bupati, SJA aktif kembali sebagai pengusaha. Puluhan SPBU-nya ada di Kota Baru. Juga dia punya kapal feri penyeberangan dan dermaga dok kapal. Selain tetap aktif di panggung politik dengan memimpin Partai Hanura Kalsel.
Dulunya SJA aktif di Golkar lalu hijrah ke Hanura. “Hanura itu satu-satunya partai nasional berdarah Kalimantan. Soalnya ketua umumnya, Oesman Sapta Odang (OSO) dari Kalbar. Jadi wajib kita bela dan perjuangkan,” katanya bersemangat.
Sebagai “komandan” baru di Hanura Kalsel, selain melakukan konsolidasi organisasi, SJA secara masif mengampanyekan misi dan garis perjuangan Hanura di tengah masyarakat. Itu pula sebabnya dia juga mengundang Roy Marten yang akrab dengan pimpinan Hanura di pusat, baik dengan OSO maupun Anwar Fuady, orang film yang kini menjadi wakil ketua Dewan Penasihat DPP Hanura.
Dengan membawa Roy, masyarakat Kalsel jadi ramai menyambutnya. Sebagian besar minta foto bersama. SJA memanfaatkan momen itu dengan memperkenalkan Hanura dan menarik kader baru. “Saatnya Hanura di Kalsel merebut kursi di DPRD dan DPR RI. Tidak tertutup kemungkinan juga kursi gubernur,” jelasnya.
Roy sempat diajak ikut dalam kegiatan bakti sosial dengan menyerahkan bantuan kepada warga di Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Sebagian besar mereka terdampak musibah banjir yang terjadi beberapa waktu lalu. “Terima kasih Pak Sayed Jafar, terima kasih Pak Roy mau datang ke kampung kami,” kata warga bersemangat.
SJA juga mengajak Roy Marten berwisata kuliner. Sempat mau ke Pasar Terapung, akhirnya pesta makan Soto Bang Amat dan Lontong Sayur Orari. “Wow, enak banget,” kata Roy. Dia sempat tertawa melihat Pak Rames makan begitu lahap di Lontong Sayur Orari. Lima potong iwak haruan disikatnya. “Luar biasa,” katanya berpeluhan.
Iwak haruan atau gabus dikenal sebagai salah satu ikan air tawar Kalimantan. Nama ilmiahnya Channa striata. Berkeluarga dengan ikan toman (Channa micropeltes), yang dikenal berkhasiat untuk meningkatkan sistem imun, agar tubuh lebih kuat melawan infeksi dan penyakit. Juga menyerap kalsium lebih baik, sehingga tulang dan gigi tetap kuat.
Sekretaris DPD Hanura, Hj Syarifah Santiyansyah, SH, M.Si yang juga adik kandung SJA bersama putra SJA, Sayed Sultan Yasin Alaydrus bahu membahu mempersiapkan acara di lapangan. Hj Santi pernah di Dewan dan sangat cekatan. Sedang Sultan dipersiapkan menjadi ketua DPC Hanura Kota Baru dengan misi merebut kursi di DPRD dan maju sebagai calon bupati. “Saya siap berjuang,” katanya penuh semangat. Saat ini Sultan juga aktif menjabat sebagai wakil ketua dan bendahara DPD Laskar Muda Hanura Kalsel.
Ketika saya share foto saya bersama Roy Marten, teman-teman di Group Domino KKSS bilang saya mau diajak main film sama Roy. Apalagi saya baru saja berteman dengan sutradara film “Kuyank”, Johansyah Jumberan dan produser film Rames Hasmara. Bisa jadi judulnya “Mantan Wali Kota.” He…(*)
Comments are closed.