BeritaKaltim.Co

Inflasi Balikpapan Melandai Saat Ramadan, PPU Justru Naik di Tengah Lonjakan Permintaan

BERITAKALTIM.CO- Dinamika harga di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan tren berbeda selama Ramadan dan menjelang Idulfitri 2026. Kota Balikpapan mencatat inflasi yang melandai, sementara Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mengalami peningkatan seiring lonjakan permintaan masyarakat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Balikpapan pada Maret 2026 tercatat inflasi sebesar 0,51 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Sebaliknya, Kabupaten PPU mencatat inflasi lebih tinggi, yakni 1,09 persen (mtm), didorong meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan berada di angka 2,95 persen (year on year/yoy) dan PPU sebesar 3,02 persen (yoy). Keduanya masih lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 3,31 persen serta nasional 3,48 persen.

“Ini menunjukkan inflasi di daerah masih relatif terkendali, meskipun ada tekanan permintaan musiman,” ujarnya, pada hari Jumat, 10 April 2026.

Di Balikpapan, tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Sejumlah komoditas utama yang memicu kenaikan harga antara lain bensin, cabai rawit, ikan layang, bahan bakar rumah tangga, dan daging ayam.

Kenaikan harga bensin dipengaruhi penyesuaian harga BBM sejak awal Maret, sementara cabai dan ikan mengalami lonjakan akibat terganggunya pasokan karena cuaca dan meningkatnya permintaan selama Ramadan.

Namun, tekanan inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga beberapa komoditas seperti emas perhiasan, sayuran (sawi hijau dan kangkung), parfum, serta tas sekolah.

Sementara itu di PPU, inflasi lebih tinggi dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan, terutama ikan tongkol, cabai rawit, terong, semangka, dan tomat. Faktor utama penyebabnya adalah keterbatasan pasokan akibat cuaca serta tingginya permintaan.

Meski demikian, beberapa komoditas juga mencatat penurunan harga, seperti daging ayam ras, minyak goreng, dan sayuran, berkat peningkatan pasokan dan intervensi pemerintah melalui program stabilisasi harga.

Robi mengingatkan, ke depan terdapat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari potensi kemarau panjang, gangguan distribusi akibat cuaca, hingga ketergantungan pasokan dari luar daerah.

Selain itu, fluktuasi harga energi global dan dinamika geopolitik juga berpotensi memengaruhi inflasi daerah.

Di sisi lain, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Balikpapan yang mencapai 135,7 pada Maret 2026, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. “Ini menandakan masyarakat masih yakin terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ke depan,” jelasnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat sinergi. Berbagai langkah telah dilakukan, mulai dari gerakan pangan murah, pasar murah, hingga penguatan koordinasi lintas instansi menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.

Ke depan, strategi pengendalian inflasi akan difokuskan pada empat aspek utama, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

“Sinergi ini penting agar inflasi tetap berada dalam sasaran nasional dan daya beli masyarakat tetap terjaga,” tutupnya.

NIKEN | WONG

Comments are closed.