BeritaKaltim.Co

Tiga kapal China berhasil lintasi Selat Hormuz

BERITAKALTIM.CO –  Pemerintah China mengonfirmasi tiga kapal milik Tiongkok berhasil melintasi Selat Hormuz di tengah blokade selat sempit tersebut.

“Setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, tiga kapal China baru-baru ini melintasi Selat Hormuz,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Selasa.

Dua kapal kontainer milik raksasa pelayaran China, Cosco yaitu kapal CSCL Indian Ocean melintasi selat tersebut sekitar pukul 09.14 GMT pada Senin (30/3), diikuti oleh CSCL Arctic Ocean 27 menit kemudian menurut data “platform” pelacakan kapal MarineTraffic.

Keduanya melewati dekat pulau Larak yang dikuasai Iran dan menuju Port Klang di Malaysia.

“Kami menyampaikan apresiasi atas bantuan dari pihak-pihak terkait. Selat Hormuz dan perairan di sekitarnya merupakan jalur penting untuk perdagangan barang dan energi internasional,” tambah Mao Ning.

Mao Ning menyebut China menyerukan penghentian segera permusuhan untuk memulihkan perdamaian dan stabilitas di kawasan Teluk.

Cosco mengatakan bahwa mereka melanjutkan pemesanan untuk pengiriman dari Asia ke beberapa negara Teluk, meskipun tanpa menggunakan rute yang melintasi Hormuz. Perusahaan yang berbasis di Shanghai tersebut telah menangguhkan pemesanan untuk layanan melalui selat tersebut pada awal Maret karena perang.

Sebelumnya, Komisi Keamanan Nasional di parlemen Iran telah menyetujui rencana penerapan tarif transit menggunakan mata uang nasional Iran bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Menurut laporan kantor berita Fars, salah satu anggota komisi, Mojtaba Zarei, menyatakan bahwa rancangan undang-undang tersebut juga mencakup pembatasan terhadap kapal yang berhubungan dengan Amerika Serikat dan Israel untuk melintasi selat tersebut.

Ketentuan tambahan dalam rancangan tersebut juga akan melarang akses bagi negara-negara yang bergabung dalam sanksi sepihak terhadap Iran.

Meski telah disetujui di tingkat komite, rancangan itu masih harus melalui pemungutan suara penuh di parlemen, sebelum ditinjau oleh Dewan Garda dan ditandatangani presiden untuk dapat menjadi undang-undang.

Namun, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa tuntutan Iran agar Amerika mengakui kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, dalam perundingan yang sedang berlangsung, tidak dapat diterima.

Ketegangan regional terus meningkat sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari lalu hingga menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk, yang menjadi lokasi aset militer milik Amerika.

Eskalasi di sekitar Iran juga telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.

Selat Hormuz telah mengalami gangguan secara efektif sejak awal Maret, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap harinya atau sekitar 20 persen dari pasokan global sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di sebagian besar negara di dunia.

Harga minyak berjangka di New York Mercantile Exchange (Nymex) naik lebih dari 3 persen setelah berita tersebut dan diperdagangkan pada 106,05 dolar AS per barel pada pukul 23.37 GMT (06.37 WIB).

Minyak mentah Brent diperdagangkan pada 115,35 dolar AS per barel pada pukul 23.06 GMT (06.06 WIB) naik 2,57 persen.

ANTARA | WONG

Comments are closed.