BERITAKALTIM.CO-Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mencatatkan struktur perekonomian terbesar di Pulau Kalimantan pada 2025 dengan kontribusi mencapai 46,31 persen. Capaian tersebut didorong oleh pertumbuhan tinggi pada sejumlah lapangan usaha, khususnya sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur Mas’ud Rifai mengatakan, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi di Kaltim sepanjang 2025, yakni mencapai 13,03 persen.
“Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi di Kaltim pada 2025 yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh sebesar 13,03 persen,” ujar Mas’ud Rifai di Samarinda, Kamis.
Ia menjelaskan, pertumbuhan sektor tersebut dipicu oleh meningkatnya jumlah usaha food and beverage (FnB), terselenggaranya berbagai festival kuliner, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sembilan kabupaten/kota, serta meningkatnya kunjungan wisatawan ke Kalimantan Timur.
Selain sektor akomodasi dan makan minum, pertumbuhan ekonomi Kaltim juga ditopang oleh lapangan usaha industri pengolahan yang tumbuh 12,68 persen, serta jasa lainnya yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,53 persen.
Secara cumulative to cumulative (c-to-c), Rifai menyebutkan tiga dari lima lapangan usaha utama pembentuk ekonomi Kaltim menunjukkan kinerja positif, yakni industri pengolahan, pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta perdagangan.
Namun demikian, sektor pertambangan dan penggalian pada 2025 mengalami kontraksi sebesar 0,11 persen, yang dipengaruhi oleh penurunan produksi komoditas strategis seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara.
Rifai menambahkan, pertumbuhan industri pengolahan mengalami percepatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut didorong oleh optimalisasi produksi pengilangan migas, industri pupuk dan bahan kimia, ekspansi industri pengolahan minyak kelapa sawit dan hilirisasi, serta mulai beroperasinya industri barang galian bukan logam.
Sementara itu, lapangan usaha konstruksi mengalami kontraksi sebesar 0,17 persen akibat kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, yang berdampak pada berkurangnya intensitas pembangunan fisik dari APBN maupun APBD.
Meski demikian, kehadiran Proyek Strategis Nasional (PSN) berupa Refinery Development Master Plan yang telah diresmikan pada 12 Januari 2026 turut memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Kaltim.
“Meskipun aktivitas pembangunan dari pemerintah menurun, realisasi pembangunan fisik oleh sektor swasta dan aktivitas konstruksi lainnya masih berlangsung sehingga dapat meminimalisir laju kontraksi pada sektor konstruksi,” ujar Rifai.
ANTARA|Wong|Ar
Comments are closed.