BERITAKALTIM.CO-Ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Israel versus Iran mencapai titik kritis pada Sabtu (28/2), ketika Amerika Serikat secara resmi melancarkan serangan militer ke Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan operasi tempur besar-besaran dilakukan untuk melenyapkan ancaman langsung dari rezim Iran. Serangan itu terjadi setelah Israel lebih dulu melancarkan serangan preemptif terhadap Iran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan besar dan korban jiwa, termasuk gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989.
Diplomasi Mandek
Sebelum eskalasi militer, perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan AS yang dimediasi Oman sempat menunjukkan kemajuan.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyayangkan peluang diplomasi yang dinilai telah disia-siakan. Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB di New York, ia mendesak penghentian permusuhan dan kembalinya semua pihak ke meja perundingan.
Kronologi Eskalasi dan Korban
Serangan udara dan laut AS-Israel menghantam sejumlah sasaran di Teheran dan wilayah selatan Iran. Media lokal menyebut sekitar 160 orang tewas dalam satu serangan terhadap fasilitas pendidikan.
Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) mengumumkan operasi ofensif besar-besaran dan menyerang 27 titik strategis, termasuk pangkalan udara Tel Nof di Israel serta fasilitas militer AS di kawasan.
Palang Merah Iran melaporkan sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya luka-luka akibat serangan AS. Sementara IRGC mengklaim ratusan personel militer AS menjadi korban dalam serangan balasan Iran.
Situasi memanas setelah IRGC menyatakan penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.
Respons Dunia
Rusia dan China mengecam serangan tersebut dan menuntut penghormatan terhadap kedaulatan Iran. Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia memfasilitasi dialog demi meredakan ketegangan.
Dampak Global
Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu sekitar 20 persen pasokan minyak harian dunia. Pasar saham global mulai melemah dan harga minyak melonjak akibat kekhawatiran terganggunya suplai energi.
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Muhammad Syaroni Rofii, menilai eskalasi konflik masih mungkin berlanjut dalam beberapa hari ke depan, kecuali ada tekanan kuat untuk gencatan senjata.
Ia menegaskan bahwa stabilitas kawasan sangat bergantung pada keputusan politik di Washington dan Tel Aviv.
ANTARA|Wong|Ar
Comments are closed.