BeritaKaltim.Co

Ketika Polisi Beli Dagangan Mama-Mama Papua di Pasar Sinak

BERITAKALTIM.CO – Pagi itu, Pasar Distrik Sinak di Papua tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawar-menawar bercampur dengan langkah kaki pembeli yang hilir mudik di antara lapak sederhana para pedagang. Namun, ada pemandangan yang sedikit berbeda.

Di tengah aktivitas pasar, sejumlah personel Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 terlihat berjalan menyusuri lorong-lorong lapak. Bukan sekadar patroli keamanan, kehadiran mereka membawa pendekatan yang lebih personal—dan bagi sebagian warga, lebih bermakna.

Para aparat tidak hanya memantau situasi kamtibmas. Mereka berhenti, berbincang, bahkan membeli hasil bumi yang dijual para pedagang, terutama mama-mama Papua yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil kebun sederhana.

Sayur-mayur, umbi-umbian, hingga hasil tani lokal yang biasanya tak habis terjual, hari itu perlahan berpindah tangan.

“Biasanya kalau tidak habis, kami bawa pulang lagi. Tapi hari ini banyak yang terbeli,” ujar seorang pedagang, dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan rasa lega.

Apa yang terjadi di Pasar Sinak bukan sekadar transaksi ekonomi kecil. Di balik itu, ada pendekatan yang sedang dibangun—pendekatan yang mencoba menggeser cara lama dalam menjaga keamanan.

Satgas Operasi Damai Cartenz tidak hanya hadir sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.

Melalui patroli dialogis yang humanis, mereka membuka ruang interaksi yang lebih hangat. Percakapan sederhana, sapaan ringan, hingga aksi membeli dagangan warga menjadi jembatan yang mempertemukan dua dunia yang selama ini sering berjarak.

Kepercayaan yang Dibangun Perlahan

Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Irjen Pol. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa keamanan tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat.

“Ketika masyarakat merasa diperhatikan, maka kepercayaan akan tumbuh, dan situasi kamtibmas pun akan lebih kondusif,” ujarnya.

Pernyataan itu menemukan bentuk konkretnya di pasar. Di tempat sederhana itulah, kepercayaan tidak dibangun lewat slogan, melainkan melalui tindakan kecil yang langsung dirasakan.

Wakil Kepala Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol. Adarma Sinaga, menambahkan bahwa pendekatan yang menyentuh aktivitas ekonomi masyarakat menjadi langkah nyata untuk mempererat hubungan antara aparat dan warga.

“Pendekatan seperti ini kami dorong agar kehadiran personel benar-benar dirasakan manfaatnya,” katanya.

Pasar Sinak hari itu bukan hanya tempat jual beli. Ia menjadi ruang pertemuan—antara aparat dan masyarakat, antara keamanan dan kesejahteraan.

Di sana, relasi yang biasanya formal berubah menjadi lebih cair. Tidak ada sekat seragam atau status. Yang ada hanyalah interaksi manusiawi: berbicara, membeli, dan saling memahami.

Bagi para mama-mama Papua, kehadiran aparat yang membeli dagangan mereka mungkin terlihat sederhana. Namun di balik itu, ada rasa dihargai, diperhatikan, dan diakui.

Pendekatan humanis seperti ini bukan solusi instan. Ia membutuhkan konsistensi, kehadiran yang berkelanjutan, dan komitmen untuk terus mendekatkan diri dengan masyarakat.

Namun langkah kecil di Pasar Sinak menunjukkan satu hal: bahwa keamanan tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang kaku. Ia juga bisa datang melalui empati—melalui tindakan sederhana yang memberi dampak nyata.

Di tengah dinamika Papua yang kompleks, pendekatan seperti ini mungkin bukan jawaban tunggal. Tapi setidaknya, ia membuka jalan baru—jalan yang dimulai dari pasar, dari percakapan, dan dari rasa saling percaya.

WONG

 

Comments are closed.