BeritaKaltim.Co

Kemiskinan Kaltim Masuk Tujuh Terendah Nasional, Ini Penjelasan BPS

BERITAKALTIM.CO-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur (Kaltim) terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, seiring tingginya serapan tenaga kerja di berbagai lapangan usaha strategis.

Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai mengatakan sektor yang berperan besar dalam menekan angka kemiskinan antara lain perdagangan, pertanian, penyediaan akomodasi dan makan minum, serta konstruksi.

“Angka kemiskinan Kalimantan Timur berada di posisi tujuh terendah secara nasional. Angka terendah ada di Provinsi Bali sebesar 3,42 persen, sedangkan tertinggi di Papua Tengah sebesar 29,45 persen,” ujar Mas’ud di Samarinda, Jumat.

Ia menjelaskan tren penurunan kemiskinan Kaltim terlihat sejak September 2022, dengan persentase sebesar 6,44 persen atau 242,3 ribu jiwa. Angka tersebut terus menurun menjadi 6,11 persen atau 231,07 ribu jiwa pada Maret 2023, lalu 5,78 persen atau 221,34 ribu jiwa pada Maret 2024.

Pada September 2024, jumlah penduduk miskin kembali turun menjadi 211,88 ribu jiwa atau 5,17 persen, dan pada Maret 2025 tercatat 199,71 ribu jiwa atau 5,17 persen. Namun, pada September 2025 terjadi sedikit kenaikan menjadi 202,04 ribu jiwa atau 5,19 persen.

“Secara umum, tren persentase dan jumlah penduduk miskin di Kalimantan Timur menurun dari September 2022 hingga Maret 2025, meskipun pada September 2025 terdapat sedikit kenaikan,” katanya.

Mas’ud juga menyoroti adanya kesenjangan kemiskinan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada September 2025, tingkat kemiskinan di perdesaan mencapai 7,24 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 4,31 persen.

Sementara pada Maret 2025, tingkat kemiskinan perdesaan tercatat 7,48 persen, lebih tinggi dibandingkan perkotaan yang sebesar 4,16 persen.

Penduduk miskin didefinisikan sebagai penduduk dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan (GK). BPS mencatat GK Kaltim mengalami kenaikan 3,64 persen dari Rp866.193 per kapita per bulan pada Maret 2025 menjadi Rp897.759 per kapita per bulan pada September 2025.

Mas’ud menambahkan bahwa komoditas makanan masih menjadi faktor dominan dalam pembentukan garis kemiskinan.

“Pada September 2025, komoditas makanan menyumbang 70,13 persen terhadap garis kemiskinan, sedangkan komoditas bukan makanan hanya 29,87 persen,” katanya.

ANTARA|Wong|Ar

 

Comments are closed.