BERITAKALTIM.CO- Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3), terus berupaya memperkuat sektor pertanian meski memiliki keterbatasan lahan produksi. Saat ini, luas lahan sawah yang siap ditanami di Balikpapan hanya sekitar 40 hektare dari total kawasan pertanian yang tersedia.
Kepala DKP3 Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan keberadaan petani di Balikpapan tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Balikpapan Timur, Balikpapan Utara, Balikpapan Barat, Balikpapan Selatan hingga Balikpapan Tengah. Namun, luas lahan pertanian yang terbatas membuat produksi pangan lokal belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kota.
“Petani di Balikpapan tersebar di beberapa wilayah. Tapi lahan sawah kita memang terbatas,” ujar Sri Wahjuningsih, saat ditemui di Balai Kota pada hari Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menjelaskan total lahan yang masuk dalam Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) di Balikpapan mencapai sekitar 98 hektare. Namun dari jumlah tersebut, baru sekitar 40 hektare yang sudah siap ditanami, karena telah memiliki pematang sawah.
Sementara sekitar 58 hektare lainnya masih berupa lahan dengan vegetasi lebat sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Yang sudah siap ditanami sekitar 40 hektare. Sisanya sekitar 58 hektare masih berupa vegetasi berat, sehingga perlu dilakukan penataan secara bertahap,” jelasnya.
Oleh karena itu, pemerintah kota berencana melakukan rehabilitasi lahan sawah untuk meningkatkan kapasitas produksi pertanian di wilayah tersebut.
Menurut Sri, rehabilitasi berbeda dengan program cetak sawah baru. Rehabilitasi dilakukan pada lahan yang sebelumnya sudah berfungsi sebagai sawah namun membutuhkan perbaikan agar kembali produktif.
“Kalau cetak sawah itu dari lahan yang sebelumnya bukan sawah menjadi sawah. Sementara yang kita rencanakan lebih ke rehabilitasi lahan yang sudah ada,” katanya.
Keterbatasan lahan pertanian juga berdampak pada tingginya ketergantungan Balikpapan terhadap pasokan pangan dari daerah lain. Sri menyebut sekitar 90 persen kebutuhan pangan kota masih dipasok dari luar daerah.
Bahkan untuk komoditas beras, Balikpapan sepenuhnya bergantung pada pasokan dari daerah lain. “Kalau beras, ketergantungan kita bisa dibilang hampir 100 persen dari daerah lain,” ujarnya.
Produksi padi dari lahan sawah yang ada di Balikpapan umumnya hanya mencukupi kebutuhan para petani sendiri atau dijual kepada Perum Bulog, untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah.
Saat ini Bulog juga memberikan jaminan harga bagi gabah petani, yakni sekitar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan tersebut dinilai cukup membantu petani dalam menjaga stabilitas harga hasil panen. “Petani biasanya senang kalau gabahnya dibeli Bulog karena ada kepastian harga,” katanya.
Berbagai keterbatasan tersebut, Pemerintah Kota Balikpapan tetap berupaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian melalui penguatan kapasitas petani, pendampingan kelompok tani, serta optimalisasi lahan pertanian yang tersedia.
NIKEN | WONG | ADV DISKOMINFO BALIKPAPAN
Comments are closed.